Kendalikan Selat Hormuz, Posisi Iran Sangat Kuat Jelang Pembicaraan Damai
- Iran dan Amerika Serikat (AS) segera menggelar negosiasi langsung di Islamabad, Pakistan, hari ini, Sabtu (11/4/2026).
Menjelang negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan tersebut, Iran memiliki posisi tawar yang kuat.
Keberhasilan Teheran mengendalikan Selat Hormuz setelah perang selama 40 hari telah memberikan mereka kendali atas pasar energi global.
Namun, para pengamat memperingatkan risiko besar jika Iran terlalu memaksakan tuntutan maksimalnya kepada Wakil Presiden AS JD Vance.
Pasalnya, Iran juga mengalami kerugian militer dan industri senjata akibat perang, sebagaimana dilansir Wall Street Journal.
Baca juga: Antara Bom AS dan Penindasan, Warga Iran Hadapi Dilema
Senjata ekonomi di tangan Teheran
Saat ini, Iran dalam posisi yang diuntungkan secara strategis.
Dengan memegang kendali atas jalur pelayaran minyak dunia, Teheran merasa memiliki daya tekan yang signifikan terhadap ekonomi global.
"Dari sudut pandang Teheran, mereka merasa telah memojokkan Trump. Mereka merasa telah menjadikan ekonomi dunia sebagai senjata, mampu bertahan dari segala serangan Amerika, dan tetap berdiri tegak," ujar Direktur Program Timur Tengah di Atlantic Council William Wechsler kepada Wall Street Journal.
Menurut Wechsler, Iran kemungkinan besar tidak akan menerima kesepakatan kecuali jika AS benar-benar meninggalkan kepentingan keamanan nasionalnya di Timur Tengah.
Baca juga: China Jadi Kunci Rahasia Gencatan Senjata Iran-AS, Lanjut Negosiasi Damai
Senada dengan itu, CEO Qamar Energy, Robin Mills, menyoroti bahwa tekanan saat ini sepenuhnya berada di Selat Hormuz.
Stok minyak di Asia, Eropa, hingga AS mulai menipis karena pasokan yang tersendat akibat penutupan selat sempit tersebut, jalur vital bagi 20 persen minyak dunia.
"Jika ini terus berlanjut, kenaikan harga bensin akan menghantam AS secara tajam dalam beberapa minggu ke depan," kata Mills.
Saat ini, harga bahan bakar di AS dilaporkan telah melonjak sekitar 40 persen dibandingkan bulan Februari.
Baca juga: Negosiasi Damai AS-Iran Digelar Hari Ini, Pakistan Sambut Delegasi
Menuju perundingan
Tuntutan utama Iran dalam pertemuan di Islamabad adalah pencabutan sanksi ekonomi yang telah menjerat negara tersebut selama puluhan tahun lamanya.
Pencabutan sanksi ini pentin guna membangun kembali negara yang sudah mengalami krisis bahkan sebelum perang dimulai.
Para diplomat berharap adanya fleksibilitas dari kedua belah pihak untuk mencapai kerangka kerja yang mirip dengan kesepakatan nuklir 2015.
Namun, Husain Haqqani, mantan Duta Besar Pakistan untuk AS, menekankan bahwa situasi kali ini jauh lebih rumit.
"Kesalahan perhitungan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump telah menempatkan Selat Hormuz sebagai faktor negosiasi, sesuatu yang tidak ada sebelum perang ini," jelasnya.
Baca juga: Imbas Perang Iran, Negara-negara Teluk Atur Ulang Strategi Keamanan
Ilustrasi kapal kontainer. Pemerintah Iran dilaporkan mulai menerapkan kebijakan tarif tol untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Selain itu, ambisi Iran untuk mengenakan biaya lintas bagi kapal-kapal di Selat Hormuz mulai mendapat tentangan.
CEO Adnoc, Sultan al-Jaber, menegaskan bahwa penutupan selat memberikan konsekuensi yang semakin berat setiap harinya bagi pasar global.
Secara jangka panjang, posisi Iran mungkin tidak sekuat yang terlihat.
Pakar politik Iran, Meir Javedanfar, mengingatkan bahwa mitra kunci seperti China lebih banyak berdagang dengan negara-negara Teluk daripada dengan Iran.
"Dunia tidak akan bersedia hidup dengan perubahan seperti itu. Perlawanan jangka panjang akan jauh lebih besar daripada yang bisa ditahan oleh Iran," ucap Javedanfar.
Baca juga: Risiko Tinggi Wapres AS: Tolak Perang Iran, Kini Disuruh Mengakhiri
Tag: #kendalikan #selat #hormuz #posisi #iran #sangat #kuat #jelang #pembicaraan #damai