Importir China Siap Bayar Lebih Mahal untuk Daging Sapi Ramah Lingkungan
ilustrasi sapi impor (Pexels)
09:20
10 Mei 2026

Importir China Siap Bayar Lebih Mahal untuk Daging Sapi Ramah Lingkungan

China mulai menunjukkan perubahan sikap dalam perdagangan komoditas global. Negara yang selama ini dikenal sangat sensitif terhadap harga kini mulai memberi perhatian lebih besar pada isu lingkungan, terutama impor daging sapi dari Brasil.

Perubahan itu terlihat dari langkah Asosiasi Industri Daging Tianjin. Organisasi tersebut mewakili importir sekitar 40 persen pembelian daging sapi Brasil ke China.

Kelompok itu berkomitmen membeli 50.000 ton metrik daging sapi Brasil bersertifikat bebas deforestasi hingga akhir tahun.

Jumlah tersebut setara sekitar 4,5 persen dari total ekspor daging sapi Brasil ke China tahun ini.

Baca juga: Perang Iran Picu Aksi Borong Barang dari China, Ekspor Melonjak Tajam

Ketua Asosiasi Industri Daging Tianjin Xing Yanling mengatakan kunjungannya ke kawasan Amazon Brasil pada April lalu memberi kesan mendalam.

Saat mengunggah pengalaman itu di WeChat, Xing menggambarkan suasana berada di tengah “puluhan ribu nuansa hijau” hutan Amazon.

Langkah Tianjin dinilai penting karena menantang asumsi lama di kalangan peternak Brasil, yakni China hanya mengejar harga murah.

Perubahan ini juga muncul di tengah upaya Beijing memperkuat kebijakan lingkungan dalam perdagangan internasional.

China sebelumnya merevisi undang-undang kehutanan pada 2019 untuk melarang perdagangan kayu ilegal.Ilutrasi hutan Amazon yang melintasi sembilan negara Amerika Selatan, termasuk Brasil.PIXABAY/ HunterProducciones Ilutrasi hutan Amazon yang melintasi sembilan negara Amerika Selatan, termasuk Brasil.

Kemudian pada 2023, China dan Brasil menandatangani komitmen bersama untuk mengakhiri deforestasi ilegal yang dipicu aktivitas perdagangan.

Mulai tahun lalu, perusahaan perdagangan milik negara China, COFCO, juga menyatakan komitmen menghapus praktik deforestasi dari rantai pasokannya.

Baca juga: Brand Lain Mundur, McDonalds Malah Mau Punya 10.000 Gerai di China

Daging sapi jadi sorotan

Analis Trase, platform pemantau dampak lingkungan rantai pasok global, Andre Vasconcelos, menilai sektor daging sapi memang menjadi perhatian utama.

“Pada saat yang sama, ada kesadaran, yang didukung oleh informasi yang tersedia, bahwa daging sapi, terutama daging sapi Brasil, adalah komoditas yang paling terkait dengan deforestasi di antara semua komoditas pertanian yang diimpor oleh Tiongkok,” kata dia.

Hutan Amazon selama ini terus menyusut akibat pembukaan lahan peternakan.

Data organisasi pemantau penggunaan lahan Brasil, MapBiomas, menunjukkan 90 persen area hutan yang ditebang kemudian diubah menjadi padang penggembalaan ternak.

Menurut Xing, pola konsumsi masyarakat China mulai berubah seiring meningkatnya pendapatan.

“Bukan hanya ‘murah itu bagus’,” ujarnya. “Ini berarti daging sapi yang bebas deforestasi, ramah lingkungan, aman, dan dapat dilacak akan memiliki pasar yang lebih kuat di masa depan.”

Meski begitu, faktor harga masih menjadi tantangan. Banyak konsumen China masih menghadapi kenaikan harga pangan sehingga belum seluruhnya memprioritaskan produk ramah lingkungan.

Namun, sistem ketertelusuran produk dinilai memberi nilai tambah karena membantu menjamin keamanan pangan.

Label khusus dan harga premium

Daging sapi tersebut nantinya dipasarkan menggunakan label “Beef on Track” yang dikembangkan organisasi nirlaba Brasil, Imaflora.

