Lagi Streaming Demi Biaya Pengobatan Cucu, Nenek Ini Malah Jadi Korban Prank
Sue Jacquot alias GrammaCrackers, nenek berusia 81 tahun yang menjadi korban prank swatting saat melakukan live streaming. (YouTube/GrammaCrackers)
19:12
31 Mei 2026

Lagi Streaming Demi Biaya Pengobatan Cucu, Nenek Ini Malah Jadi Korban Prank

- Seorang nenek berusia 81 tahun asal Arizona, Amerika Serikat (AS), menjadi sasaran "prank" alias keisengan saat melakukan livestreaming game Minecraft.

Padahal, livestreaming itu ia lakukan bukan sekadar hiburan, Sue Jacquot atau yang dikenal dengan nama "GrammaCrackers", menggunakan kanal YouTube-nya untuk menggalang dana guna membantu membayar biaya pengobatan kanker cucunya, Jack Self.

Upaya itu berhasil menarik perhatian banyak orang. Kanal YouTube miliknya kini memiliki lebih dari 600.000 pelanggan, sementara ratusan ribu gamer mengikuti siaran yang menampilkan Jacquot bermain Minecraft bersama Jack dan cucu lainnya, Austin Self.

Belakangan, keluarga tersebut bahkan menggelar siaran langsung 24 jam sehari selama hampir 15 hari tanpa henti untuk mengumpulkan dana tambahan.

Menurut Jacquot, biaya pengobatan yang harus ditanggung keluarganya tidak sedikit.

"Dia sudah menjalani sekitar 200 kali kemoterapi dalam satu setengah tahun terakhir, dan itu menghasilkan tagihan yang sangat mahal yang tidak ditanggung perusahaan asuransi," kata Jacquot tentang kondisi Jack, kepada media lokal 12News.

Baca juga: Gamer Indonesia Juara Kontes Minecraft MrBeast

Namun di tengah upaya penggalangan dana tersebut, keluarga itu justru mengalami insiden yang tidak terduga.

Pada Senin malam, rumah Jacquot menjadi sasaran aksi swatting, yakni tindakan iseng atau prank yang dilakukan dengan membuat laporan darurat palsu kepada polisi, agar aparat bersenjata dikerahkan ke rumah target.

Dalam kasus ini, seseorang melaporkan kepada pihak berwenang bahwa Jacquot telah ditembak mati oleh cucunya sendiri, Jack Self, dan bahwa Jack berencana bunuh diri setelahnya.

Laporan palsu itu memicu respons besar dari aparat keamanan.

Kronologi penggerebekan

Kejadian bermula sekitar pukul 23.00 waktu setempat ketika keluarga menerima kabar bahwa polisi sedang merespons laporan darurat terkait rumah mereka.

"Kami menerima laporan bahwa Jack menembak neneknya hingga tewas dan kemudian akan bunuh diri. Saat mendengarnya saya langsung kaget," kata Jack Self.

"Rasanya seperti dihantam pukulan keras di perut," kata Jack Self menggambarkan betapa ia terkejut mendengar alibi itu.

Tak lama kemudian, puluhan petugas Kepolisian Queen Creek dengan perlengkapan taktis lengkap mendatangi rumah mereka. Menurut keluarga, polisi datang dengan tameng antihuru-hara, senapan, serta kendaraan khusus.

Dalam laporan lain, jumlah aparat yang berada di lokasi bahkan diperkirakan mencapai sekitar 20 mobil polisi dan lima kendaraan SWAT (Senjata dan Taktis Khusus), sebagaimana dihimpun dari Gadget Review.

Petugas kemudian mengepung rumah dan meminta seluruh penghuni keluar dengan tangan terangkat.

Saat itu Jacquot sedang tidur dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.

Siaran langsung yang masih aktif memperlihatkan petugas memasuki kamarnya dan membangunkannya.

"Mereka masuk, lalu satu orang memegang satu lengan saya dan yang lain memegang lengan satunya. Mereka mengantar saya keluar sambil meminta maaf," kata Jacquot.

"Dan ada seorang polisi wanita yang cantik sekali. Dia sangat baik, tetapi saya rasa kalau memang ada masalah, dia juga bisa bertindak tegas," imbuhnya.

