Wall Street Reli 6 Pekan Beruntun, Pasar Abaikan Ketegangan Timur Tengah
Ilustrasi Wall Street.()
09:56
10 Mei 2026

Wall Street Reli 6 Pekan Beruntun, Pasar Abaikan Ketegangan Timur Tengah

- Bursa saham Amerika Serikat kembali mencetak rekor pada perdagangan Jumat (9/5/2026) waktu setempat.

Penguatan didorong data ketenagakerjaan yang lebih baik dari perkiraan, meski konflik Iran masih memicu ketidakpastian global.

Indeks S&P 500 naik 0,8 persen ke level tertinggi sepanjang masa.

Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 12 poin atau kurang dari 0,1 persen. Sementara Nasdaq Composite melonjak 1,7 persen dan mencetak rekor baru.

Baca juga: Bursa Asia Reli ke Rekor Tertinggi, Harga Minyak Mulai Melandai

Data ketenagakerjaan AS menunjukkan perusahaan-perusahaan di negara itu menambah sekitar 115.000 lapangan kerja bersih pada April 2026.

Jumlah tersebut jauh di atas perkiraan ekonom.

Hasil itu memang lebih rendah dibanding Maret. Namun, pasar menilai angkanya masih cukup kuat untuk meredakan kekhawatiran perlambatan ekonomi akibat perang di Timur Tengah.

Kenaikan ini membuat S&P 500 mencatat reli enam pekan berturut-turut. Catatan itu menjadi yang terpanjang sejak 2024.

Investor masih berharap konflik Iran tidak berkembang menjadi krisis ekonomi global yang lebih besar.

Pasar juga menaruh harapan Selat Hormuz kembali dibuka penuh sehingga distribusi minyak dari Teluk Persia kembali normal.

Namun, situasi geopolitik masih rapuh.

Baca juga: IHSG Ditutup Naik ke Level 7.092, Bursa Asia Kompak Menguat

Pada Jumat, pasukan Amerika Serikat dilaporkan menembaki dan melumpuhkan dua kapal tanker Iran setelah baku tembak di Selat Hormuz.

Insiden itu kembali memunculkan kekhawatiran terkait keberlanjutan gencatan senjata yang telah berlangsung sekitar sebulan.

Harga minyak kembali naik

Ketegangan terbaru langsung mendorong harga minyak dunia kembali naik.

Harga minyak mentah Brent meningkat 1,2 persen menjadi 101,29 dollar AS per barel atau sekitar Rp 1,76 juta per barel, dengan kurs Rp 17.377 per dollar AS.

Harga tersebut memang masih lebih rendah dibanding puncak perang yang sempat menembus 119 dollar AS per barel atau sekitar Rp 2,07 juta.

Namun, level saat ini tetap jauh lebih tinggi dibanding akhir Februari sebelum perang dimulai. Saat itu, harga minyak masih berada di kisaran 70 dollar AS per barel atau sekitar Rp 1,21 juta.

Laporan keuangan perusahaan ikut menopang pasar

Selain data tenaga kerja, pasar saham juga ditopang laporan kinerja perusahaan yang solid pada awal 2026.

Saham Monster Beverage melonjak 13,6 persen setelah produsen minuman energi itu melaporkan laba dan pendapatan di atas ekspektasi analis.

Perusahaan menyebut penjualan internasional menjadi motor utama pertumbuhan.

Penjualan dari luar AS kini menyumbang sekitar 45 persen total pendapatan. Angka itu menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Sementara itu, saham Akamai Technologies melesat 26,6 persen.

Perusahaan keamanan siber dan komputasi awan tersebut mengumumkan kontrak layanan cloud senilai 1,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 31,27 triliun selama tujuh tahun.

Akamai ikut diuntungkan lonjakan investasi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Di sisi lain, saham CoreWeave turun 11,4 persen.

Perusahaan penyedia komputasi AI berbasis cloud itu memang mencatat pendapatan lebih dari dua kali lipat dibanding tahun lalu. Namun, kerugian bersih perusahaan lebih besar dari perkiraan analis.

Prospek pendapatan kuartal berikutnya juga dinilai kurang memuaskan pasar.

Bursa Asia dan Eropa melemah

Berbeda dengan Wall Street, mayoritas bursa Asia dan Eropa justru ditutup melemah.

Indeks DAX Jerman turun 1,3 persen, sedangkan Hang Seng Hong Kong merosot 0,9 persen.

Korea Selatan menjadi pengecualian. Indeks Kospi naik tipis 0,1 persen dan mencetak rekor tertinggi baru.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,36 persen dari sebelumnya 4,41 persen.

Penurunan terjadi setelah survei Universitas Michigan menunjukkan sentimen konsumen AS masih lemah akibat tingginya harga bensin dan dampak tarif perdagangan.

Imbal hasil obligasi yang lebih rendah biasanya membantu menekan bunga kredit rumah dan pinjaman bisnis.

Kondisi tersebut dinilai positif bagi ekonomi dan pasar saham.

Meski turun, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun masih jauh lebih tinggi dibanding sebelum perang Iran. Saat itu, levelnya berada di 3,97 persen.

Tag:  #wall #street #reli #pekan #beruntun #pasar #abaikan #ketegangan #timur #tengah

KOMENTAR