Jejak Operasi Intelijen China di AS, Awasi Para Diaspora
- Sebuah gedung perkantoran berpanel kaca di kawasan Chinatown Manhattan, yang semula diklaim sebagai pusat komunitas ekspatriat, terbukti menjadi kedok operasi intelijen ilegal.
Biro Investigasi Federal (FBI) menggerebek tempat tersebut setelah mencurigai adanya aktivitas pengawasan rahasia.
Pekan ini, Lu Jianwang (64), presiden sebuah kelompok komunitas Tionghoa yang mengelola kantor itu, dinyatakan bersalah oleh pengadilan di Brooklyn karena bertindak sebagai agen asing tidak sah untuk China.
Hanya berselang beberapa hari sebelum vonis Lu dijatuhkan, Wali Kota Arcadia, Eileen Wang, mengaku bersalah atas pelanggaran sejenis, seperti dikutip dari BBC, Minggu (17/5/2026).
Baca juga: KTT Trump-Xi Minim Hasil, Rivalitas AS-China Dinilai Masuk Babak Baru
Wang mengakui bahwa dirinya telah mengunggah konten propaganda di sebuah situs yang menyasar komunitas Tionghoa-Amerika, di bawah instruksi langsung dari pemerintah China.
Dua vonis berturut-turut ini mengemuka di pekan yang sama saat Presiden Donald Trump bertolak ke Beijing untuk mengadakan pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping.
Dalam KTT tersebut, kedua pemimpin lebih memilih memfokuskan pembicaraan pada sektor perdagangan dan menghindari topik sensitif seperti isu spionase.
Kendati demikian, para pengamat menilai dua kasus di AS ini menegaskan agresivitas Beijing dalam memperluas pengaruh terselubung mereka di luar negeri dalam satu dekade terakhir.
Baca juga: Usai Trump, Giliran Putin ke China pada 19-20 Mei
Kedok pusat layanan
Dalam persidangan yang berlangsung selama satu minggu di Brooklyn, Lu Jianwang terancam hukuman hingga 30 tahun penjara akibat keterlibatannya mendirikan kantor polisi ilegal.
Rekan terdakwa Lu, Chen Jinping sebelumnya telah lebih dulu mengaku bersalah atas dakwaan membantu mendirikan pusat kegiatan tersebut.
China dituduh telah mengoperasikan setidaknya 100 stasiun kepolisian bayangan serupa yang tersebar di 53 negara, termasuk satu kasus petugas imigrasi Inggris yang baru-baru ini divonis bersalah karena bekerja untuk intelijen China.
Pemerintah China melalui Kementerian Keamanan Publik secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan berdalih bahwa fasilitas itu dikelola sukarelawan untuk urusan administrasi warga negara mereka di luar negeri.
Baca juga: Dua Gadis Gen Z China Jadi Sniper Andal, Kalahkan 79 Pria
Di London, investigasi kepolisian lokal bahkan menyimpulkan tidak ada aktivitas kriminal di pos sejenis.
Pengacara Lu, John Carman, juga menegaskan kliennya hanya berniat memfasilitasi perpanjangan SIM serta kegiatan sosial seperti mahjong dan ping pong.
Namun, jaksa penuntut AS berhasil membuktikan fungsi lain dari kantor tersebut. Lu diketahui memanfaatkan gedung itu untuk memantau para kritikus Beijing di luar negeri.
Salah satu instruksi dari pejabat China kepada Lu adalah memverifikasi keberadaan Xu Jie, seorang pembangkang lama yang melarikan diri ke AS sejak 2013.
Baca juga: Delegasi AS Buang Semua Barang dari China Usai Kunjungan Kenegaraan
Kampanye spionase global Beijing
Ilustrasi.
Operasi penindakan terhadap kelompok oposisi di luar negeri hanyalah salah satu bagian dari kampanye spionase berskala besar yang dijalankan oleh China.
Profesor dari Universitas Georgetown sekaligus mantan petugas CIA selama 34 tahun, Douglas London, menyebutkan bahwa kampanye ini juga mencakup peretasan serta pencurian rahasia militer dan teknologi sensitif.
Peneliti senior di Asia Society Policy Institute, Lyle Morris menambahkan, Beijing mengandalkan jaringan birokrasi dan pendanaan yang sangat luas untuk menjalankan pengaruh globalnya.
Langkah Beijing mengawasi para pembangkang di seluruh dunia berakar dari kekhawatiran bahwa kritik domestik dapat mengancam stabilitas politik negara.
Baca juga: Trump Pulang dari Beijing, China Langsung Pesan 200 Pesawat Boeing
Peneliti Global China Hub Atlantic Council, Claire Chu menilai, pemerintah China meyakini gerakan perbedaan pendapat tersebut sengaja ditunggangi oleh negara-negara Barat demi mencoreng citra internasional China.
“China melihat motif tersembunyi ketika negara-negara Barat menyediakan platform bagi para pembangkang yang mengkritik keras pemerintah China dan tidak menerima argumen bahwa suara-suara tersebut merupakan bagian dari demokrasi yang sehat berdasarkan kebebasan berbicara,” urai Morris.
Untuk membungkam suara-suara kritis tersebut, intelijen China menerapkan beragam, mulai dari pelacakan ponsel hingga merekrut sesama pembangkang untuk saling memata-matai.
Metode ini menempatkan keluarga para pembangkang yang masih bermukim di China dalam posisi rentan terhadap tekanan dan intimidasi langsung dari otoritas pemerintah.
Baca juga: Mewah tapi Minim Hasil, Ini Poin Penting Kunjungan Dua Hari Trump ke China
Target politik lokal
Selain mengawasi para pembangkang, Beijing secara sistematis berupaya mendekati figur-figur potensial dalam ekosistem pemerintahan dan bisnis di AS.
Kasus Wali Kota Arcadia, Eileen Wang, menjadi contoh konkret bagaimana politisi lokal dijadikan target pengaruh.
Jaksa penuntut mengungkapkan Wang, menerbitkan esai pesanan yang menarasikan bahwa tidak ada genosida ataupun kerja paksa terhadap etnis Muslim Uyghur di provinsi Xinjiang.
Baca juga: Selesai Kunjungi China, Donald Trump Peringatkan Taiwan Jangan Merdeka
Ini merupakan narasi yang bertolak belakang dengan kecaman komunitas internasional mengenai kamp penahanan massal berkedok "pendidikan ulang" di wilayah tersebut.
Bagi penegak hukum di AS, skala operasi spionase yang masif membuat kejaksaan harus selektif dan memprioritaskan kasus-kasus yang paling berdampak besar.
Para pakar memproyeksikan aktivitas intelijen dari China tidak akan mengendur dalam waktu dekat.
"Jelas, dengan kasus-kasus yang terjadi minggu ini, saya rasa kita tidak melihat penurunan di sini," ujar Wakil Direktur Center for Strategic and International Studies, Lauryn Williams.
Tag: #jejak #operasi #intelijen #china #awasi #para #diaspora