Harga LNG Global Naik, Pakar Minta Pasokan Domestik Dijaga
Ilustrasi kapal tanker LNG.(PEXELS/DIEGO F PARRA)
15:40
18 Mei 2026

Harga LNG Global Naik, Pakar Minta Pasokan Domestik Dijaga

Eskalasi geopolitik di Timur Tengah mendorong krisis energi global yang berdampak langsung terhadap rantai pasok dan harga energi dunia, termasuk gas alam cair alias liquefied natural gas (LNG).

Dalam situasi tersebut, keberlanjutan pasokan energi dinilai menjadi faktor yang paling penting untuk dijaga.

Pakar energi Iwa Garniwa mengatakan, dalam kondisi krisis geopolitik, prioritas utama bukan lagi harga energi, melainkan keamanan pasokan atau security of supply.

Baca juga: Pasar Energi Asia Bergejolak, Harga LNG dan Solar Industri Naik

Ilustrasi kapal tanker LNG. WIKIMEDIA COMMONS/GORDON LEGGETT Ilustrasi kapal tanker LNG.

"Di krisis geopolitik prioritas utama adalah security of supply, bukan harga. Jadi ya, mengamankan pasokan fisik jauh lebih krusial daripada sekadar menjaga harga. Kalau energinya tidak ada, harga murah pun tidak ada gunanya. Ini hal yang sangat penting untuk ke depannya,” ujar Iwa, Senin (18/5/2026).

Menurut dia, situasi pasar energi global saat ini memperlihatkan bagaimana negara-negara berlomba mengamankan pasokan di tengah ketatnya ketersediaan komoditas energi.

Iwa menyinggung pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang pernah menceritakan Indonesia sempat mengamankan pengiriman dua kapal energi.

Namun, kapal tersebut berbelok sebelum masuk perairan Indonesia karena ada negara lain yang berani membeli dengan harga lebih tinggi.

Baca juga: Qatar Kembali Kirim LNG Lewat Selat Hormuz di Tengah Konflik Iran

”Pernyataan Menteri ESDM itu realitas pasar spot energi global. Saat pasokan ketat, komoditas energi bersifat price insensitive. Siapa bayar lebih tinggi, kapal akan berbelok,” kata dia.

Negara tanpa kontrak jangka panjang dinilai rentan

Ilustrasi fasilitas LNG.PEXELS/TOM FISK Ilustrasi fasilitas LNG.

Iwa yang juga Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus Rektor IT PLN menjelaskan, negara yang tidak memiliki kontrak jangka panjang, infrastruktur regasifikasi yang fleksibel, dan cadangan strategis akan kesulitan bersaing dalam perebutan pasokan energi global.

Padahal, menurut dia, energi sangat dibutuhkan untuk menopang sektor-sektor vital, termasuk industri dan kelistrikan.

”Ketersediaan lebih penting dari pada harga dalam jangka pendek. Energi memang ‘oksigen’ ekonomi. Tanpa listrik, tanpa gas untuk industri, pabrik berhenti, rantai pasok putus, inflasi meningkat, yang mana ini sangat tidak diinginkan oleh semua negara,” jelasnya.

Baca juga: IEA: Krisis Timur Tengah Ganggu Pasokan LNG Global hingga 2027

Dari sudut pandang akademis, Iwa menegaskan bahwa dalam situasi seperti saat ini urutan prioritas utama adalah memastikan ketersediaan energi terlebih dahulu. Setelah itu, baru dilakukan pengaturan harga sesuai prinsip keadilan.

Availability first, then affordability management. Sebaiknya jangan dibalik,” ujarnya.

Ia mengatakan kondisi tersebut berlaku untuk seluruh jenis energi, mulai dari bahan bakar minyak (BBM), LPG, hingga LNG yang kini mengalami lonjakan harga di tengah dinamika geopolitik global.

Di Indonesia, harga elpiji industri tercatat meningkat sekitar 25 hingga 26 persen. Sementara itu, solar industri mengalami kenaikan jauh lebih tinggi, yakni sekitar 77 sampai 84 persen mengikuti lonjakan harga energi global.

Baca juga: Lalu Lintas Selat Hormuz Didominasi Tanker, LNG Nihil

Harga LNG diperkirakan mengalami penyesuaian

Iwa menilai harga LNG domestik juga perlu segera mengalami penyesuaian mengingat harga acuan global telah melonjak tajam dan berpotensi menciptakan tekanan lebih besar dalam jangka pendek.

