Presiden Iran Beri Pesan Menggugah ke Rakyat Amerika: Perang Ini Kepentingan Siapa?
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengirimkan surat terbuka yang ditujukan langsung kepada rakyat Amerika Serikat (AS) pada Rabu (1/4/2026).
Dalam surat tersebut, dia menggugah publik AS untuk melihat narasi buatan serta mempertanyakan kepentingan siapa yang sebenarnya diuntungkan dalam perang AS-Israel melawan Iran.
Surat tersebut dibagikan melalui lembaga penyiaran negara Iran, PressTV, sebagaimana dilansir Al Jazeera.
Baca juga: Tak Mau Dianggap Kalah, Trump Ubah Tujuan Perang Iran
Selain dirilis melalui lembaga penyiaran negara, pesan tersebut juga diunggah di akun X resmi milik Pezeshkian.
To the people of the United States of America pic.twitter.com/3uAL4FZgY7
— Masoud Pezeshkian (@drpezeshkian) April 1, 2026
Pesan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Teheran.
Pezeshkian secara khusus menyoroti kebijakan luar negeri AS di bawah kepemimpinan Trump.
Dia mempertanyakan apakah prinsip "America First" yang selama ini didengungkan benar-benar menjadi prioritas pemerintah AS saat ini.
Baca juga: Bela Serangan ke Iran, Trump: Ini Investasi Sejati untuk Masa Depan Anak
"Kepentingan rakyat Amerika yang mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini?" tulis pemimpin Iran tersebut.
Dia juga mengkritik dampak kemanusiaan dan reputasi AS akibat konflik ini.
"Apakah pembantaian anak-anak yang tidak bersalah, penghancuran fasilitas farmasi perawatan kanker, atau membanggakan pengeboman sebuah negara 'kembali ke zaman batu' memiliki tujuan lain selain merusak reputasi global AS?" lanjutnya.
Di satu sisi, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran memiliki hak untuk membela diri namun tetap menekankan bahwa pihaknya tidak memiliki permusuhan terhadap rakyat AS.
Baca juga: PNS Malaysia Bakal WFH di Tengah Perang Iran, Berhemat Imbas Krisis BBM
Bantah tudingan
Dalam suratnya, Pezeshkian juga membantah keras penggambaran Teheran sebagai ancaman global.
Dia mengungkapkan fakta bahwa Iran justru telah dua kali diserang saat para perundingnya tengah berpartisipasi dalam pembicaraan nuklir multilateral.
Serangan pertama terjadi saat Israel melancarkan perang 12 hari pada Juni 2025, di mana AS sempat bergabung dalam kampanye tersebut.
Serangan kedua terjadi pada akhir Februari tahun ini, yang menyasar infrastruktur energi dan industri Iran.
"Menyerang infrastruktur vital Iran secara langsung menargetkan rakyat Iran. Selain merupakan kejahatan perang, tindakan tersebut membawa konsekuensi yang melampaui batas negara Iran," tegas Pezeshkian.
Menurutnya, serangan-serangan tersebut hanya akan menciptakan ketidakstabilan, meningkatkan biaya ekonomi, serta menanam benih kebencian yang akan bertahan selama bertahun-tahun.
"Ini bukan demonstrasi kekuatan; ini adalah tanda kebingungan strategis dan ketidakmampuan untuk mencapai solusi berkelanjutan," tambahnya.
Baca juga: Benteng Alami di Hormuz, Pulau-pulau Ini Jadi Alasan Iran Mampu Kendalikan Ekonomi Dunia
Tudingan manipulasi oleh Israel
Pezeshkian juga melontarkan tuduhan serius terkait pengaruh Israel terhadap kebijakan luar negeri AS.
Doa mempertanyakan apakah pemerintahan Trump telah "dimanipulasi" oleh Israel untuk melancarkan agresi pada 28 Februari lalu.
"Bukankah Amerika memasuki agresi ini sebagai proksi bagi Israel, yang dipengaruhi dan dimanipulasi oleh rezim tersebut?" tulis Pezeshkian.
Dia juga menuding bahwa Israel sengaja menciptakan narasi "ancaman Iran" untuk mengalihkan perhatian dunia dari tindakan mereka terhadap Palestina.
Pezeshkian berpendapat bahwa Israel ingin melawan Iran dengan mengorbankan nyawa tentara dan uang pajak rakyat Amerika.
Baca juga: 4 Skenario jika Trump Tinggalkan Perang Iran Tanpa Buka Selat Hormuz
Ancaman dari Trump
Presiden AS Donald Trump.
Surat terbuka ini dirilis hanya beberapa jam setelah Trump mengeluarkan ancaman baru melalui media sosial.
Trump menyatakan bahwa AS akan terus menggempur Iran hingga musnah atau kembali ke Zaman Batu kecuali Selat Hormuz dibuka kembali.
Trump juga sempat mengeklaim bahwa pemimpin Iran yang baru telah meminta gencatan senjata untuk mengakhiri perang, sebuah klaim yang kemudian dibantah keras oleh pejabat Iran.
Terkait situasi ini, koresponden Al Jazeera, Ali Hashem, melaporkan dari Teheran bahwa saat ini sedang terjadi "perang narasi" yang sengit.
"Sementara pemerintahan Amerika mencoba mendorong narasi kemenangan, otoritas Iran mencoba mendorong narasi bahwa mereka sedang berada di bawah serangan," ujar Hashem.
Baca juga: Trump Gembar-gembor Menang Perang, Yakinkan Warga AS soal Urgensi Serang Iran
Tag: #presiden #iran #beri #pesan #menggugah #rakyat #amerika #perang #kepentingan #siapa