Indonesia Nomor 2 Dunia Kasus Campak, Ini Bahayanya Menurut Dokter
Ilustrasi campak. Kasus campak kembali meningkat secara global, dan Indonesia kini masuk peringkat dua dunia di tengah risiko komplikasi yang tidak bisa dianggap ringan.(Freepik)
19:48
1 April 2026

Indonesia Nomor 2 Dunia Kasus Campak, Ini Bahayanya Menurut Dokter

Lonjakan kasus campak kembali terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia yang kini tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus campak tertinggi kedua di dunia.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran karena campak bukan sekadar penyakit ringan, tetapi infeksi yang bisa berakibat fatal.

Data tersebut disampaikan dalam webinar “Kupas Tuntas Campak: Dari Imunisasi sampai Komplikasi” oleh Dewan Guru Besar FKUI, yang diikuti Kompas.com secara daring pada Rabu (1/4/2026).

Baca juga: Kasus Campak di Indonesia Turun 93 Persen, Ini Data Terbaru Kemenkes

Kasus global naik, Indonesia ikut terdampak

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Prof. DR.dr. Hartono Gunardi, menyebutkan bahwa dunia saat ini menghadapi kenaikan kasus campak yang signifikan.

Ia menjelaskan bahwa Amerika Serikat mencatat lebih dari 2.000 kasus pada 2025, menjadi angka tertinggi dalam tiga dekade terakhir.

Lonjakan juga terjadi di puluhan negara Eropa, termasuk negara yang sebelumnya telah mengendalikan penyakit ini.

Indonesia sendiri tidak luput dari tren tersebut dengan laporan kejadian luar biasa (KLB) campak di berbagai daerah.

Jumlah kasus yang terus meningkat membuat Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam kasus campak.

Baca juga: Kasus Campak Turun 93 Persen, Kemenkes Ingatkan Risiko Lonjakan

Ilustrasi imunisasi. Kasus campak kembali meningkat secara global, dan Indonesia kini masuk peringkat dua dunia di tengah risiko komplikasi yang tidak bisa dianggap ringan.AFP PHOTO/CHAIDEER MAHYUDDIN Ilustrasi imunisasi. Kasus campak kembali meningkat secara global, dan Indonesia kini masuk peringkat dua dunia di tengah risiko komplikasi yang tidak bisa dianggap ringan.

Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan, dr. Indri Yogyaswari, menjelaskan bahwa penurunan cakupan imunisasi menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kasus campak.

Ia menyebutkan bahwa cakupan imunisasi campak seharusnya mencapai minimal 95 persen untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity.

Namun, capaian imunisasi di lapangan masih belum merata sehingga banyak kelompok masyarakat yang belum terlindungi.

Kondisi ini membuat virus lebih mudah menyebar dan meningkatkan risiko terjadinya wabah.

Baca juga: Kemenkes Terbitkan Aturan Baru Cegah Campak, RS Wajib Terapkan Ini

Spesialis anak sekaligus Ketua Komnas KIPI, Prof. Hinky Hindra Irawan Satari, menegaskan bahwa campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi.

Ia menjelaskan bahwa satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada 12 hingga 18 orang lain di sekitarnya. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Covid-19 yang rata-rata menular ke dua hingga tiga orang.

Selain itu, campak juga dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak (ensefalitis), hingga gangguan jangka panjang pada sistem saraf.

Pada kasus tertentu, penyakit ini dapat menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak, lansia, dan individu dengan penyakit penyerta.

Baca juga: Tenaga Medis Rentan Terpapar Campak, Kemenkes Perketat Perlindungan

Tidak hanya anak, orang dewasa juga rentan

Campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga dapat terjadi pada orang dewasa.

Risiko ini meningkat pada individu yang tidak memiliki riwayat imunisasi lengkap atau mengalami penurunan kekebalan tubuh.

Dalam beberapa kasus, tenaga kesehatan juga dilaporkan terpapar saat menangani pasien campak. Hal ini menunjukkan bahwa campak masih menjadi ancaman nyata bagi semua kelompok usia.

Vaksinasi jadi kunci pencegahan

Para ahli menekankan bahwa vaksinasi merupakan langkah paling efektif untuk mencegah campak.

Imunisasi tidak hanya melindungi individu, tetapi juga membantu membentuk kekebalan kelompok yang dapat menekan penyebaran virus.

Ketika cakupan imunisasi tinggi, risiko penularan dapat ditekan secara signifikan. Sebaliknya, penurunan cakupan imunisasi akan membuat virus lebih mudah menyebar di masyarakat.

Masyarakat diimbau untuk melengkapi imunisasi dan segera memeriksakan diri jika mengalami gejala seperti demam, batuk, dan ruam.

Langkah ini penting untuk mencegah penularan lebih luas dan mengurangi risiko komplikasi serius.

Tag:  #indonesia #nomor #dunia #kasus #campak #bahayanya #menurut #dokter

KOMENTAR