Strategi Budgeting Ala Gen Z: Kelola Uang dengan Kantong Digital
- Bagi banyak Generasi Z (Gen Z), gaji yang terasa numpang lewat setiap bulan menjadi persoalan yang makin umum.
Baru beberapa hari menerima gaji, saldo rekening sudah menipis karena pengeluaran kecil yang terasa sepele, mulai dari ngopi, hiburan, hingga work from cafe (WFC).
Padahal, masalahnya sering kali bukan semata karena gaji kurang, melainkan karena pemasukan tidak dibagi secara jelas sejak awal sehingga uang terasa bebas dipakai untuk apa saja.
Baca juga: Tren Menabung Bergeser ke Bank Digital, Punya Banyak Rekening Tak Lagi Relevan
Kondisi itu juga pernah dirasakan Tamara (25 tahun), seorang pekerja Gen Z yang mengaku pengeluarannya belakangan semakin besar sejak lebih sering WFC di kafe.
"Iya akhir-akhir ini (merasa gaji cepat habis). Karena lebih sering WFC kan, dan sekalinya WFC tuh kayaknya ada deh keluarin Rp 80.000 lebih," ujarnya kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.
Gaji Cepat Habis, Padahal Sudah Pisahkan Pengeluaran
Dia mengaku, kebiasaan membeli kopi menjadi salah satu pengeluaran yang paling sering luput disadari tetapi cukup menguras gaji bulanan.
Padahal di sisi lain, dia bukan seperti Gen Z pada umumnya yang antusias mengikuti tren kekinian atau istilahnya Fear of Missing Out (FOMO). "Ngopi kak, terasa banget ini," jawabnya sambil tertawa ketika ditanyai pengeluaran yang paling tidak terasa tapi ternyata banyak memakan gaji.
Meski begitu, Tamara sebenarnya sudah terbiasa melakukan budgeting sejak lama.
Dia bahkan mulai lebih disiplin mengatur keuangan sejak merantau saat kuliah dan memasuki tahun kedua bekerja.
"Biasanya tiap gajian, langsung sisihkan uang buat tabungan kak, lalu sisanya aku plot-plotin sesuai kebutuhan. Misal buat transportasi per bulan sekian, makan sekian, bayar rusun sekian, dan sebagainya," ungkapnya.
Namun, dia mengakui, tantangan terbesar dalam mengatur uang bukan hanya membuat anggaran, melainkan menjaga disiplin agar tidak mengambil dana dari pos lain.
Untuk mengatasinya, Tamara kini mulai memisahkan uang berdasarkan kebutuhan melalui rekening dan dompet digital berbeda.
Untuk kebutuhan harian seperti makan, transportasi, dan belanja bulanan, dia menggunakan fitur kantong digital di aplikasi perbankan.
Menurutnya, fitur kantong digital membuat pengelolaan uang terasa lebih praktis karena pembagian anggaran bisa langsung dilakukan secara digital tanpa perlu memisahkan uang tunai secara manual.
"Aku biasanya pisahin rekening atau e-wallet sesuai dengan kebutuhan. Nah kalau kayak kebutuhan sehari-hari misal untuk makan, transport, belanja bulanan, biasanya pakai Bank Jago. Terus buat bayar-bayar akun langganan kayak Apple Music, Google Play, YouTube, biasanya aku ke e-wallet," jelas Tamara.
Gen Z Rentan Terjebak Self Reward
Fenomena seperti ini dinilai cukup umum terjadi di kalangan Gen Z. Perencana keuangan Andi Nugroho mengatakan, generasi muda rentan mengalami kondisi gaji cepat habis karena gaya hidup konsumtif yang sering dibungkus alasan self-reward.
Menurutnya, pengeluaran seperti membeli makanan dan minuman kekinian, work from cafe, mengikuti tren gadget terbaru, hingga travelling membuat penghasilan lebih cepat terkuras.
"Gen Z rentan penghasilannya habis sebelum waktunya gajian kembali lebih dikarenakan gaya hidup yang cenderung berlebihan, selain juga tingkat kenaikan penghasilan mereka yang relatif tidak seimbang dengan inflasi harga barang dan kebutuhan-kebutuhan hidup," ungkapnya kepada Kompas.com, Senin (4/5/2026).
Andi mengingatkan pentingnya menerapkan konsep guilt-free spending bagi Gen Z, yakni tetap menikmati hasil kerja tanpa mengganggu kondisi keuangan.
Dengan konsep ini, Gen Z tetap diperbolehkan nongkrong, membeli kopi, atau memberi self-reward, selama pengeluarannya memang sudah direncanakan sejak awal dan tidak mengganggu kebutuhan utama maupun tabungan.
Dalam berbelanja, dia menyarankan Gen Z agar lebih mengutamakan barang yang memiliki nilai guna tinggi dibanding sekadar mengikuti gengsi atau tren sesaat.
