Sebelum Iran-AS Gencatan Senjata, Warga Teheran Bersiap Hadapi Serangan Trump
Warga Iran mengibarkan bendera negara saat menghadiri pemakaman para komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel, di Lapangan Enghelab, Teheran, 11 Maret 2026.(AFP/ATTA KENARE)
11:12
8 April 2026

Sebelum Iran-AS Gencatan Senjata, Warga Teheran Bersiap Hadapi Serangan Trump

- Ketegangan di Iran memuncak menjelang berakhirnya tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Dia menetapkan tenggat Selasa (7/4/2026) pukul 20.00 zona waktu Eastern Time (ET) AS, alias pada Rabu (8/3/2026) pukul 3.30 waktu Teheran, atau Rabu pukul 07.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). 

Trump mengancam akan mengebom infrastruktur kritis, termasuk jaringan listrik dan jembatan, jika jalur perairan vital tersebut tidak segera dibuka. 

Baca juga: Jelang Tenggat Waktu Trump, AS-Israel Kembali Serang Pulau Kharg Iran

Ancaman ini tetap dikeluarkan meskipun tindakan menargetkan infrastruktur sipil merupakan pelanggaran hukum internasional.

Bahkan, Trump melontarkan ancaman mengerikan bahwa serangan tersebut bisa menjadi akhir bagi seluruh peradaban Iran.

"Kita semua tahu dia cukup gila untuk melakukannya. Dia tidak peduli selama dia percaya itu melayani kepentingannya," ujar seorang penduduk Teheran kepada Al Jazeera.

Warga bersiap menghadapi pemadaman total

Di tengah ketidakpastian, warga Iran mulai melakukan persiapan darurat. Di Teheran, warga tampak memenuhi stasiun pengisian bahan bakar, sementara stok kebutuhan pokok seperti roti dan tepung mulai diborong untuk menghadapi hari-hari sulit.

"Saya tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa malam terakhir," ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya kepada Al Jazeera karena alasan keamanan. 

Baca juga: Ultimatum Trump ke Iran: Seluruh Peradaban Akan Mati Malam Ini

Dia kini sibuk mengisi daya ponsel, laptop, dan power bank untuk mengantisipasi pemadaman listrik.

Kekhawatiran utama warga adalah terhentinya pompa air jika listrik padam. Hal ini memicu lonjakan harga air minum kemasan di tengah inflasi parah yang sudah menjepit negara tersebut sebelum konflik pecah.

Kondisi ini juga mengancam keselamatan penyandang disabilitas dan orang sakit yang membutuhkan listrik untuk peralatan medis atau pendingin obat-obatan esensial.

Di Provinsi Gilan, seorang warga mengaku terpaksa menghabiskan seluruh tabungannya dari penghasilan libur Nowruz hanya untuk membeli generator listrik berkapasitas 25 liter.

"Alat ini setidaknya meredakan sedikit kecemasan, meskipun sekarang sangat sulit ditemukan karena barang tidak bisa lagi diimpor akibat perang," katanya.

Baca juga: Abaikan Ancaman Trump, Negara Asia Pilih Jalur Diplomasi Amankan Selat Hormuz

Dampak mulai terasa

Ketegangan ini merupakan kelanjutan dari eskalasi serangan gabungan AS dan Israel yang dimulai sejak akhir Februari. 

Di Karaj, sebuah kota dekat Teheran, serangan pada 2 April lalu di Jembatan B1 telah menewaskan sedikit juga 13 orang dan melukai lebih dari 90 lainnya.

Milad Alavi, seorang jurnalis di Karaj, menggambarkan situasi kota yang kian mencekam.

"Orang-orang membeli roti, tepung, makanan kaleng, dan wadah penyimpanan air. Pasar lilin juga memanas dan harganya naik tiga kali lipat. Tidak ada yang tahu nasib apa yang menanti kami. Kami hanya berharap besok kami masih hidup," tulisnya di media sosial.

