UEA Keluar dari OPEC, Dominasi Arab Saudi Dipertanyakan
Bendera OPEC, organisasi negara-negara pengekspor minyak bumi(opec.org)
21:44
6 Mei 2026

UEA Keluar dari OPEC, Dominasi Arab Saudi Dipertanyakan

Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dinilai menjadi titik balik penting dalam tata kelola pasar minyak dunia.

Langkah yang diumumkan pada awal Mei 2026 itu memunculkan kekhawatiran melemahnya pengaruh OPEC dalam mengendalikan produksi dan harga minyak global.

UEA resmi meninggalkan OPEC setelah hampir 60 tahun bergabung dalam organisasi yang selama ini dipimpin Arab Saudi tersebut.

Baca juga: Harga Minyak Melonjak, OPEC+ Tambah Kuota Produksi Juni 2026

Logo OPECwikimedia commons Logo OPEC

Negara itu menyatakan ingin memproduksi minyak tanpa lagi dibatasi kuota produksi yang diterapkan OPEC dan OPEC+.

Menteri Energi UEA Suhail Al Mazrouei mengatakan keputusan itu diambil demi memenuhi kebutuhan pasar global sekaligus memenuhi ekspektasi investor terhadap ekspansi sektor energi negara tersebut.

“UEA berutang kepada investor untuk memproduksi tanpa pembatasan,” kata Al Mazrouei, dikutip dari Reuters, Rabu (6/5/2026).

CEO ADNOC Sultan Al Jaber juga menyebut keluarnya UEA dari OPEC sebagai langkah strategis agar negara itu dapat mempercepat investasi energi dan meningkatkan pertumbuhan sektor migas secara mandiri.

Baca juga: OPEC+ Naikkan Target Produksi, Dampak Gangguan di Selat Hormuz

Langkah UEA tersebut langsung memicu spekulasi mengenai masa depan OPEC, terutama terkait kemampuan organisasi itu menjaga disiplin produksi di tengah meningkatnya rivalitas antarprodusen minyak utama di Timur Tengah.

Ketegangan lama dengan Arab Saudi

Ketegangan antara Arab Saudi dan UEA sebenarnya telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait pembagian kuota produksi.

Ilustrasi produksi minyak.FREEPIK/ATLASCOMPANY Ilustrasi produksi minyak.

UEA disebut lama merasa kapasitas produksinya terus meningkat, tetapi tetap dibatasi aturan OPEC+.

Dalam laporan Oilprice.com disebutkan, UEA selama ini menginginkan ruang produksi lebih besar setelah menggelontorkan investasi besar untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak nasional.

Baca juga: Manuver Strategis Abu Dhabi Meninggalkan OPEC

Di sisi lain, Arab Saudi tetap mendorong disiplin pemangkasan produksi guna menjaga stabilitas harga minyak dunia.

Perbedaan kepentingan itu dinilai semakin memperlebar jarak politik energi kedua negara Teluk tersebut.

Laporan tersebut juga menyebut gaya kepemimpinan Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman dinilai semakin terpusat dan kurang mengakomodasi konsensus tradisional di tubuh OPEC.

Sejumlah delegasi disebut merasa keputusan lebih banyak diinformasikan secara sepihak kepada anggota yang lebih kecil.

Baca juga: Masa Depan Geoenergi Global Setelah OPEC Pecah Kongsi

Keluarnya UEA juga dianggap menghilangkan salah satu kapasitas cadangan produksi terbesar dalam OPEC.

Sebagai salah satu produsen minyak terbesar dunia, UEA selama ini memiliki peran penting dalam menjaga fleksibilitas pasokan kelompok tersebut.

Risiko perang harga minyak

Keputusan UEA meninggalkan OPEC dinilai berpotensi memicu persaingan baru di pasar minyak global.

Keluarnya UEA dipandang dapat menjadi awal dari melemahnya mekanisme pengendalian produksi kolektif yang selama ini dijalankan OPEC+.

Baca juga: Retaknya OPEC: UEA Hengkang, Venezuela & Nigeria Berpotensi Menyusul?

Arab Saudi diperkirakan akan mempertahankan pangsa pasarnya dengan menawarkan harga minyak lebih murah, terutama ke pasar Asia.

Sementara itu, UEA berupaya memperluas pengaruhnya di pasar Eropa dan internasional.

Ilustrasi kilang minyak.FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi kilang minyak.

Persaingan tersebut dinilai dapat mendorong lonjakan produksi global dan menekan harga minyak dunia dalam jangka menengah.

Selain itu, baik Arab Saudi maupun UEA sama-sama membutuhkan pendapatan besar untuk mendanai transformasi ekonomi serta agenda transisi energi masing-masing negara.

Baca juga: Keluar dari OPEC, UEA Tegaskan Komitmen Stabilkan Pasar Minyak

Kondisi itu membuat keduanya memiliki insentif untuk terus meningkatkan produksi minyak.

