Pesta Babi dan Ketakutan atas Narasi
Film dokumenter Pesta Babi(Youtube Watchdoc Documentary)
08:42
13 Mei 2026

Pesta Babi dan Ketakutan atas Narasi

PELARANGAN nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi mencerminkan benturan yang masih sering terjadi antara individu dan struktur kekuasaan.

Fenomena ini tidak cukup kalau hanya dipahami sekadar persoalan administratif atau izin keramaian.

Pelarangan memperlihatkan bagaimana negara bekerja berupaya mengatur ruang publik, menentukan batas wacana yang dianggap sah, sekaligus mengendalikan cara masyarakat mengakses narasi tertentu. 

Pembubaran nobar dalam perspektif antropologi mencerminkan benturan antara agensi individu dan struktur kekuasaan. 

Di satu sisi, para penyelenggara dan penonton menggunakan agensi mereka, yakni kemampuan untuk bertindak dan memproduksi makna untuk menghadirkan ruang diskusi alternatif melalui media film dokumenter.

Namun di sisi lain, aparat negara bertindak sebagai representasi struktur formal yang memiliki otoritas untuk menjaga keteraturan sosial.

Sebuah struktur yang menuntut kepatuhan individu demi mempertahankan integrasi sosial yang dianggap stabil dan tertib. 

Baca juga: Ironi Dominasi Kebenaran dalam Lomba Cerdas Cermat Pilar Kebangsaan

Ketegangan muncul ketika ekspresi warga dianggap berpotensi mengganggu tatanan yang sudah ditetapkan.

Pembubaran nobar juga dapat dibaca sebagai praktik pendisiplinan terhadap tubuh dan ruang publik.

Dalam Discipline and Punish: The Birth of the Prison (1977) Michel Foucault menjelaskan bahwa kekuasaan modern tidak semata hadir melalui kekerasan langsung, tetapi juga melalui pengaturan perilaku masyarakat agar sesuai dengan “kebenaran” yang diproduksi otoritas.

Negara tidak hanya melarang sebuah kegiatan, melainkan sekaligus berupaya membentuk rasa takut, kewaspadaan, dan kepatuhan di tengah masyarakat.

Kontrol tidak selalu dilakukan melalui represi terbuka, tetapi juga melalui internalisasi rasa diawasi.

Pelarangan merupakan bentuk “pendisiplinan diri” (self-discipline), yakni dorongan agar masyarakat membatasi dirinya sendiri dan tidak melampaui koridor informasi yang dianggap aman oleh negara.

Melalui kacamata ini, pembubaran nobar Pesta Babi bukan hanya penghentian sebuah acara, melainkan juga pesan simbolik kepada publik. 

Namun, kekuasaan tidak pernah sepenuhnya absolut. Ketika struktur melakukan pembatasan, masyarakat sering mengembangkan bentuk-bentuk resistensi baru. 

Pertanyaan berikutnya adalah: mengapa sebuah film dapat dipandang begitu mengancam? 

Teori tentang klasifikasi simbolik dari antropolog Mary Douglas menarik digunakan.

Dalam pandangannya, masyarakat menciptakan keteraturan dengan menyusun kategori-kategori tertentu mengenai apa yang dianggap bersih, normal, dan dapat diterima.

Sesuatu menjadi berbahaya bukan karena sifat alaminya, melainkan karena ia hadir di luar kategori yang mapan.

Kotoran pada dasarnya adalah materi yang salah tempat (matter out of place), kata Douglas dalam Purity and Danger: An Analysis of Concepts of Pollution and Taboo (1996).

Kotoran merupakan produk sampingan dari pembuatan sistematis dan pengklasifikasian materi, dengan menolak elemen-elemen yang tidak sesuai.

Melalui perspektif ini, film Pesta Babi dapat dipahami sebagai “anomali simbolis”, sesuatu yang dianggap mengganggu kebersihan narasi resmi negara.

Pesta Babi hadir membawa sudut pandang yang tidak sepenuhnya sejalan dengan klasifikasi ideologis yang dominan.

Karena itu, pelarangan nobar berfungsi sebagai sebuah ritual “pembersihan”, yaitu  dengan menyingkirkan elemen yang dipandang mencemari keteraturan sosial dan politik.

Lebih dari soal administrasi dan perizinan, pembubaran nobar mencerminkan perebutan kendali atas ruang publik dan hak untuk menentukan narasi.

Penonton dan penyelenggara mencari celah melalui penggunaan weapons of the weak, atau “senjata kaum lemah”.

Baca juga: Feodalisme Dewan Juri

Bentuknya mungkin tidak selalu berupa perlawanan terbuka, melainkan tindakan sehari-hari seperti menonton secara sembunyi-sembunyi, berbagi tautan film secara privat, atau mendiskusikannya di ruang-ruang informal.

Tindakan kecil semacam ini menunjukkan bahwa kontrol negara selalu dihadapkan pada kreativitas warga dalam mempertahankan ruang ekspresi.

Ironisnya, ketika penguasa melabeli Pesta Babi sebagai 'kotoran' yang harus dibersihkan, mereka justru mempertontonkan perilaku 'porcin' (seperti babi)—mengacak-acak tatanan demokrasi demi memuaskan nafsu sensor yang primitif.

Di sini, kotoran yang sebenarnya bukan terletak pada filmnya, melainkan pada cara-cara represif yang berkubang dalam kubangan otoritarianisme.

Pembubaran nobar Pesta Babi memperlihatkan bahwa ruang publik di Indonesia masih menjadi arena tarik-menarik antara kebebasan berekspresi dan upaya negara menjaga stabilitas politik serta ideologi.

Pelarangan merupakan bentuk ritual kekuasaan untuk mendisiplinkan masyarakat sekaligus “membersihkan” anomali yang dianggap mengancam tatanan.

Konflik ini menegaskan bahwa persoalan kebudayaan dan politik tidak pernah benar-benar netral.

Ia selalu berkaitan dengan siapa yang memiliki kuasa untuk menentukan narasi, mengatur ruang publik, dan mendefinisikan apa yang dianggap sah dalam kehidupan bersama.

Tag:  #pesta #babi #ketakutan #atas #narasi

KOMENTAR