Mitos Seputar ASI Setelah 6 Bulan yang Masih Banyak Dipercaya, Ini Kata AIMI
Mitos Seputar ASI Setelah 6 Bulan yang Masih Banyak Dipercaya, Ini Kata AIMI(freepik)
21:36
6 Mei 2026

Mitos Seputar ASI Setelah 6 Bulan yang Masih Banyak Dipercaya, Ini Kata AIMI

Mitos seputar pemberian ASI setelah bayi berusia enam bulan masih banyak beredar di masyarakat dan kerap memengaruhi keputusan orangtua.

Padahal, rekomendasi menyusui hingga dua tahun atau lebih telah menjadi standar global dan juga diatur dalam kebijakan nasional.

Menurut Konselor Menyusui dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (IMAI), Lianita Prawindart, kesalahpahaman ini menjadi salah satu faktor yang membuat praktik menyusui belum optimal.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan, sebanyak 64,9 persen anak usia 12–23 bulan masih mendapatkan ASI.

Namun, angka ini belum menggambarkan apakah pemberian ASI dilakukan secara optimal tanpa tambahan yang tidak diperlukan, seperti susu formula tanpa indikasi medis.

Mitos: ASI tidak lagi penting setelah MPASI

Salah satu anggapan yang paling umum adalah bahwa ASI tidak lagi dibutuhkan setelah bayi mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI).

Menurut Lianita, ASI tetap berperan penting dalam memenuhi kebutuhan gizi dan perlindungan imunologis anak.

“Miskonsepsi yang sering muncul adalah ASI tidak lagi penting setelah MPASI, padahal perannya tetap dibutuhkan hingga usia dua tahun atau lebih,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (6/5/2026).

MPASI seharusnya berfungsi sebagai pelengkap, bukan pengganti ASI.

Mitos: Bayi perlu susu formula lanjutan

Anggapan lain yang juga banyak dipercaya adalah bayi usia 6–12 bulan membutuhkan susu formula lanjutan agar tumbuh optimal.

Menurut Lianita, produk tersebut bukan kebutuhan wajib bagi bayi yang sehat.

Pemberian susu formula hanya dianjurkan jika terdapat indikasi medis yang jelas dan berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan.

“Bahkan pada kondisi tertentu, pemberian susu formula bersifat sementara dan tidak menghentikan proses menyusui,” kata Lianita.

Baca juga: IDAI Tekankan Pentingnya ASI bagi Bayi Korban Banjir

Ilustrasi ibu menyusui.Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi ibu menyusui.

Tidak sedikit ibu yang merasa produksi ASI-nya tidak lagi cukup setelah bayi mulai makan.

Perasaan ini sering kali dipengaruhi oleh komentar lingkungan atau informasi yang keliru.

Padahal, kualitas ASI tidak menurun begitu saja.

Sebaliknya, komposisinya akan menyesuaikan kebutuhan tumbuh kembang anak.

Miskonsepsi ini dapat berdampak pada kepercayaan diri ibu, yang akhirnya memengaruhi keberlanjutan menyusui.

Mitos: Menyusui setelah satu tahun tidak ada manfaatnya

Menyusui anak di atas satu tahun juga masih sering dipandang tidak penting, bahkan dianggap berlebihan.

Padahal, menyusui hingga dua tahun merupakan bagian dari standar emas pemberian makan bayi dan anak yang direkomendasikan oleh World Health Organization.

Selain manfaat nutrisi, menyusui juga berperan dalam memperkuat sistem imun serta membangun kedekatan emosional antara ibu dan anak.

Baca juga: Ahli Beberkan Beberapa Kondisi Bayi Bisa Diberi Pengganti ASI

Miskonsepsi masih jadi tantangan nyata

Lianita menjelaskan, kesalahpahaman tentang ASI ini tidak hanya datang dari masyarakat, tetapi terkadang juga dari tenaga kesehatan yang belum sepenuhnya memahami rekomendasi menyusui.

Akibatnya, ibu menjadi ragu dan merasa ASI-nya tidak cukup, sehingga memutuskan untuk menghentikan menyusui lebih cepat.

Di sisi lain, tantangan juga datang dari faktor eksternal, seperti promosi susu formula yang masif, durasi cuti melahirkan yang terbatas, hingga minimnya dukungan di tempat kerja.

Dukungan dan informasi yang tepat sangat dibutuhkan

Untuk bisa menyusui hingga dua tahun, ibu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, lingkungan sosial, hingga tenaga kesehatan dan tempat kerja.

“Jika seorang ibu berhasil menyusui, itu adalah keberhasilan bersama. Sebaliknya, jika gagal, bisa jadi lingkungan belum memberikan dukungan yang cukup,” ujar Lianita.

Ia juga menekankan pentingnya mencari bantuan profesional saat menghadapi masalah menyusui.

“Konseling menyusui bersifat personal. Akar masalah setiap ibu bisa berbeda, sehingga solusinya juga harus disesuaikan,” katanya.

Baca juga: Lesti Kejora Berbagi Pengalaman Mengatasi ASI yang Seret

Hak ibu untuk menyusui

Pada akhirnya, menyusui bukan hanya soal pilihan, tetapi juga hak ibu dan anak yang perlu didukung bersama.

Dengan informasi yang benar dan dukungan yang memadai, ibu memiliki peluang lebih besar untuk melanjutkan pemberian ASI hingga dua tahun atau lebih, sesuai rekomendasi yang ada.

Di tengah berbagai mitos yang beredar, pemahaman yang tepat menjadi kunci agar praktik menyusui dapat berjalan optimal demi kesehatan anak jangka panjang.

Tag:  #mitos #seputar #setelah #bulan #yang #masih #banyak #dipercaya #kata #aimi

KOMENTAR