Makin Mesra, Kongres AS Siapkan Jalan bagi Integrasi Militer dengan Israel
- Hubungan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Israel berpotensi menjadi semakin erat dan sulit dipisahkan.
Kongres AS saat ini tengah membahas sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang memungkinkan kedua negara mengintegrasikan sistem militer serta memperdalam kerja sama dalam penelitian, produksi, dan teknologi senjata.
RUU ini masih dalam tahap awal. NDAA disahkan oleh Kongres setiap tahun untuk menetapkan kebijakan militer AS dan mengesahkan program pertahanan serta tingkat pengeluaran.
Jika disahkan, ketentuan tersebut dapat menandai perubahan besar dalam salah satu hubungan militer terdekat di dunia.
Baca juga: Tak Mau Ulangi Jejak Obama, Trump Perketat Tawaran Damai dengan Iran
Pembentukan "agen eksekutif"
Dikutip dari Al Jazeera, Jumat (30/5/2026), usulan integrasi ini tertuang dalam Bagian 224 dari Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) tahun fiskal 2027 versi Komite Angkatan Bersenjata DPR AS.
Ketentuan bertajuk “Inisiatif Kerja Sama Teknologi Pertahanan AS-Israel” tersebut mewajibkan Menteri Pertahanan AS menunjuk seorang "agen eksekutif" guna mengoordinasikan kerja sama militer kedua negara.
Tugas pejabat tunggal ini mencakup penelitian dan pengembangan bersama, produksi senjata, hingga pengaitan sistem dan data militer.
Jika sebelumnya kerja sama kedua negara terbatas pada proyek tertentu seperti sistem pertahanan rudal Iron Dome, RUU baru ini akan memperluas cakupannya ke ranah peperangan modern, termasuk kecerdasan buatan (AI), drone, dan operasi siber.
Baca juga: Trump Klaim AS Sengaja Ampuni Militer Iran, Sebut Bukan Target Utama
“Apa yang coba dilakukan Kongres sekarang adalah menemukan berbagai cara untuk memperkuat hubungan tersebut begitu dalam di basis industri pertahanan Amerika sendiri sehingga mustahil untuk memberantasnya,” kata Josh Paul, mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS dan pendiri kelompok advokasi A New Policy.
“Pasal baru dalam NDAA akan memberi Israel akses yang belum pernah terjadi sebelumnya ke teknologi AS dan memaksa militer AS untuk mengintegrasikan teknologi pertahanan Israel ke dalam rantai pasokan militer penting kita sendiri, memberi Israel pengaruh luar biasa atas prioritas pertahanan AS,” tambahnya.
Kedua negara tersebut sudah membangun sistem pertahanan rudal bersama, seperti Iron Dome. Nantinya, RUU ini akan memperluas kerja sama mereka ke lebih banyak bidang peperangan modern, mulai dari kecerdasan buatan (AI) hingga drone dan operasi siber.
Ketentuan ini muncul di tengah gejolak di Timur Tengah menyusul serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran.
Israel juga menghadapi tuduhan genosida dalam kasus yang diajukan oleh Afrika Selatan di Mahkamah Internasional, pengadilan tertinggi PBB, terkait perang mereka di Gaza.
Baca juga: AS Temukan Cara Murah Lawan Drone, Tak Perlu Rudal Rp 17,8 Miliar
Dukungan AS untuk Israel dalam beberapa dekade
Peluncur sistem pertahanan udara Iron Dome saat dikerahkan di dekat Yerusalem, Israel, 15 April 2024, di tengah perang Israel-Hamas dan Israel-Hizbullah.
Namun, RUU tersebut harus lebih dulu melewati Komite Layanan Bersenjata DPR yang dijadwalkan akan membahasnya pada awal Juni, baru kemudian disahkan oleh DPR dan Senat secara keseluruhan.
Usulan itu diajukan oleh ketua komite dari Partai Republik, Mike Rogers dan anggota Demokrat paling senior, Adam Smith, sehingga mendapat dukungan dari kedua partai utama.
Meski demikian, jajak pendapat menunjukkan meningkatnya penentangan di kalangan Demokrat dan beberapa Republikan terhadap dukungan militer lebih lanjut untuk Israel.
Baca juga: Banyak Musisi Mundur, Trump Ingin Jadi Bintang Tamu HUT ke-250 AS
AS telah mendukung militer Israel selama beberapa dekade.
Sejak 2008, hukum AS mewajibkan Washington untuk melindungi keunggulan militer kualitatif Israel, menjaga agar pasukannya lebih kuat dan maju daripada pasukan negara saingan mana pun di kawasan itu.
Alasannya, negara kecil harus bergantung pada senjata yang lebih baik daripada jumlah pasukan yang lebih besar.
Berdasarkan kesepakatan bantuan saat ini yang ditandatangani selama pemerintahan mantan Presiden Barack Obama, Washington memberikan Israel sekitar 3,8 miliar dollar AS (Rp 67,7 triliun) per tahun dalam bentuk bantuan militer. Perjanjian 10 tahun ini berlaku hingga tahun 2028.
Baca juga: Meteor Meledak di Atas AS, Kekuatan Setara 300 Ton TNT
Israel adalah penerima bantuan luar negeri AS terbesar sejak tahun 1948, hampir semuanya berupa bantuan militer dan bernilai lebih dari 300 miliar dollar AS jika disesuaikan dengan inflasi.
Sifat dukungan tersebut mungkin kini sedang berubah.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini mengatakan ingin mengakhiri ketergantungan Israel pada bantuan militer AS dalam waktu 10 tahun, dengan mengeklaim bahwa negaranya telah menjadi "dewasa".
Kerja sama yang lebih erat antara kedua industri pertahanan, kemungkinan besar akan lebih sesuai dengan tujuan tersebut.
Tag: #makin #mesra #kongres #siapkan #jalan #bagi #integrasi #militer #dengan #israel