Tegang dengan China, AS Tembakkan Rudal Tomahawk
USS Preble tembakan Tomahawk.(Woody PASCHALL/US NAVY/AFP )
11:54
6 Mei 2026

Tegang dengan China, AS Tembakkan Rudal Tomahawk

- Sistem rudal jarak menengah (Mid-Range Capability) militer Amerika Serikat (AS) diuji tembak di Filipina, demikian konfirmasi Manila, Selasa (5/5/2026).

Ini merupakan aksi yang pertama dalam latihan militer negara Asia Tenggara tersebut, yang sedang dipantau ketat oleh China.

Angkatan Darat AS membawa rperangkat udal yang dijuluki "Typhon" itu ke Filipina untuk latihan gabungan pada April 2024. Dan pekan ini menandai kali pertama sistem rudal tersebut diluncurkan.

Latihan ini seiring dengan upaya para sekutu dalam Perjanjian Pertahanan Bersama untuk memperkuat kerja sama pertahanan di tengah meningkatnya ketegangan dengan China.

Baca juga: Jepang Dekati RI-Filipina untuk Lawan China, Tawarkan Armada Kelas NATO


Rudal jenis Tomahawk ditembakkan dari Bandara Tacloban di Pulau Leyte di wilayah Visayas, tenggara Manila, kata Kolonel Dennis Hernandez, juru bicara latihan Balikatan, dilansir Newsweek, Selasa (5/5/2026).

Tembakan tersebut berhasil mengenai sasarannya sekitar 620 kilometer ke arah barat laut di Fort Magsaysay di wilayah Luzon, Filipina.

Rudal Tomahawk memiliki jangkauannya lebih dari 1.600 kilometer, dan berpotensi menjangkau sebagian besar wilayah pesisir timur China.

Selain itu, Typhon juga dapat menembakkan rudal Standard Missile-6 supersonik, yang dapat terbang hingga 460 kilometer.

Hal ini membuat sebagian besar wilayah pesisir timur China, pulau-pulau yang dimiliterisasi di Laut China Selatan, dan pesawat atau kapal perang Tentara Pembebasan Rakyat di Luzon yang strategis dapat dijangkau jika terjadi perang memperebutkan Taiwan.

Baca juga: Pasukan AS, Filipina, Jepang Ramai-ramai Menuju Laut China Selatan, Ada Apa?

Latihan Balikatan militer AS dan Filipina

Militer AS dan Filipina melakukan latihan gabungan yang disebut Latihan Balikatan, dan akan berlangsung hingga 8 Mei 2026.

Balikatan berasal dari bahasa Tagalog yang berarti "bahu-membahu", menjadi latihan militer terbesar bagi Washington dan Manila.

Latihan tahun ini mencakup partisipasi dari 17.000 pasukan dan tujuh negara, termasuk, Jepang yang bergabung untuk pertama kali.

Baca juga: Filipina Tuduh Nelayan China Sebar Racun Sianida di Laut China Selatan

Rudal yang ditembakkan adalah peluru inert dan bukan bahan peledak, yang digunakan untuk menguji akurasi, bukan untuk menghancurkan target, jelas Kolonel Hernandez.

China telah berulang kali menuntut agar AS menarik sistem rudal jarak menengahnya dari Filipina.

Pemerintah Filipina mengatakan, pengerahan tersebut tidak ditujukan kepada negara ketiga mana pun dan menyatakan sedang mempertimbangkan untuk memperoleh unit tambahan dari AS.

Baca juga: Konflik Laut China Selatan dan Upaya Indonesia Menjaga Kedaulatan Laut Natuna Utara

China mengecam latihan militer AS-Filipina

Kapal Penjaga Pantai China (kiri), yang diidentifikasi Penjaga Pantai Filipina sebagai milisi maritim (bawah tengah dan kanan) mengepung BRP Datu Tamblot (tengah) dan kapal-kapal nelayan Filipina selama misi untuk membawa pasokan dan bantuan kepada para nelayan di Scarborough Shoal, Laut China Selatan, 16 Februari 2024. AFP/JAM STA ROSA Kapal Penjaga Pantai China (kiri), yang diidentifikasi Penjaga Pantai Filipina sebagai milisi maritim (bawah tengah dan kanan) mengepung BRP Datu Tamblot (tengah) dan kapal-kapal nelayan Filipina selama misi untuk membawa pasokan dan bantuan kepada para nelayan di Scarborough Shoal, Laut China Selatan, 16 Februari 2024.

Sebelumnya, Beijing telah mengecam rencana latihan gabungan militer tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan provokatif.

"Yang paling dibutuhkan kawasan Asia-Pasifik adalah perdamaian dan ketenangan, dan yang paling tidak dibutuhkan adalah masuknya kekuatan eksternal untuk menabur perpecahan dan konfrontasi," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun pada 20 April.

Menanggapi latihan militer yang dipimpin AS, Militer China mengerahkan pasukan angkatan laut dan udara untuk patroli di sekitar Scarborough Shoal.

Itu adalah salah satu kawasan yang paling diperebutkan dalam sengketa teritorial antara China dan Filipina.

"Pasukan Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat China akan dengan tegas melindungi kedaulatan teritorial dan hak serta kepentingan maritim China, dan dengan teguh menjunjung tinggi perdamaian dan stabilitas regional," kata juru bicara Komando Selatan militer, Zhai Shichen.

Baca juga: Jejak Teknologi Rusia di Balik Kebangkitan Angkatan Laut China

Klaim China atas Laut China Selatan

China mengklaim sebagian besar Laut China Selatan sebagai wilayahnya, dan ini bertentangan dengan klaim dari beberapa negara tetangga maritim, termasuk Filipina.

Sejak 2023, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. semakin gencar menentang meningkatnya kehadiran pasukan penjaga pantai dan angkatan laut China di zona ekonomi eksklusif yang diklaim Manila.

Hal ini telah menyebabkan bentrokan dan mendorong Filipina untuk memperkuat kerja sama pertahanan dengan sekutu AS-nya serta Jepang, Australia, dan negara-negara lain.

Jepang dan Filipina, yang keduanya merupakan sekutu perjanjian AS, telah menyatakan keprihatinan mereka atas kemungkinan tindakan China terhadap Taiwan, pulau otonom yang diklaim Beijing sebagai wilayahnya.

Tag:  #tegang #dengan #china #tembakkan #rudal #tomahawk

KOMENTAR