Purbaya Sebut Fundamental Ekonomi Kuat, Mengapa Rupiah Malah Tembus 18.100-an?
- Pemerintah terus mengatakan, kondisi fundamental ekonomi yang kuat dapat membantu rupiah untuk keluar dari tren pelemahan.
Kendati demikian, rupiah masih terus melemah dan telah mencapai level Rp 18.100-an per dollar AS di awal pekan ini.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dollar AS berada di level Rp 18.187 per dollar AS. Angka tersebut melemah 151 poin setara 0,84 persen dibandingkan pembukaan hari ini.
Baca juga: Kerap Disebut Prabowo hingga Purbaya, Apa Itu Fundamental Ekonomi?
Ekonom sekaligus Peneliti Senior Center of Reform on Economics (CORE) Muhammad Ishak Razak mengatakan, kredibilitas pengelolaan fiskal dapat tercermin dari pengelolaan defisit Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Indonesia sendiri menetapkan batas 3 persen untuk defisit APBN terhadap PDB tersebut. Batas ini diatur secara resmi dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Pada kuartal I-2026 kemarin, muncul wacana tingkat defisit tersebut akan diperbesar untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui program strategis pemerintah.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran yang kemudian menjadi sentimen negatif untuk investor yang ada di Indonesia.
"Pemerintah ini, menurut saya mengekspos kebijakan-kebijakanyang belum tereksekusi, sehingga ini menimbulkan kepanikan di pasar, kan," kata dia pekan lalu.
Ia menambahkan, kondisi tersebut juga yang menjadi pertimbangan lembaga rating seperti Fitch menurunkan rating untuk Indonesia.
"Karena itu tadi, isu, dan masih belum dieksekusi kan," imbuh dia.
Baca juga: Purbaya: Persepsi Negatif Pasar Tak Sesuai Fundamental Ekonomi RI
Realisasi defisit APBN Indonesia pada April tercatat senilai Rp 164,4 triliun atau setara dengan 0,64 persen terhadap PDB.
Kondisi tersebut mengalami perbaikan dibandingkan realisasi defisit bulan sebelumnya ya yang mencapai 0,93 persen dari PDB.
Ishak bilang, hal tersebut membuktikan pemerintah dapat mengendalikan tingkat defisit APBN terhadap PDB yang sempat melonjak.
Kendati demikian, karena investor sangat terpengaruh oleh sentimen negatif yang diberikan pemerintah Indonesia.
"Sehingga ketidakpercayaan itu menjadi lebih tinggi," ucap dia.
Perluas kontrol terhadap perekonomian
Ishak mengungkapkan, selain sentimen di atas, pemerintah juga memunculkan sinyal ingin memperluas kontrolnya terhadap perekonomian.
Padahal, ia berpandangan, kegiatan perekonomian tersebut sepatutnya diserahkan pada mekanisme pasar.
"Semestinya pemerintah tahun batasannya, mana sektor yang memang harus dikontrol lebih kuat oleh pemerintah, mana yang tetap diserahkan pada swasta," ucap dia.
Ishak bilang, saat ini persepsi pasar justru menangkap pesan, pemerintah ingin memperbesar perannya dalam sistem ekonomi secara keseluruhan.
"Jadi orang akan teringat-ingat ke sistem komando dalam tanda petik ya," ungkap dia.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra mengungkapkan, pelemahan rupiah saat ini bukan kondisi yang dapat dianggap normal.
Menurut dia, depresiasi nilai tukar yang berlanjut perlu menjadi perhatian serius pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi secara lebih luas.
“Kondisi pelemahan rupiah ini tidak diterima oleh banyak orang, jadi saya rasa pemerintah tidak menganggap ini normal,” ujar Ariston kepada Kompas.com.
Tekanan terhadap rupiah datang dari faktor eksternal dan internal. Sisi global masih dibayangi penguatan dollar AS. Kondisi ini menekan mata uang negara berkembang.
Meski begitu, faktor domestik ikut memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Ariston menilai keluarnya investor asing dari pasar saham Indonesia ikut menekan pasar keuangan domestik.
Arus keluar itu juga dipengaruhi sejumlah penyesuaian indeks global, termasuk Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Fundamental ekonomi dinilai baik
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengaku dengan kondisi fundamental ekonomi yang baik, seharusnya pelemahan rupiah tidak terjadi.
Nilai tukar mata uang biasanya melemah ketika ada gangguan pada fundamental ekonomi di suatu negara.
"Sebenarnya tidak masuk akal, biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental ekonomi," kata dia di kawasan Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Rabu (27/5/2026).
Kendati demikian, asumsi nilai tukar rupiah ini juga telah masuk dalam perhitungan simulasi harga minyak dunia 100 dollar AS per barrel.
"Jadi tidak ada masalah, saya tidak harus hitung ulang APBN-nya," imbuh dia.
Purbaya mengungkapkan, walaupun nilai tukar rupiah turun, imbal hasil surat utang (bond yeild) menurun.
Hal itu dipengaruhi dengan aksi pemerintah yang melakukan pembelian untuk mengendalikan imbal hasil surat utang.
"Jadi selama bond market terkendali, kemampuan investor terutama asing dan domestik juga untuk melakukan investasi di bond kita akan terjaga," terang dia.
Purbaya mengaku telah melihat adanya aliran modal asing yang masuk ke pasar obligasi Indonesia.
Lebih lanjut, pemerintah juga masih akan berupaya untuk membuat nilai tukar rupiah menguat.
"Ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu menaikkan nilai tukar rupiah dengan signifikan," tutup dia.
Pengendalian rupiah mudah saat ekonomi baik
Purbaya menegaskan, pemerintah terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar global dengan memperkuat fundamental ekonomi nasional.
Purbaya mengatakan stabilitas nilai tukar akan lebih mudah dijaga apabila kondisi ekonomi domestik berada dalam keadaan kuat.
“Selama fondasi ekonomi kita bagus, mengendalikan rupiah lebih mudah dibandingkan jika kondisi ekonomi sedang tidak baik,” ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Ia menjelaskan pemerintah bersama otoritas moneter terus menjaga koordinasi untuk memastikan stabilitas sistem keuangan nasional.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjaga likuiditas di sistem keuangan tetap memadai serta memantau pergerakan nilai tukar secara berkala.
Menurut dia, kerja sama yang erat antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi faktor penting dalam meredam gejolak pasar global.
“Kalau kita memastikan perkembangan ekonomi baik, likuiditas di sistem cukup, dan Bank Indonesia memonitor kondisi nilai tukar, maka kerja sama yang baik antara pemerintah dan BI sangat penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” kata dia.
Tag: #purbaya #sebut #fundamental #ekonomi #kuat #mengapa #rupiah #malah #tembus #18100