Peneliti Ungkap Penyebab Kapal Kayu Terbesar di Dunia Berada di Bawah Laut
- Tim peneliti asal China baru-baru ini berhasil mengungkap teka-teki penyebab tenggelamnya bangkai kapal kuno Muara Sungai Yangtze No.2 melalui analisis DNA sedimen tanah bawah air.
Terkubur di bawah air di Shanghai selama sekitar 150 tahun, ini adalah salah satu bangkai kapal kayu kuno terbesar dan paling terawat yang ditemukan di China, bahkan di dunia.
Kunci pengungkapan ini ditemukan pada sedimen yang terawetkan di dalam sebuah vas biru-putih bertangkai ganda yang diangkat dari dasar laut.
Analisis menunjukkan adanya batas lapisan yang jelas pada kedalaman sekitar 30 sentimeter di dalam vas tersebut.
Baca juga: Jauh di Pedalaman, Fasilitas Nuklir Rahasia China Terus Berdenyut, Bikin AS Resah
Terungkap melalui DNA padi
Temuan ini mengindikasikan bahwa pada tahap awal kapal tenggelam, sedimen dari luar masuk dan memenuhi vas, sehingga menyegel sekam padi dan jerami di dalamnya.
Proses alami ini secara tidak langsung mengawetkan sinyal DNA sisa-sisa padi serta organisme darat lainnya.
Berdasarkan analisis DNA padi yang dipadukan dengan catatan musim, diketahui bahwa spesies padi tersebut dipanen pada musim panas.
Baca juga: China Bebaskan Visa untuk Inggris-Kanada, Taktik Kucilkan AS?
Hal ini mengarahkan peneliti pada kesimpulan bahwa pelayaran terakhir kapal kemungkinan besar terjadi pada musim panas atau awal musim gugur.
Data ini memperkuat dugaan para peneliti sebelumnya bahwa kapal tersebut karam akibat hantaman badai topan.
"Muara Sungai Yangtze hampir setiap tahun mengalami topan. Sebelumnya, kami telah menemukan jejak pengikisan gelombang angin yang hebat di bagian dasar kapal," ujar Wang Zhanghua, peneliti utama bangkai kapal kuno tersebut, dikutip dari Global Times.
Wang menambahkan bahwa hasil analisis sedimen menunjukkan korelasi yang sangat kuat antara lokasi karamnya kapal dengan kondisi cuaca buruk atau topan.
Baca juga: Marak Jasa Dimarahi di China, Cara Anak Muda Sembuh dari Mabuk Cinta
Ungkap rantai pasokan porselen China
Dalam analisis sedimen lebih lanjut pada vas tersebut, tim peneliti mendeteksi sinyal DNA bambu.
Produk bambu telah didokumentasikan dalam catatan sejarah sebagai bahan yang digunakan untuk pengemasan porselen.
"Penemuan ini mengungkapkan, di satu sisi, teknik pengemasan porselen pada Dinasti Qing (1644-1911), dan di sisi lain, memberikan petunjuk untuk mempelajari produksi dan rantai pasokan porselen pada waktu itu," kata arkeolog Wang Meng.
Sisa porselen yang ditemukan, termasuk vas biru-putih tersebut, memiliki karakteristik khas kerajinan dari Jingdezhen di Provinsi Jiangxi.
Bahan pengemasan seperti produk bambu biasanya diperoleh secara lokal di tempat barang dikemas.
Dengan demikian, para peneliti menyimpulkan, sisa-sisa porselen ini tidak hanya diproduksi di Jingdezhen, tetapi juga dikemas dan dikirim dari sana.
Baca juga: Bisnis Elektronik China Diduga Jadi Mesin Cuci Uang Geng Kriminal Brasil
Bukti sejarah jalur sutra maritim
Bangkai kapal Muara Sungai Yangtze No. 2, juga dikenal sebagai bangkai kapal Changjiangkou No. 2, bukti fisik penting dari Jalur Sutra Maritim, serta peran historis Shanghai sebagai pusat perdagangan dan pengiriman global.
Kapal tersebut pertama kali ditemukan selama survei warisan budaya bawah laut nasional pada 2010.
Karena lingkungan unik tempatnya berada, serta integritas struktural dan kerapuhannya, kapal tersebut diselamatkan pada 2022 menggunakan teknik relokasi terpadu.
Pada 2024, penggalian percobaan bangkai kapal kuno tersebut dimulai.
Bangkai kapal tersebut ditempatkan di ruang pengawetan sepanjang 48 meter. Stasiun kerja juga arkeologi khusus didirikan, termasuk fasilitas canggih seperti ruang pelindung dan platform penggalian komprehensif.
Wang menambahkan, bangkai kapal kuno tersebut tidak hanya memiliki nilai arkeologis, tetapi juga memberikan petunjuk penting untuk studi sejarah ekonomi dan perdagangan modern China.
Tag: #peneliti #ungkap #penyebab #kapal #kayu #terbesar #dunia #berada #bawah #laut