Harapan Baru Deteksi Dini Alzheimer Lewat Tes Tusuk Jari
- Sebuah uji coba internasional tengah meneliti potensi tes darah lewat tusukan di ujung jari (finger prick) sebagai alat bantu diagnosis penyakit Alzheimer.
Dikutip dari BBC, Selasa (20/1/2026), penelitian tersebut melibatkan sekitar 1.000 relawan berusia di atas 60 tahun di Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada. Tujuannya adalah mendeteksi biomarker yang berkaitan dengan risiko Alzheimer.
Salah satu peserta uji coba adalah dr. Michael Sandberg, seorang dokter umum di London. Ia tertarik untuk ikut serta setelah menyaksikan ibunya mengalami penurunan kondisi secara perlahan akibat Alzheimer.
Hasil pemeriksaan yang ia jalani menunjukkan hasil negatif, sesuatu yang ia sebut sebagai sebuah "kelegaan besar".
Studi Bio-Hermes-002
Studi bernama Bio-Hermes-002 ini dipimpin oleh lembaga riset medis LifeArc bersama Global Alzheimer’s Platform Foundation, dengan dukungan dari UK Dementia Research Institute.
Direktur strategi dan operasional LifeArc, Dr. Giovanna Lalli, menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada tiga protein tertentu dalam darah, yang telah dikaitkan dengan Alzheimer.
“Kami melihat keberadaan tiga protein yang telah dikaitkan dengan penyakit Alzheimer, yang disebut biomarker berbasis darah,” kata Lalli.
“Dengan menganalisis konsentrasi dan kadar protein-protein ini, kami bisa mengetahui apakah seseorang berisiko mengembangkan Alzheimer," sambung dia.
Sejumlah studi sebelumnya menunjukkan, protein abnormal seperti amiloid dan tau dapat menumpuk di otak hingga 15 tahun sebelum gejala Alzheimer muncul. Alzheimer sendiri merupakan bentuk demensia yang paling umum.
Uji coba metode deteksi dini terbaru untuk Alzheimer
Dalam uji coba ini, seluruh relawan juga menjalani pemeriksaan standar untuk Alzheimer, yaitu pemindaian otak PET scan menggunakan zat radioaktif atau pungsi lumbal untuk mengambil cairan serebrospinal.
Adapun, pemeriksaan tersebut dikenal mahal, memakan waktu, dan bersifat invasif. Saat ini, hanya sekitar dua dari 100 pasien Alzheimer yang mendapatkan akses ke tes tersebut.
Karena itu, tes tusuk jari diharapkan dapat mengubah cara penyakit ini dideteksi.
Sandberg sendiri mengatakan, keinginannya mengikuti uji coba ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman sang ibu.
"Saya percaya bahwa pengetahuan adalah kekuatan, dan saya sangat antusias karena nantinya orang-orang bisa disaring risikonya terhadap demensia, tanpa harus menjalani pemindaian mahal atau jarum," ucap dia.
Ketika hasilnya keluar, baik pemindaian otak maupun tes tusuk jari, menunjukkan hasil negatif.
“Ini kelegaan besar, mengingat apa yang dialami ibu saya,” ujarnya.
Meski begitu, para peneliti menekankan bahwa hasil satu individu belum cukup. Data dari seluruh 1.000 peserta perlu dianalisis untuk mengetahui seberapa efektif tes ini dalam mendeteksi risiko Alzheimer.
Uji coba yang potensial
Ahli neuroradiologi di ReCognition Health, Dr. Emer MacSweeney, yang merekrut sebagian relawan di Inggris, menilai potensi tes ini sangat besar.
“Jika berhasil, ini akan menjadi tes yang akurat dan mudah diakses untuk mendeteksi keberadaan protein amiloid abnormal di otak tanpa pemeriksaan yang rumit dan mahal,” kata MacSweeney.
Penggunaan biomarker darah untuk mengidentifikasi risiko Alzheimer saat ini berkembang pesat. Tahun lalu, regulator di Amerika Serikat telah menyetujui tes darah Alzheimer yang menggunakan pengambilan darah konvensional dengan jarum suntik.
Selain itu, studi lain di Inggris juga sedang meneliti apakah penggunaan tes darah dapat meningkatkan kualitas diagnosis dan pengobatan dalam praktik nyata.
Keunggulan utama tes tusuk jari adalah kemudahannya. Tes ini berpotensi dilakukan sendiri di rumah, lalu sampelnya dikirim ke laboratorium untuk dianalisis tanpa perlu pendinginan.
Ke depan, para peneliti berharap tes darah dapat digunakan sebagai alat skrining demensia bagi lanjut usia (lansia).
Hingga kini, penelitian telah merekrut 883 dari target 1.000 peserta, dengan lebih dari 360 orang telah menyelesaikan seluruh rangkaian tes.
Peserta terdiri dari individu dengan fungsi kognitif normal, gangguan ringan, hingga penderita Alzheimer stadium awal. Setidaknya 25 persen relawan berasal dari kelompok yang selama ini kurang terwakili dalam penelitian. Uji klinis ini ditargetkan rampung pada 2028.
Tag: #harapan #baru #deteksi #dini #alzheimer #lewat #tusuk #jari