Blackout Sumatera Ungkap Titik Rawan Jaringan Listrik
- Pemadaman listrik massal atau blackout yang terjadi di Sumatera beberapa waktu lalu mengungkap kerentanan pada salah satu bagian penting sistem transmisi listrik, yakni sambungan kabel atau mid span jointing.
Gangguan yang menyebabkan listrik padam di sejumlah provinsi tersebut dinilai sangat mungkin dipicu tekanan mekanis akibat angin kencang pada jaringan transmisi, terutama di titik sambungan kabel.
“Kalau melihat pola gangguan yang disampaikan dan titik kerusakannya berada di sambungan kabel, maka faktor cuaca sangat mungkin berkontribusi dalam peristiwa ini,” ujar Pengamat Sistem Tenaga Listrik Institut Teknologi Bandung (ITB) Djoko Darwanto dalam keterangan tertulis, Jumat (29/5/2026).
Sebelumnya, hasil investigasi awal gabungan Bareskrim, Puslabfor, dan PLN menyebut terdapat tiga kemungkinan penyebab putusnya kabel transmisi, yakni stress thermal akibat cuaca, faktor pada area sambungan, serta tekanan mekanis akibat beban dan pengaruh angin.
Baca juga: PLN Buka Suara soal Kompensasi Blackout Sumatera, Bisakah Pelanggan Dapat Ganti Rugi?
Menurut Djoko, masyarakat kerap menilai kondisi cuaca berdasarkan apa yang dirasakan di permukaan tanah. Padahal, pada ketinggian konduktor transmisi, kecepatan angin dapat jauh lebih besar dan memicu osilasi kabel secara terus-menerus.
“Di bawah mungkin terasa tidak ekstrem, tetapi di area konduktor, angin bisa cukup kuat untuk menyebabkan kabel bergerak dan saling menarik,” terang dia.
“Kondisi itu dapat memunculkan tekanan berulang pada kabel,” lanjut Djoko.
Ia menjelaskan, pergerakan berulang akibat terpaan angin dapat menambah tekanan pada area sambungan kabel, terutama ketika sistem sedang menerima beban tinggi.
Baca juga: Respons Gubernur Sumut Bobby Soal Kompensasi Terhadap Warga Terkena Blackout
Titik Sambungan Jadi Area Paling Kritis
Lebih lanjut, Djoko menyoroti lokasi kabel yang mengalami putus berada pada area mid span jointing atau sambungan di tengah bentangan kabel transmisi. Area tersebut merupakan titik penyatuan dua konduktor yang disambung menggunakan metode dan pelindung khusus.
Menurut dia, titik sambungan menjadi salah satu area yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi karena menerima kombinasi pengaruh getaran, perubahan temperatur, serta distribusi tekanan ketika kabel bergerak akibat angin.
“Pada area sambungan, distribusi tekanannya berbeda dibanding bagian kabel utuh,” ujarnya.
“Karena itu area ini menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi,” lanjut Djoko.
Baca juga: Blackout Sumatera, Bisakah Warga Minta Kompensasi?
Dalam konteks tersebut, ia menilai hasil inspeksi thermal sebelumnya yang menunjukkan kondisi kabel masih normal tidak otomatis bertentangan dengan terjadinya blackout.
Menurut dia, gangguan akibat kombinasi cuaca, getaran, dan tekanan mekanis tidak selalu memunculkan indikasi awal yang mudah terdeteksi, termasuk melalui inspeksi thermal rutin menggunakan drone.
“Kalau sebelumnya hasil drone thermal menunjukkan normal, itu masih sangat mungkin terjadi,” kata Djoko.
“Ada kondisi tertentu yang baru muncul ketika sistem sedang menerima tekanan saat operasi berlangsung,” tambahnya.
Dalam konferensi pers investigasi, aparat juga memperlihatkan potongan kabel yang menjadi sampel barang bukti untuk pengujian laboratorium. Sampel tersebut diambil dari titik kabel yang mengalami kerusakan untuk dianalisis lebih lanjut karena pengujian dilakukan terhadap bagian kabel yang mengalami gangguan.
Baca juga: Blackout Sumatera Berulang: Diagnosa atas Bias Investasi Kelistrikan
Gangguan Lokal Bisa Menjadi Blackout
Djoko menjelaskan, pada sistem interkoneksi besar seperti Sumatera, gangguan pada satu jalur transmisi strategis dapat dengan cepat berkembang menjadi gangguan berantai.
Hal itu terjadi karena pembangkit listrik secara otomatis akan melepaskan diri dari sistem ketika frekuensi jaringan turun drastis untuk melindungi peralatan.
“Begitu frekuensi terganggu, proteksi bekerja otomatis dan pembangkit bisa trip berantai,” ujar dia.
Menurut Djoko, mekanisme proteksi tersebut merupakan standar dalam sistem ketenagalistrikan untuk menjaga peralatan pembangkit dan jaringan dari risiko kerusakan yang lebih besar.
Sebagai informasi, insiden mati listrik massal di Sumatera pada Jumat (22/5/2026) menimbulkan efek domino bagi masyarakat.
Selain menyebabkan kondisi gelap gulita di sejumlah wilayah, pemadaman juga memicu kerugian ekonomi dan sosial.
Listrik padam dilaporkan mulai terjadi sekitar pukul 18.44 WIB di sejumlah wilayah di Provinsi Riau.
Dikutip dari Kompas.com, Senin (25/5/2026), dalam waktu hampir bersamaan gangguan juga dirasakan di beberapa daerah lain di Sumatera, seperti Sumatera Utara, Aceh, Jambi, Sumatera Barat, Lampung, hingga sebagian Sumatera Selatan.
Pemadaman yang memicu kerugian ekonomi dan sosial tersebut menjadi perhatian masyarakat yang menuntut adanya ganti rugi atas insiden tersebut.
Tag: #blackout #sumatera #ungkap #titik #rawan #jaringan #listrik