Selain itu, kebiasaan menunda pembelian selama minimal 24 jam juga dinilai penting untuk memastikan suatu barang memang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar dorongan emosional sesaat.
Kendati demikian, dengan konsep ini Gen Z tetap bisa melakukan self reward untuk menjaga keseimbangan hidup.
Hanya saja pengeluarannya tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial agar tidak berubah menjadi kebiasaan konsumtif yang membebani keuangan di kemudian hari. "Self reward itu penting, namun jangan over dan sesuaikan dengan kemampuan. Hindari belanja dengan paylater ataupun kartu kredit," tegasnya.
Fitur Kantong yang ada di Bank Jago.
Kantong Digital Jadi Solusi Baru
Di sisi lain, Gen Z juga dinilai mulai sadar pentingnya mengatur uang secara lebih rapi.
Salah satu caranya dengan memanfaatkan layanan digital yang memungkinkan pengguna membagi uang berdasarkan kebutuhan tertentu.
Andi menilai fitur kantong digital memang cocok digunakan Gen Z karena membantu mereka mengatur pengeluaran secara lebih terstruktur dan mudah dipantau.
Metode budgeting konvensional sebenarnya masih relevan, tetapi Gen Z yang terbiasa menggunakan teknologi cenderung memilih pencatatan keuangan digital karena lebih praktis.
"Bagi mereka yang techno-savvy dan ingin kepraktisan, maka menggunakan pencatatan secara digital akan menjadi lebih relevan. Karena semua transaksinya akan otomatis tercatat. Paling yang perlu diperhatikan adalah mengingat-ingat transaksi tersebut untuk belanja apa saja atau spesifik barang apa, karena kadang penyebutan nama merchant nya hanya secara general," ucapnya.
Kebutuhan Gen Z untuk mengatur pengeluaran secara lebih praktis dan terstruktur inilah yang kemudian mendorong munculnya berbagai fitur pengelolaan keuangan digital, termasuk fitur kantong digital di aplikasi perbankan.
Head of Retail Banking Brand and Marketing Bank Jago Michael Hartawan mengatakan, fitur Kantong dikembangkan karena pihaknya melihat masyarakat Indonesia sebenarnya sudah lama memiliki kebiasaan membagi uang ke dalam pos-pos tertentu sesuai kebutuhan.
"Kami percaya bahwa setiap uang punya tempat dan tujuan, maka kami mengembangkan fitur Kantong (pocket) di Aplikasi Jago, yang dapat dipersonalisasi hingga 60 Kantong," ucap Michael kepada Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Menurut dia, kebiasaan tersebut kini diterjemahkan ke dalam bentuk digital agar lebih praktis dan relevan dengan gaya hidup masyarakat modern, termasuk Gen Z yang menginginkan pengelolaan uang serba cepat dan fleksibel.
Michael menyebut, fitur Kantong memungkinkan pengguna memisahkan dana ke berbagai pos tanpa harus membuka banyak rekening berbeda.
Sebab, kebutuhan masyarakat saat ini bukan hanya menyimpan uang, tetapi juga mengelolanya secara lebih jelas dan terarah.
"Kami menilai fitur Kantong di Jago App sangat membantu mengubah cara nasabah dalam melihat uang, bukan lagi hanya sebatas nominal atau jumlah saldo, tapi bagian dari tujuan finansial yang jelas. Dengan kantong, nasabah bisa memberi makna pada setiap rupiah: mana untuk kebutuhan harian, tabungan, hingga tujuan jangka panjang," ucapnya.
"Tanpa harus membuka banyak rekening, mereka tetap bisa merasakan disiplin finansial dan kontrol yang lebih rapi. Hasilnya, pengelolaan keuangan jadi terasa lebih ringan, terarah, dan personal, karena setiap keputusan finansial punya tempatnya sendiri," sambungnya.
Tercatat, Sampai Maret 2026, ada sekitar 43,2 juta kantong yang telah digunakan oleh 15,2 juta pengguna aplikasi Jago.
Setiap pengguna rata-rata hampir memiliki 3 kantong khusus.
Dari berbagai jenis fitur yang tersedia, Kantong Pengeluaran menjadi yang paling banyak digunakan, terutama untuk kebutuhan harian, seperti makanan, jajan, dan pengeluaran rutin lain.
Aplikasi Jago juga menyediakan fitur Analisis Pengeluaran yang memuat semua rincian pemasukan dan pengeluaran yang telah dikategorikan.
Dengan dukungan teknologi machine learning, aplikasi Jago secara otomatis mengelompokkan setiap transaksi sekaligus tetap memungkinkan nasabah menyesuaikan kategori sesuai kebutuhan.
"Ini membantu mereka memahami pos pengeluaran terbesar dan mengontrol keuangan dengan lebih baik," tuturnya.
Baca juga: Ekonomi Tak Pasti Bikin Menabung dan Investasi Tak Cukup, Ini Seni Kelola Uang Aman dan Bertumbuh
Tag: #strategi #budgeting #kelola #uang #dengan #kantong #digital