Waspada! Risiko Hamil Anggur Mengintai di Usia Terlalu Muda, Kenali Gejala dan Pentingnya Deteksi Dini
- Tren pernikahan di usia mudah memang masih cukup tinggi terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di daerah-daerah tertentu yang masih mempertahankan tradisi budaya menikah di usia belia.
Meskipun terlihat romantis dan penuh harapan, pernikahan di usia muda membawa berbagai risiko kesehatan terutama terkait kehamilan dan persalinan. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah komplikasi kehamilan yang bisa terjadi pada ibu hamil di usia yang belum matang secara fisik dan mental. Di antara berbagai komplikasi, terdapat kondisi abnormal yang dikenal dengan istilah mola hidatidosa atau hamil anggur.
Mengenal Apa Itu Hamil Anggur
Hamil anggur adalah kondisi kehamilan abnormal di mana jaringan plasenta berkembang tidak normal dan membentuk kista-kista yang menyerupai buah anggur. Pada kondisi ini, sel telur yang telah dibuahi tidak berkembang menjadi janin yang sehat, melainkan membentuk pertumbuhan jaringan abnormal di dalam rahim. Meskipun terjadi pembuahan, namun kehamilan ini tidak akan menghasilkan bayi yang dapat berkembang dengan normal. Hamil anggur termasuk dalam penyakit trofoblas gestasional yang memerlukan penanganan medis segera untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Kondisi ini sering kali menimbulkan kebingungan pada ibu hamil karena gejalanya bisi mirip dengan kehamilan normal i awal-awal masa kehamilan. Namun, seiring berjalannya waktu, akan muncul tanda-tanda yang menunjukkan adanya kelainan dalam kehamilan tersebut. Gejala yang mungkin muncul ketika seseorang mengalami hamil anggur meliputi:
- Pendarahan dari vagina dengan warna coklat gelap hingga merah cerah pada trimester pertama.
- Mual dan muntah yang sangat berat, bahkan melebihi morning sickness biasanya.
- Ukuran perut yang membesar tidak sesuai dengan usia kehamilan.
- Keluarnya jaringan atau gumpalan berbentuk seperti buah anggur dari vagina.
- Rasa nyeri atau tekanan pada area panggul.
Oleh karena itu, pemeriksaan rutin ke dokter kandungan menjadi kunci utama untuk mendeteksi kelainan pada kehamilan sedari dini. Kondisi ini juga dibagi menjadi dua jenis utama.
Dua Jenis Utama Hamil Anggur
Seperti yang dilansir dari Very Well Health, karakteristik kondisi ini dibedakan dari segi genetik dan perkembangan jaringannya, dimana tingkat keparahannya juga berbeda.
1. Complete Molar Pregnancy
Pada hamil anggur jenis ini, tidak ada jaringan janin yang terbentuk sama sekali di dalam rahim. Seluruh jaringan yang berkembang adalah jaringan plasenta abnormal yang berbentuk seperti kumpulan anggur. Kondisi ini terjadi ketika sel sperma membuahi sel telur yang kosong atau tidak memiliki materi genetik dari ibu. Kehamilan molar lengkap memiliki risiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
2. Partial Molar Pregnance
Hamil anggur jenis ini terjadi ketika terdapat beberapa jaringan janin yang mulai terbentuk tetapi tidak dapat berkembang dengan normal. Pada kondisi ini, janin yang terbentuk memiliki kelainan kromosom yang parah sehingga tidak dapat bertahan hidup. Selain itu, jaringan plasentanya juga berkembang secara abnormal dan membentuk kista-kista menyerupai anggur.
Faktor Risiko dan Pentingnya Pemeriksaan Dini
Adapun beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami hamil anggur. Melansir dari Mayo Clinic, usia ibu saat hamil menjadi salah satu faktor penting, dimana risiko lebih tinggi terjadi pada perempuan yang hamil di usia lebih dari 43 tahun atau di bawah 15 tahun.
Selain itu, riwayat kehamilan anggur sebelumnya juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi serupa di kehamilan berikutnya. Faktor usia muda inilah yang menjadi salah satu alasan kuat mengapa pernikahan dan kehamilan di bawah usia 18 tahun sangat tidak disarankan dari sisi medis.
Oleh karena itu, setiap wanita hamil sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan, dimana hal ini dapat membantu deteksi dini melalui pemeriksaan USG dan tes kadar hormon hCG sangat penting untuk diagnosis hamil anggur.
Ketika sudah ada diagnosis dari dokter, maka penanganan medis harus segera dilakukan untuk mencegah komplikasi berbahaya. Penundaan dalam penanganan dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi serius seperti pendarahan hebat atau perkembangan sel-sel abnormal menjadi kanker.
Pilihan Penanganan Medis untuk Hamil Anggur
Walaupun hamil anggur biasanya akan mengalami keguguran secara spontan dengan sendirinya. Namun, ada beberapa kasus dimana jaringan abnormal tidak keluar secara alami, yang mana kondisi ini memerlukan prosedur medis untuk mengeluarkan seluruh jaringan dari dalam rahim.
Untuk itu, berikut ini merupakan beberapa langkah yang tersedia untuk menangani kondisi hamil anggur:
- Kuret
Kuret atau dilatasi dan kuretase merupakan prosedur yang paling umum dilakukan untuk mengeluarkan jaringan mola dari dalam rahim. Prosedur ini dilakukan dengan cara melebarkan serviks kemudian mengangkat jaringan abnormal menggunakan alat khusus. Kuret biasanya menjadi pilihan pertama karena relatif aman dan efektif untuk mengatasi hamil anggur.
- Histerektomi
Dilansir dari Alodokter, histerektomi atau pengangkatan rahim dapat menjadi pilihan bagi pasien yang sudah tidak ingin memiliki anak lagi. Prosedur ini memberikan jaminan bahwa seluruh jaringan abnormal terangkat dan mengurangi risiko kekambuhan. Histerektomi biasanya direkomendasikan untuk kasus yang lebih kompleks atau ketika ada risiko tinggi komplikasi.
- Menggunakan Obat-obatan
Penggunaan obat-obatan tertentu dapat membantu meluruhkan jaringan abnormal dari dalam rahim. Melansir dari Hello Sehat, obat-obatan ini bekerja dengan cara merangsang kontraksi rahim untuk mengeluarkan jaringan abnormal. Namun, penggunaan metode ini tetap harus dikombinasikan dengan pemantauan ketat dari dokter untuk memastikan seluruh jaringan berhasil dikeluarkan.
Pemulihan dan Pencegahan
Hamil anggur memang merupakan kondisi serius yang memerlukan penanganan medis tepat dan pemantauan berkelanjutan setelah pengobatan. Risiko komplikasi kehamilan ini semakin tinggi pada mereka yang hamil di usia terlalu muda, sehingga menunda pernikahan hingga usia yang lebih matang menjadi keputusan bijak untuk kesehatan reproduksi jangka panjang.
Bagi kamu yang mungkin pernah mengalami hamil anggur, sangat disarankan untuk memberikan jeda waktu sekitar satu tahun sebelum merencanakan kehamilan kembali agar tubuh pulih sempurna dan kadar hormon kembali normal. Selama masa pemulihan, lakukan kontrol rutin ke dokter untuk memantau kadar hormon hCG dan memastikan tidak ada pertumbuhan sel abnormal yang tersisa.
Tag: #waspada #risiko #hamil #anggur #mengintai #usia #terlalu #muda #kenali #gejala #pentingnya #deteksi #dini