”LNG domestik belum naik karena masih pakai kontrak lama tapi tekanan itu akan datang,” kata dia.

Ilustrasi kapal tanker pengangkut LNG.WIKIMEDIA COMMONS/JOACHIMKOHLERBREMEN Ilustrasi kapal tanker pengangkut LNG.

Menurut Iwa, eskalasi konflik di Timur Tengah sejak Februari 2026 telah memicu lonjakan harga acuan LNG global. Hal tersebut terlihat dari kenaikan Japan Crude Cocktail (JCC) sekitar 97 persen dan Japan Korea Marker (JKM) sekitar 111 persen sepanjang Maret-April 2026.

Kenaikan tersebut kemudian ikut mendorong Indonesian Crude Price (ICP) naik hingga sekitar 99 persen dibandingkan asumsi awal tahun.

Baca juga: LNG Qatar Diserang Iran, Bos Energi: Sudah Diingatkan sejak Awal

Kondisi tersebut dinilai menciptakan tekanan besar terhadap rantai pasok LNG dunia. Iwa mengatakan publik perlu memahami bahwa harga LNG domestik tetap terhubung dengan mekanisme pasar global.

Meski pasokan LNG berasal dari sumber domestik, formula harga tetap mengacu pada indikator internasional seperti JCC dan JKM yang menjadi referensi utama perdagangan LNG Asia.

”Untuk mengamankan LNG domestik, kita harus ubah mindset dari ‘jual semurah mungkin’ ke ‘jamin pasokan dulu, harga dikelola’. Jangan denial dengan menahan harga terlalu lama,” ujarnya.

Pemerintah dinilai perlu prioritaskan pasokan domestik

Di tengah pasar LNG internasional yang semakin ketat, Iwa menilai pemerintah perlu memprioritaskan penyelamatan pasokan domestik. Selain penyesuaian harga, pengalihan sebagian pasokan LNG ekspor untuk kebutuhan dalam negeri dinilai perlu dipertimbangkan.

Baca juga: Gangguan Selat Hormuz, Harga LNG Global Terancam Naik 130 Persen

Menurut dia, langkah tersebut penting karena sektor industri merupakan salah satu penggerak utama ekonomi nasional sekaligus pencipta lapangan kerja.

Tanpa kepastian pasokan energi, industri berisiko menghadapi tekanan produksi yang pada akhirnya berdampak terhadap aktivitas ekonomi secara lebih luas.

Iwa juga menyoroti peran strategis gas bumi sebagai jembatan energi dan tulang punggung industri nasional, terutama dalam mendukung ketahanan energi.

”Tanpa gas, transisi energi tidak mungkin jalan dan kehilangan gas sama saja kehilangan daya saing industri,” kata dia.

Baca juga: Purbaya Soroti Megaproyek LNG Abadi Masela yang Tak Kunjung Beroperasi

LNG dinilai masih kompetitif

Iwa meyakini LNG tetap lebih kompetitif dibandingkan energi fosil lainnya meski nantinya dilakukan penyesuaian harga.

Berdasarkan kalkulasi BPH Migas dan Kementerian ESDM, 1 MMBTU gas setara dengan 7 liter solar. Jika LNG setelah penyesuaian harga menjadi setara Rp 150.000 per MMBTU, maka nilainya setara sekitar Rp 21.400 per liter solar.

”Sementara solar industri (non subsidi) sekarang harganya sudah jauh di atas dan belum termasuk biaya perawatan mesin yang lebih tinggi. Sedangkan gas punya efisiensi pembakaran 90-95 persen vs solar 80-85 persen, biaya perawatan mesin lebih rendah, emisi CO2 40 persen lebih rendah dari batubara, 25 persen lebih rendah dari solar,” ulasnya.

Ia menambahkan, setelah penyesuaian, harga LNG domestik industri diperkirakan berada pada kisaran 21 dollar AS hingga 25 dollar AS per MMBTU.

Baca juga: Revitalisasi Tangki LNG Arun Selesai, PGN Bidik Hub Asia

Angka tersebut dinilai masih lebih rendah dibandingkan LPG industri yang berada di level sekitar 28,3 dollar AS per MMBTU maupun solar industri yang mencapai sekitar 43 dollar AS per MMBTU.

Tag:  #harga #global #naik #pakar #minta #pasokan #domestik #dijaga

KOMENTAR