Di wilayah barat, serangan udara Israel yang menyasar pusat petrokimia di Mahshahr telah memaksa warga untuk mengungsi ke provinsi-provinsi di utara Iran demi keselamatan keluarga mereka.

Baca juga: Trump Ancam Penjarakan Jurnalis AS yang Bocorkan Info F-15 Jatuh di Iran

Respons pemerintah dan aksi protes

Kementerian Energi Iran dalam pernyataan resminya pada Selasa malam mengeklaim telah "siap sepenuhnya untuk skenario terburuk" dan meminta masyarakat tetap tenang.

Kantor berita Fars yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melaporkan, petugas pembangkit listrik dan sejumlah pensiunan pekerja listrik telah sukarela bersiaga untuk menangani keadaan darurat.

Di sisi lain, gelombang protes muncul di berbagai titik. Warga berdemonstrasi di depan pembangkit listrik dan jembatan-jembatan besar untuk menolak ancaman Trump

Musisi Ali Ghamsari menyatakan akan terus melakukan aksi protes di depan pembangkit listrik Damavand yang memasok listrik bagi ibu kota.

Mantan Presiden Iran, Hassan Rouhani, juga merespons keras pernyataan Trump.

"Peradaban Iran yang berlandaskan pada pengetahuan, seni, dan sastra, serta di atas segalanya pada iman, kebijaksanaan, dan pengorbanan diri—telah menang atas semua pihak yang menentang peradaban dan berusaha menghancurkan tanah air ini," tegas Rouhani.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump belum menyetujui kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.AFP/NATHAN HOWARD Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump belum menyetujui kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.

Saat ini, patroli bermotor yang memutar lagu-lagu revolusi terus berkeliling di jalanan Teheran.

Sementara pos-pos pemeriksaan bersenjata mengontrol ketat setiap sudut kota di bawah bayang-bayang ancaman serangan udara.

Baca juga: Dilema Sekutu AS: Frustrasi dengan Trump, Tak Tahu Apa Maunya

Gencatan senjata

Akan tetapi, beberapa jam sebelum tenggat waktu serangan AS, Trump mengumumkan bahwa AS dan Iran menyepakati gencatan senjata.

"Saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran untuk jangka waktu dua minggu," tulis Trump di platform media sosial, Truth Social.

Trump menegaskan bahwa langkah ini akan menjadi sebuah gencatan senjata dua sisi. Namun, dia memberikan syarat mutlak agar kesepakatan ini berjalan.

"Tunduk pada persetujuan Iran untuk melakukan pembukaan Selat Hormuz secara lengkap, segera, dan aman," tegasnya.

Trump bahkan mengungkapkan bahwa para pemimpin Pakistan membujuknya untuk menunda serangan militer.

Baca juga: BREAKING NEWS: Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang AS-Iran 2 Pekan

"Mereka meminta agar saya menahan kekuatan destruktif yang (sedianya) dikirim malam ini ke Iran," ungkap Trump dalam unggahannya.

Terkait alasan penghentian serangan, Trump mengeklaim bahwa operasi militer AS telah mencapai target yang diinginkan. 

"Kita sudah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer," ucap Trump, sebagaimana dilansir BBC.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran juga mengumumkan menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dalam perang melawan AS

Dilansir dari Al Jazeera, dewan tersebut menegaskan bahwa gencatan senjata bukan berarti perang berakhir. 

"Tangan kami tetap berada di pelatuk, dan jika kesalahan sekecil apa pun dilakukan oleh musuh, itu akan ditanggapi dengan kekuatan penuh," ujar Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Baca juga: Gencatan Senjata Perang AS-Iran, Media Teheran Sebut Trump Mundur Memalukan

Tag:  #sebelum #iran #gencatan #senjata #warga #teheran #bersiap #hadapi #serangan #trump

KOMENTAR