Perang Iran Hari ke-43: Ancaman Trump, Serangan Israel, dan Krisis di Gaza
Ilustrasi perundingan AS dan Iran di Pakistan.(Chat GPT)
20:00
11 April 2026

Perang Iran Hari ke-43: Ancaman Trump, Serangan Israel, dan Krisis di Gaza

Konflik yang melibatkan Iran memasuki hari ke-43 dengan situasi yang masih memanas di berbagai wilayah, mulai dari Iran, Lebanon, hingga Gaza.

Upaya diplomasi mulai terlihat setelah pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) dan Iran tiba di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4/2026), untuk membahas kemungkinan gencatan senjata.

Meski demikian, kekerasan di lapangan masih terus berlangsung dan bahkan menunjukkan eskalasi di sejumlah titik konflik, dikutip dari Al Jazeera.

Baca juga: Kapan, Siapa Saja, dan Apa yang Akan Dibahas dalam Negosiasi AS dan Iran?

Negosiasi AS-Iran dimulai di Pakistan

Delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dalam pembicaraan tersebut.

Sementara itu, Amerika Serikat diwakili Wakil Presiden JD Vance bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Menjelang pertemuan, Vance menyatakan Washington siap membuka jalur diplomasi jika Iran menunjukkan itikad baik dalam negosiasi.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal kemungkinan meredanya ketegangan setelah konflik berlangsung selama beberapa pekan terakhir.

Sikap Iran: tidak percaya pada AS

Ghalibaf menegaskan, Amerika Serikat harus mengakui hak-hak Iran jika ingin mencapai kesepakatan.

Ia juga menyebut Iran datang ke Islamabad dengan itikad baik, meski tidak memiliki kepercayaan terhadap Washington.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi turut menyampaikan bahwa Iran memasuki negosiasi dengan “ketidakpercayaan total” terhadap AS.

Pernyataan itu disampaikan dalam komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul.

Sementara itu, Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref menyebut hasil pembicaraan bergantung pada prioritas Amerika Serikat.

Baca juga: Mengapa Pakistan Jadi Mediator AS dengan Iran, Padahal Masih Berkonflik dengan Afghanistan?

Ia menilai kesepakatan hanya mungkin tercapai jika AS mengutamakan kepentingan nasionalnya, bukan agenda Israel.

Simbolisme dan keseriusan diplomasi

Delegasi Iran yang berjumlah 71 orang menamai diri mereka “Minab 168”.

Nama tersebut merujuk pada 168 siswa dan guru yang tewas akibat serangan AS di sebuah sekolah dasar pada awal konflik.

Langkah itu menjadi simbol kuat sekaligus menunjukkan keseriusan Iran dalam proses diplomasi.

Delegasi AS tiba di Islamabad pada Sabtu pagi, sementara delegasi Iran telah lebih dahulu tiba pada Jumat malam.

Upaya gencatan senjata meluas ke Lebanon

Selain pembicaraan AS-Iran, upaya diplomasi juga mencakup konflik di Lebanon.

Kepresidenan Lebanon menyatakan pertemuan lanjutan akan digelar di Departemen Luar Negeri AS pada Selasa mendatang.

Agenda pertemuan mencakup pembahasan deklarasi gencatan senjata serta jadwal negosiasi antara Lebanon dan Israel.

Iran turut menuntut gencatan senjata di Lebanon dan pembebasan aset negaranya yang diblokir.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak “mempermainkan” Washington dalam negosiasi.

Baca juga: AS-Iran Akan Bertemu di Pakistan, Apa Saja yang Akan Dirundingkan?

Trump bahkan menyatakan Iran tidak memiliki posisi tawar kuat dan mengancam akan melakukan serangan jika pembicaraan gagal.

Tekanan ekonomi dorong AS cari solusi cepat

Trump juga menegaskan Selat Hormuz akan dibuka kembali, baik dengan atau tanpa kerja sama Iran.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mengatasi gangguan pasokan energi global.

Mantan Duta Besar AS Douglas Silliman menilai Washington kemungkinan akan mengejar hasil cepat demi meredakan tekanan ekonomi.

Kondisi ini diperburuk oleh lonjakan inflasi di AS yang mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Israel tetap lanjutkan operasi militer

Di tengah upaya diplomasi, Israel masih melanjutkan operasi militernya di Lebanon.

Amerika Serikat dilaporkan meminta Israel menahan serangan terhadap Hizbullah agar tidak mengganggu negosiasi.

Namun, pertempuran tetap berlangsung dengan intensitas tinggi. Militer Israel menyebut Hizbullah menembakkan sekitar 30 proyektil ke wilayah utara Israel.

Beberapa serangan dilaporkan menyebabkan kerusakan dan memicu sirene peringatan udara.

Baca juga: Netanyahu Buka Negosiasi dengan Lebanon Usai Iran Ancam Tutup Selat Hormuz

Situasi Gaza dan Yerusalem memanas

Di Gaza, serangan udara Israel menewaskan sedikitnya enam orang di kamp pengungsi Bureij. Sejumlah korban lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Di Yerusalem Timur, lebih dari 100.000 jamaah menghadiri shalat Jumat di Masjid Al-Aqsa setelah pembukaan kembali pasca-gencatan senjata.

Sementara itu, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan mengkritik undang-undang Israel terkait hukuman mati bagi tahanan Palestina.

Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk yang lebih buruk dari apartheid.

Korban jiwa di Lebanon terus bertambah

Di Lebanon, serangan Israel pada Sabtu (11/4/2026) menewaskan sedikitnya 10 orang.

Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat hampir 2.000 orang tewas sejak awal Maret akibat serangan udara dan operasi darat Israel. Ribuan warga lainnya mengalami luka-luka.

Program Pangan Dunia (WFP) juga memperingatkan krisis ketahanan pangan akibat lonjakan harga dan gangguan distribusi.

Baca juga: Negara-negara Ini Desak Gencatan Senjata AS-Iran Juga Berlaku di Lebanon

Badan Pengungsi PBB (UNHCR) melaporkan lebih dari 1,2 juta orang terpaksa mengungsi.

Sebagian besar fasilitas penampungan telah penuh, bahkan hampir setengah sekolah negeri kini difungsikan sebagai tempat pengungsian.

Tag:  #perang #iran #hari #ancaman #trump #serangan #israel #krisis #gaza

KOMENTAR