Mojtaba Khamenei ''Hilang'' Saat Krisis Negosiasi, Faksi Garis Keras Mulai Gelisah
- Para penguasa Iran disebut menghadapi dilema saat mereka berupaya menegosiasikan akhir perang. Sebab, pemimpin tertinggi mereka tampak "menghilang" dan bungkam mengenai perundingan tersebut.
Mojtaba Khamenei, yang mewarisi posisi Pemimpin Tertinggi Iran setelah kematian ayahnya, Ali Khamenei, hingga kini belum menampakkan diri secara fisik
Ketidakhadiran sosok yang menjadi penentu akhir keputusan keamanan nasional ini dilaporkan mulai mengancam koalisi internal Teheran.
Absennya Mojtaba dari ruang publik menciptakan kegelisahan mendalam di kalangan pendukung garis keras rezim.
Baca juga: Pertama Kali, Iran Ungkap Kondisi Mojtaba Khamenei secara Rinci
Faksi garis keras dan keraguan legitimasi
Sejarawan dari Universitas Yale, Arash Azizi mencatat bahwa kelompok pro-pemerintah mulai mempertanyakan siapa sebenarnya yang memegang kendali di meja perundingan.
Mereka khawatir, politisi moderat seperti Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf akan memberikan terlalu banyak konsesi kepada AS tanpa pengawasan langsung dari Pemimpin Tertinggi.
"Mereka bertanya-tanya di mana dia berada. Mereka kecewa melihat Ghalibaf dan tim Dewan Keamanan Nasional memimpin negosiasi dan memberikan terlalu banyak konsesi," ungkap Azizi setelah meninjau diskusi internal kelompok garis keras tersebut, dikutip dari The Wall Street Journal, Minggu (10/5/2026).
Pada masa lalu, Pemimpin Tertinggi selalu hadir sebagai penengah faksi dan pemberi restu terakhir, seperti saat Ayatollah Khomeini memutuskan mengakhiri perang Iran-Irak atau saat Ali Khamenei menyetujui pakta nuklir 2015.
Baca juga: Iran Tepis Rumor Mojtaba Khamenei “Menghilang”, Dilaporkan Beri Arahan Militer
Upaya menepis isu kematian
Menghadapi tekanan yang kian meningkat, pemerintah Iran mulai melakukan langkah-langkah untuk membuktikan bahwa Mojtaba masih hidup.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian baru-baru ini mengeklaim telah bertemu dengan Mojtaba selama 2,5 jam.
Namun, pesan publik ini dinilai lebih bersifat simbolis untuk menepis isu kematian ketimbang memberikan substansi kebijakan.
Baca juga: Sempat Jadi Teka-teki, Presiden Iran Akhirnya Ungkap Pertemuan dengan Mojtaba Khamenei
Asisten profesor di University of Tennessee, Saeid Golkar menilai langkah Pezeshkian bertujuan untuk meyakinkan oposisi dan pendukung bahwa Mojtaba hanya bersembunyi demi keamanan, bukan karena telah tiada.
“Ini penting karena Republik Islam sedang mengupayakan kesepakatan,” ujar Golkar.
Senada, pejabat senior di kantor Pemimpin Tertinggi, Mazaher Hosseini akhirnya mengakui, Mojtaba mengalami cedera pada tempurung lutut dan punggung akibat serangan udara, namun menegaskan kesehatannya dalam kondisi baik.
Ia berdalih, musuh sedang mencoba memancing rekaman audio atau video Mojtaba untuk tujuan manipulasi.
Baca juga: Tak Bisa Dinego, Mojtaba Khamenei Berkukuh Pertahankan Nuklir Iran
Kepemimpinan dari balik layar
Tentara Iran berdiri di depan potret Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam kampanye untuk menggalang solidaritas dan dukungan untuknya, di Teheran pada 29 April 2026.
Hingga saat ini, komunikasi Mojtaba terbatas pada pernyataan tertulis di akun X miliknya yang banyak membahas tema persatuan nasional dan retorika keras terhadap kehadiran asing di Selat Hormuz.
Isi pesan yang terlalu umum membuat banyak warga Teheran meragukan apakah Mojtaba benar-benar menyusun pesan tersebut atau sekadar menjadi figur simbolis yang dijalankan oleh pihak lain.
Bagi sebagian pakar, kondisi ini mencerminkan strategi bertahan hidup.
Alex Vatanka dari Middle East Institute menyebutkan, bagi pendukung rezim, poster Mojtaba lebih mewakili kelangsungan Iran daripada sosok pribadinya sendiri.
“Mereka tidak akan bosan memajang poster dirinya, karena poster itu mewakili Republik Islam, bukan Mojtaba,” kata dia.
Tag: #mojtaba #khamenei #hilang #saat #krisis #negosiasi #faksi #garis #keras #mulai #gelisah