Baca juga: Video Detik-detik Penampakan Titik Ujung Game Minecraft, 14 Tahun Baru Ketemu

Alih-alih panik, Jacquot justru menganggap pengalaman itu cukup unik.

"Saya cuma berpikir, sebenarnya cucu-cucu saya ini sudah berbuat apa?" katanya sambil tertawa ketika mengenang kejadian tersebut.

Dalam wawancara lain, Jacquot juga mengatakan bahwa para petugas memperlakukannya dengan sangat baik.

"Saya sedang tidur, benar-benar tidur nyenyak. Saya tidak mau bangun, lalu para polisi itu masuk ke rumah," katanya.

"Mereka menggandeng saya keluar. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi rasanya cukup menyenangkan."

Ia bahkan mengaku senang karena mendapat kesempatan naik mobil polisi untuk pertama kalinya.

"Lalu saya naik mobil polisi. Saya belum pernah naik mobil polisi sebelumnya."

Menurut keluarga, polisi berada di rumah mereka selama sekitar tiga jam sebelum menyimpulkan bahwa laporan tersebut palsu.

Petugas yang masuk ke rumah juga disebut hampir yakin sejak awal bahwa laporan itu adalah hoaks sehingga tidak menggunakan banyak kekerasan saat memasuki rumah melalui garasi.

Salah satu petugas bahkan melihat perlengkapan livestream milik Jacquot dan semakin yakin bahwa situasi tersebut tidak berbahaya.

Penyelidikan awal menunjukkan bahwa panggilan darurat itu kemungkinan berasal dari seseorang yang menggunakan aksen Perancis, meski polisi belum mengetahui identitas pelakunya.

"Informasi yang kami dapat sejauh ini, panggilan itu menggunakan aksen Perancis. Mereka belum benar-benar yakin panggilan itu berasal dari mana," kata Jack.

Keluarga pun mempertanyakan alasan seseorang menjadikan Jacquot sebagai target.

"Entah tujuannya untuk menyakiti kami, membuat kami marah, atau ingin mengganggu Grandma Crackers saat siaran langsung," kata Austin Self.

"Untungnya polisi sangat profesional dan luar biasa sehingga dampaknya bisa diminimalkan."

Meski sempat menjadi korban prank berbahaya tersebut, Jacquot tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti melakukan siaran langsung.

Malam itu, setelah situasi mereda, ia memilih kembali tidur.

"Saya harus bangun besok. Saya tidak bisa terus memikirkan hal ini sepanjang malam. Jadi saya minum Benadryl lalu tidur. Begitulah cara saya menghadapinya," ujarnya.

Keesokan harinya, Jacquot kembali menyalakan siaran langsung seperti biasa. Ia kembali menjelajahi dunia Minecraft.

Menurut Jacquot, aksi swatting tersebut tidak akan mengubah apa yang selama ini ia lakukan.

"Mereka tidak akan menentukan apa yang boleh saya lakukan. Mereka juga tidak akan membuat saya takut untuk melakukan ini," kata Jacquot, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari The Guardian.

Dua Mantan Karyawan Meta Rilis Stream, Smart Ring Bertenaga AI

Dukungan lebih banyak mengalir

Setelah kejadian itu, dukungan dari komunitas online justru semakin mengalir. Banyak penonton membanjiri siaran Jacquot dengan pesan simpati dan dukungan.

"Mereka sangat baik dan peduli pada keadaan saya. Mereka bertanya bagaimana kondisi saya, bagaimana situasinya, mengatakan mereka mencintai saya dan menyesalkan kejadian ini. Dukungan mereka luar biasa," kata Jacquot.

Keluarga mengatakan insiden tersebut pada akhirnya justru mempererat hubungan mereka dengan komunitas yang selama ini membantu perjuangan pengobatan Jack.

Sementara itu, Departemen Kepolisian Queen Creek mengonfirmasi bahwa petugas memang merespons laporan swatting tersebut dan menyatakan penyelidikan masih berlangsung. Informasi lebih lanjut mengenai kasus itu disebut akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang.

Tag:  #lagi #streaming #demi #biaya #pengobatan #cucu #nenek #malah #jadi #korban #prank

KOMENTAR