Mental Pengungsi Aceh Tamiang Relatif Stabil Pascabanjir
Kondisi di Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang yang wilayah permukimannya hilang disapu banjir bandang, Senin (5/1/2026)(KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo)
10:06
8 Januari 2026

Mental Pengungsi Aceh Tamiang Relatif Stabil Pascabanjir

- Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh pada akhir November 2025, memaksa masyarakat yang selamat untuk mengungsi.

Meski terdampak, kondisi psikologis para penyintas rupanya relatif stabil. Menurut dr. Willy Steven, Sp.KJ, relawan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), ini berkat resiliensi yang terbangun di kalangan masyarakat.

“Kondisinya secara umum masih baik-baik saja. Relatif terdampak, tetapi mereka cukup bisa resilien menggunakan coping (upaya untuk meminimalisir situasi penuh tekanan),” ungkap dr. Willy di RSUD Aceh Tamiang pada Minggu (28/2/2025).

Resiliensi adalah kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi, sehingga bisa bangkit dari masalah.

Cara para penyintas banjir bandang di Aceh Tamiang untuk bertahan adalah dengan saling menguatkan dan mendukung satu sama lain, sehingga kesehatan mental pascabanjir cukup terjaga.

Anak-anak yang tangguh

Resiliensi yang dimiliki oleh para penyintas dewasa kemungkinan menurun atau dicontoh oleh anak-anak di pengungsian.

“Kami sempat mengadakan kunjungan ke beberapa pos. Anak-anak masih bisa bilang secara umum bahwa kondisi mereka senang,” kata dr. Willy.

Hal ini terungkap ketika tim psikiater relawan melakukan kegiatan dengan anak-anak menggunakan kartu emosi.

dr. Willy Steven, Sp.KJ, relawan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), saat diwawancarai di RSUD Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh, Provinsi Aceh, Minggu (28/1/2025).Kompas.com / Nabilla Ramadhian dr. Willy Steven, Sp.KJ, relawan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), saat diwawancarai di RSUD Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh, Provinsi Aceh, Minggu (28/1/2025).

“Dari kartu emosi, kebanyakan masih baik-baik saja, masih ceria, dan masih bisa bermain,” tutur dia.

Ada yang terdampak karena kondisi mental tidak stabil

Meski demikian, tidak semua penyintas banjir bandang di Aceh Tamiang memiliki ketangguhan dalam menghadapi situasi pascabencana.

Ada beberapa yang kondisi mentalnya tidak begitu stabil karena pasokan obat sempat terputus, terutama ketika akses menuju fasilitas kesehatan belum memadai dan RSUD Aceh Tamiang belum beroperasi kembali.

“Karena pasokan obat-obatan sempat terputus, jadi ada beberapa pasien yang kambuh, jadi enggak bisa tidur atau gelisah,” tutur dr. Willy.

Faktor lain yang memengaruhi kondisi mental beberapa penyintas banjir bandang adalah jadwal kontrol bulanan yang sempat terputus karena bencana melanda.

“Kalau yang kambuh-kambuhan itu mereka memang penyakit kronis kayak skizofrenia, gangguan cemas, ditambah lagi memang ada faktor yang memicu kecemasan (kondisi pascabanjir),” tutur dr. Willy.

“Dan memang secara umum, pasien-pasien skizofrenia memang harus meminum obatnya untuk maintain gejalanya, sehingga mereka memang sempat kesulitan, sempat kebingungan mencari awalan dan obat-obatan,” sambung dia.

Stres akut dan psikosomatis

dr. Febrianti, Sp.KJ, anggota Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) yang menjadi relawan di RSUD Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, saat ditemui di lokasi pada Minggu (28/12/2025).Kompas.com / Nabilla Ramadhian dr. Febrianti, Sp.KJ, anggota Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) yang menjadi relawan di RSUD Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, saat ditemui di lokasi pada Minggu (28/12/2025).

Selain itu, ada juga masalah kesehatan jiwa yang muncul. Onset adalah proses terjadinya suatu penyakit yang dicetuskan oleh sesuatu, yang dalam hal ini adalah banjir bandang.

“Banjir ini mengakibatkan suatu gejala gangguan jiwa tertentu, salah satunya biasanya reaksi stres akut. Dia sangat cemas, sangat gelisah, tidak punya resiliensi yang baik. Akhirnya, muncul suatu gejala” tutur dr. Febrianti.

Ia adalah salah satu anggota Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) yang menjadi relawan di rumah sakit tersebut.

Gangguan kesehatan jiwa lainnya yang terjadi adalah beberapa pengungsi menjadi cemas ketika mulai hujan. Sebab, mereka takut bakal kembali menjadi korban banjir bandang.

Bahkan, ada beberapa pasien yang menunjukkan psikosomatis, alias keluhan fisik karena kesehatan mental yang terganggu, karena banjir bandang.

“Ada beberapa pasien yang disertai sakit kepala, misalnya, atau dia enggak nyaman di saluran cernanya. Itu sering,” kata dr. Febrianti.

Namun, RSUD Aceh Tamiang sudah beroperasi kembali sejak 9 Desember. Secara perlahan, seluruh poli rawat jalan bangkit kembali, meskipun pelayanan memang belum seoptimal sebelum banjir bandang melanda.

Jalanan yang sebelumnya masih sulit diakses karena penuh puing dan lumpur juga secara perlahan dibenahi oleh relawan dari berbagai golongan masyarakat.

Alhasil, para pasien poli psikiatri yang harus berobat dan kontrol, sudah bisa mengakses kembali layanan kesehatan.

Tag:  #mental #pengungsi #aceh #tamiang #relatif #stabil #pascabanjir

KOMENTAR