AS dan Inggris Bahas Pemulihan Jalur Kapal di Selat Hormuz
- Inggris dan Amerika Serikat (AS) dikabarkan membahas persoalan gencatan senjata AS dan Iran, serta opsi militer untuk Selat Hormuz.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer melakukan panggilan telepon dengan Presiden AS Donald Trump pada Kamis (9/4/2026) malam.
Dilansir dari CNN, Jumat (10/4/2026), Starmer mengatakan bahwa dia memberi tahu Trump jika gencatan senjata dengan Iran akan bertahan, maka itu harus melibatkan negara-negara tetangga di Teluk Persia.
Baca juga: Gebrakan Mojtaba Khamenei, Umumkan Strategi Baru Kelola Selat Hormuz
“Negara-negara Teluk ini adalah tetangga Iran. Oleh karena itu, jika gencatan senjata ingin bertahan, dan kami berharap demikian, gencatan senjata itu harus melibatkan mereka. Mereka memiliki pandangan yang sangat kuat tentang Selat Hormuz,” kata Starmer saat berbicara dari Qatar.
Starmer berada di Qatar dalam rangka kunjungan diplomatik selama tiga hari ke wilayah Teluk.
Dia menyebut, pembicaraannya dengan Trump sebagian besar membicarakan pentingnya rencana untuk memperlancar pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.
Para analis mengatakan bahwa ketidakpastian seputar selat tersebut masih membuat transit kapal terlalu berisiko saat ini.
Baca juga: Drone MQ-4C Triton AS Seharga Rp 3,5 Triliun Hilang di Selat Hormuz
Adapun percakapan telepon Starmer dengan Trump terjadi di tengah hubungan AS-Inggris yang tegang baru-baru ini.
Ditambah ketegangan yang lebih luas antara pemerintahan Trump dan NATO karena negara-negara anggota menolak untuk terlibat langsung dalam perang Iran.
Terkait hubungan Inggris dengan negara-negara Teluk, Starmer menekankan pentingnya “berdiri bersama mereka, sebagai sekutu, sebagai teman mereka di saat dibutuhkan.”
Baca juga: Ide Trump Pungut Tarif Kapal di Selat Hormuz Bersama Iran Ditentang Eropa
Iran tutup dan kendalikan Selat Hormuz
Ilustrasi kapal kontainer. Pemerintah Iran dilaporkan mulai menerapkan kebijakan tarif tol untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Seperti diketahui, Iran menutup dan mengendalikan Selat Hormuz sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Negeri Persia tersebut.
Pemerintah Iran dilaporkan mulai menerapkan kebijakan "tarif tol" untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam bentuk aset kripto atau yuan China.
Langkah ini dinilai sebagai strategi Teheran untuk menghindari sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem keuangan di luar jangkauan AS.
Baca juga: Bukan AS, Negara Teluk Jadi Korban Paling Menderita atas Tarif Selat Hormuz
Dilansir Kompas.com, Kamis (9/4/2026), penggunaan aset digital ini akan menyulitkan pihak berwenang untuk memantau atau menghentikan arus pembayaran tersebut.
Sebab transaksi kripto memiliki kecepatan tinggi dan bergerak di luar sistem perbankan konvensional AS.
Berdasarkan informasi dari para mediator dan pialang kapal, biaya yang ditarik Iran untuk melintasi jalur perdagangan vital tersebut sangat besar.
Para operator pelayaran menyebutkan bahwa biaya untuk satu kapal tanker raksasa bisa mencapai 2 juta dollar AS atau setara sekitar Rp 33 miliar.
Baca juga: Trump Geram Iran Pungut Tarif Tol di Selat Hormuz, Sebut Tak Sesuai Kesepakatan
Selain melalui aset kripto, Iran juga memanfaatkan infrastruktur keuangan China untuk memproses pembayaran ini.
Perusahaan riset kripto TRM menyebutkan bahwa Iran menerima pelunasan biaya tol melalui Bank of Kunlun dengan sistem transfer yang disalurkan lewat Cross-Border Interbank Payment System (CIPS).
Sistem CIPS milik China ini merupakan jalur alternatif bagi sistem pembayaran global SWIFT yang selama ini didominasi oleh pengaruh Barat.
Tag: #inggris #bahas #pemulihan #jalur #kapal #selat #hormuz