Label itu memiliki empat tingkatan sertifikasi.

Penilaiannya mencakup kemampuan melacak asal ternak hingga pembuktian lahan peternakan tidak terkait deforestasi ilegal maupun praktik kerja paksa.

Importir Tianjin bahkan bersedia membayar harga sekitar 10 persen lebih mahal untuk produk yang memenuhi standar tersebut.

Jika tren ini berkembang, dampaknya dinilai cukup besar. China saat ini membeli lebih dari 10 persen total ekspor daging sapi Brasil.

Namun, tantangan terbesar masih berada pada sistem ketertelusuran Brasil yang dinilai lemah.

Jaksa di Brasil menyebut dokumen transportasi ternak masih mudah dipalsukan.

Praktik itu dikenal sebagai “pencucian ternak”, yakni upaya menyamarkan asal hewan dari lahan yang terkait pelanggaran lingkungan.

Perbaikan sistem tersebut diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Industri Brasil masih hati-hati

Saat Xing dan delegasinya mengunjungi peternakan Carioca di Castanhal, wilayah utara Amazon, peternak Altair Burlamaqui mengaku tidak menyangka pembicaraan soal keberlanjutan berkembang serius.

Setelah melihat peternakan dan kawasan hutan lindung di lahannya, delegasi China bertanya apakah ia tertarik menjual daging sapi sebagai produk yang ikut menjaga Amazon.

“Yang saya pahami dari percakapan dengan mereka adalah bahwa mereka menginginkan produk dengan nilai tambah lebih bagi sebagian penduduk mereka yang bersedia membayarnya,” kata Burlamaqui.

“Tetapi sebagian penduduk mereka mungkin lebih besar daripada seluruh penduduk Brasil.”

Meski begitu, respons industri daging sapi Brasil masih cenderung hati-hati.

Asosiasi Eksportir Daging Sapi Brasil atau ABIEC khawatir standar baru tersebut berubah menjadi hambatan tambahan di pasar yang sudah ketat.

China tahun ini juga menerapkan kuota impor daging sapi untuk melindungi industri domestiknya.

Brasil diperkirakan mencapai batas kuota sekitar 1,1 juta ton pada akhir bulan depan.

Jika kuota terlampaui, impor berikutnya dikenai tarif 55 persen oleh China.

Dalam pernyataannya, ABIEC mengatakan mendukung sertifikasi, tetapi meminta standar baru tetap selaras dengan sistem yang sudah ada.

“Mendukung inisiatif yang berfokus pada sertifikasi tetapi menganggap bahwa label baru apa pun harus selaras dengan sistem yang sudah ada, menghindari tumpang tindih dan persyaratan yang kurang memiliki infrastruktur publik untuk implementasi, yang dapat menciptakan potensi hambatan bagi produksi,” tulis ABIEC.

Peluang pasar baru

Konsumen China sendiri sudah cukup akrab dengan produk pangan berbasis sistem pelacakan digital.

Xing mencontohkan telur di China kini banyak dijual menggunakan kode QR sehingga konsumen dapat mengetahui asal peternakannya.

Menurut dia, konsumen bahkan bersedia membayar dua kali lebih mahal untuk produk yang bisa dilacak asal-usulnya.

Sertifikasi Beef on Track dijadwalkan mulai digunakan akhir tahun ini oleh importir, supermarket, dan perusahaan pengemasan daging.

Program tersebut saat ini mencakup pemasok dengan kapasitas produksi sekitar 2,7 juta ton daging sapi per tahun, setara seperlima produksi Brasil.

Manajer kebijakan Imaflora Marina Guyot menilai sertifikasi ini membuka peluang baru bagi industri Brasil.

“Industri masih berusaha memahami bagaimana sertifikasi ini dapat mengakui dan menghargai produk-produk Brasil, dalam skenario ketegangan geopolitik,” kata Guyot.

“Ini adalah sertifikasi yang menciptakan kemungkinan untuk menghargai upaya ini,” lanjut dia.

Tag:  #importir #china #siap #bayar #lebih #mahal #untuk #daging #sapi #ramah #lingkungan

KOMENTAR