OPEC+ coba tunjukkan solidaritas

Di tengah gejolak tersebut, OPEC+ berupaya menunjukkan bahwa kelompok produsen minyak itu masih solid.

Pada 3 Mei 2026, tujuh negara anggota OPEC+ menyepakati kenaikan produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari untuk Juni 2026.

Keputusan itu diumumkan setelah pertemuan virtual yang diikuti Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.

Baca juga: Dampak UEA Keluar dari OPEC: Harga Minyak Bisa Lebih Bergejolak

Dalam pernyataannya, OPEC menyebut langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari komitmen menjaga stabilitas pasar minyak global.

"Dalam komitmen kolektif mereka untuk menstabilkan pasar minyak," demikian pernyataan resmi OPEC.

Kenaikan produksi tersebut merupakan kelanjutan dari penyesuaian sukarela pemangkasan produksi yang pertama kali diumumkan pada April 2023.

OPEC menyebut tambahan produksi dapat dikembalikan sebagian atau sepenuhnya bergantung pada kondisi pasar global.

Baca juga: Ini Alasan UEA Keluar dari OPEC Mulai 1 Mei 2026

Berdasarkan rincian yang dirilis OPEC, tambahan produksi Juni 2026 terdiri dari kenaikan 62.000 barrel per hari dari Arab Saudi dan Rusia, 26.000 barrel dari Irak, 16.000 barrel dari Kuwait, 10.000 barel dari Kazakhstan, 6.000 barrel dari Aljazair, dan 5.000 barrel dari Oman.

Ilustrasi produksi minyak, kilang minyak, harga minyak.SHUTTERSTOCK/DED PIXTO Ilustrasi produksi minyak, kilang minyak, harga minyak.

Kenaikan produksi dinilai masih simbolis

Meski OPEC+ mengumumkan tambahan produksi, sejumlah analis menilai langkah tersebut lebih bersifat simbolis dibanding benar-benar menambah pasokan minyak secara signifikan.

Pasar energi global masih dibayangi gangguan distribusi akibat konflik di Timur Tengah dan terganggunya jalur pelayaran Selat Hormuz.

Dinamika geopolitik kawasan membuat tambahan produksi dari sejumlah negara belum tentu dapat sepenuhnya terealisasi di pasar.

Baca juga: Penyebab UEA Keluar dari OPEC: Tersandera Kuota Produksi Minyak

Gangguan distribusi minyak dari kawasan Teluk juga membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi lonjakan harga energi apabila ketegangan geopolitik kembali meningkat.

Sebelumnya, kenaikan produksi OPEC+ untuk Mei 2026 sebesar 206.000 barrel per hari juga dinilai sebagian besar hanya akan terjadi “di atas kertas”, karena sejumlah negara produsen mengalami hambatan produksi akibat konflik kawasan.

Dominasi OPEC mulai dipertanyakan

Keluarnya UEA juga memunculkan pertanyaan mengenai masa depan efektivitas OPEC sebagai kartel minyak dunia.

Selama beberapa dekade, OPEC memainkan peran penting dalam mengendalikan pasokan dan memengaruhi harga minyak global melalui koordinasi produksi antaranggota.

Baca juga: Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC, Pasar Minyak Dunia Hadapi Risiko Baru

Namun meningkatnya produksi dari negara-negara non-OPEC seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Guyana membuat dominasi organisasi tersebut semakin tertekan.

Keluarnya UEA dinilai menunjukkan semakin sulitnya mempertahankan solidaritas di antara negara-negara produsen minyak yang memiliki kepentingan ekonomi dan geopolitik berbeda-beda.

Selain faktor kuota produksi, langkah UEA juga dipandang mencerminkan perubahan orientasi geopolitik negara-negara Teluk.

UEA dinilai semakin agresif memperluas pengaruh ekonomi dan energi secara independen, termasuk melalui investasi besar-besaran di sektor minyak dan infrastruktur ekspor energi.

Baca juga: OPEC: Produksi Minyak Timur Tengah Anjlok 23-61 Persen, Butuh Berbulan-bulan untuk Pulih

UEA bahkan disebut menyiapkan investasi puluhan miliar dollar AS untuk proyek minyak dalam beberapa tahun ke depan.

Di sisi lain, sejumlah negara anggota OPEC+ seperti Irak dan Kazakhstan sebelumnya juga pernah menyampaikan keberatan terhadap dominasi Arab Saudi dalam pengambilan keputusan produksi.

Meski demikian, sebagian pihak menilai krisis saat ini justru bisa memperkuat solidaritas internal OPEC+ dalam jangka pendek karena negara-negara produsen masih membutuhkan koordinasi menghadapi ketidakpastian pasar energi global.

Tag:  #keluar #dari #opec #dominasi #arab #saudi #dipertanyakan

KOMENTAR