Proyek Kereta Tercepat di Dunia Milik Jepang, Benarkah Lebih Cepat Dari Pesawat?
KOMPAS.COM - Bicara soal inovasi teknologi transportasi, Jepang memang gak pernah ada matinya.
Setelah sukses memukau dunia dengan jaringan Shinkansen atau kereta peluru legendarisnya, kini Negeri Sakura tengah bersiap memecahkan rekor baru lewat proyek megah kereta tercepat di dunia berbasis teknologi pencantuman magnetik (Maglev).
Kereta masa depan bernama L0 Series Shinkansen ini diklaim mampu melesat hingga kecepatan yang bikin geleng-geleng kepala, yakni mencapai 603 km/jam!
Angka fantastis ini tentu memicu pertanyaan besar di kalangan pencinta traveling, benarkah era baru kereta cepat ini bakal menyaingi efisiensi waktu perjalanan menggunakan pesawat terbang?
Melansir laporan Euronews Travel pada (31/5/26), proyek ambisius ini tidak hanya menjadi bahan perbincangan hangat di Asia, tetapi juga memicu perdebatan di Eropa mengenai masa depan transportasi darat mereka.
Baca juga: Tiket Kereta Laris Manis Saat Long Weekend, Penjualan Capai 1,1 Juta Kursi
Proyek kereta cepat komersial jarak jauh ini dikenal dengan nama Chuo Shinkansen, yang nantinya akan menghubungkan dua kota megapolitan utama di Jepang, yaitu Tokyo dan Osaka.
Bayangkan saja, rute Tokyo ke Nagoya yang biasanya memakan waktu sekitar 1,5 jam menggunakan Shinkansen konvensional, nantinya bisa ditempuh hanya dalam waktu 40 menit saja!
Sementara itu, perjalanan penuh dari Tokyo menuju Osaka yang berjarak sekitar 500 kilometer bakal terpangkas menjadi hanya 67 menit.
Kereta cepat Jepang, Shinkansen.
Jika dibandingkan dengan pesawat terbang, secara kecepatan murni di udara, pesawat komersial memang masih lebih unggul karena rata-rata melesat di angka 800–900 km/jam.
Namun, kalau kita menghitung total waktu perjalanan mulai dari perjalanan menuju bandara yang jauh di pinggir kota, proses check-in, pemeriksaan keamanan yang ketat, bagasi, hingga boarding maka naik kereta Maglev yang stasiunnya berada persis di pusat kota dinilai jauh lebih cepat, praktis, dan bebas repot!
Baca juga: Mengintip Stasiun Kereta Terbesar di Dunia di China, Luasnya Setara 170 Lapangan Bola
Bagaimana Cara Kerja Teknologi Maglev?
Kata "Maglev" sendiri merupakan singkatan dari Magnetic Levitation (Pencantuman Magnetik).
Berbeda dengan kereta biasa atau Shinkansen ramah lingkungan saat ini yang masih menggunakan roda dan menyentuh rel besi, kereta Maglev L0 Series benar-benar melayang sekitar 10 sentimeter di atas lintasan beton khusus (guideway).
Teknologi ini memanfaatkan kekuatan magnet yang saling tolak-menolak untuk mengangkat badan kereta, sekaligus dorongan magnetik maju-mundur untuk melesatkannya dengan kecepatan tinggi.
Karena tidak ada gesekan fisik antara roda kereta dan rel, kendaraan ini mampu melaju super cepat tanpa hambatan mekanis, sekaligus memberikan sensasi perjalanan yang sangat halus, minim getaran, dan kedap suara bagi para penumpangnya.
Baca juga: Penumpang Kereta di Stasiun Kutoarjo Diajak Pakai Face Recognition
Akankah Teknologi Super Cepat Ini Masuk ke Eropa?
Melihat kesuksesan uji coba Jepang, banyak pengamat transportasi di Eropa mulai bertanya-tanya, Mungkinkah benua biru mengadopsi teknologi yang sama untuk menghubungkan kota-kota besar mereka?
Menurut laporan Euronews, meskipun Eropa sangat gencar mengampanyekan perpindahan moda transportasi dari pesawat ke kereta demi menekan emisi karbon, peluang masuknya proyek Maglev ala Jepang ke Eropa dalam waktu dekat terbilang cukup kecil. Ada beberapa alasan kuat di baliknya:
Biaya Investasi yang Terlalu Fantastis, membangun jalur Maglev artinya harus membangun infrastruktur baru dari nol.
Jalur ini tidak bisa berbagi atau menggunakan rel kereta konvensional yang sudah tersebar masif di seluruh Eropa saat ini. Biayanya dinilai terlalu membebani anggaran negara.
Negara-negara Eropa seperti Prancis (dengan TGV) dan Jerman (dengan ICE) memilih untuk terus mengembangkan kecepatan kereta peluru mereka di atas rel konvensional yang sudah ada, karena dinilai jauh lebih ekonomis dan efisien secara integrasi jaringan.
Baca juga: Gangguan di Stasiun Pasar Senen Sebabkan Sejumlah Kereta Jarak Jauh Terlambat
Meski terdengar sangat menjanjikan, proyek Chuo Shinkansen di Jepang sendiri bukan tanpa hambatan.
Rencana awal untuk mengoperasikan jalur Tokyo-Nagoya sempat mengalami penundaan dari target awal karena kendala lingkungan, terutama kekhawatiran masyarakat mengenai dampak penggalian terowongan bawah tanah yang panjang terhadap volume air sungai lokal di Prefektur Shizuoka.
Namun, pemerintah Jepang dan pihak operator kereta (JR Central) terus berkomitmen mencari solusi terbaik agar proyek ramah lingkungan berteknologi tinggi ini bisa segera dinikmati oleh publik secara aman.
Baca juga: Wisata ke Banyuwangi saat Libur Panjang Makin Diminati, Penumpang Kereta Melonjak
Baca juga: Perjalanan ke Kota Wisata dan Kuliner dengan Kereta Api Meningkat saat Long Weekend
Tag: #proyek #kereta #tercepat #dunia #milik #jepang #benarkah #lebih #cepat #dari #pesawat