Tren Berubah: Masyarakat Tetap Ke Mal, tetapi Beralih ke Produk Lebih Terjangkau
Ilustrasi orang di mall, fenomena rohana dan rojali. (Dok. Unsplash/Andrew Leu)
19:32
8 Juni 2026

Tren Berubah: Masyarakat Tetap Ke Mal, tetapi Beralih ke Produk Lebih Terjangkau

Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyebut, masyarakat saat ini tetap berkunjung ke mall namun membeli produk dengan harga murah,

Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja, mengatakan perubahan tren belanja tersebut terjadi dalam satu hingga dua tahun terakhir.

“Sudah ada satu dua tahun terakhir ini kan tren belanjanya berubah begitu, karena mereka cenderung membeli barang-barang produk yang harga satuannya unit price-nya itu kan murah,” kata Alphonzus saat ditemui di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Di tengah situasi ekonomi yang lesu, masyarakat disebut tetap bepergian ke pusat perbelanjaan.

Baca juga: Belanja Subsidi dan Kompensasi Energi Melonjak 208,2 Persen

Data APPBI menunjukkan, tingkat kunjungan masyarakat ke mall tetap stabil. Hanya saja, tren belanja mereka mengalami perubahan.

Ia menyebut, sebenarnya semua kategori produk di mall dibeli masyarakat. Namun, hampir seluruhnya hanya yang berharga murah.

“Jadi relatif tidak tidak terlalu banyak penurunanlah untuk tingkat kunjungan,” ujar Alphonzus.

Menurutnya, budaya masyarakat Indonesia yang suka berkumpul bersama keluarga atau kolega mendorong kunjungan ke mal.

Baca juga: Festival Belanja Tengah Tahun Jadi Ajang Rebut Konsumen Baru

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APBI), Alphonzus Widjaja, dalam konferensi pers BINA Indonesia Great Sale 2025 di Kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Jakarta Pusat, Jumat (21/11/2025).dok. HIPPINDO Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APBI), Alphonzus Widjaja, dalam konferensi pers BINA Indonesia Great Sale 2025 di Kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Jakarta Pusat, Jumat (21/11/2025).

Budaya itu terlihat tetap berjalan meski keadaan sedang lebih sulit dibandingkan sebelumnya.

“Jadi saya kira susah atau tidak susah tetap kumpulkan, iya. Ya tempat kumpulnya di mana? Ya salah satunya pusat perbelanjaan,” tuturnya.

Pengusaha itu mengakui, perubahan gaya belanja masyarakat membuat omzet pihak tenant (penyewa)  tidak meningkat atau stagnan.

Sementara, jika terjadi penurunan pendapatan menurutnya justru dipengaruhi pusat perbelanjaan yang semakin bertambah.

Baca juga: Inflasi Mulai Gerus Daya Beli, Indef: Masyarakat Kurangi Belanja Nonprimer

Kehadiran pusat perbelanjaan baru diikuti brand-brand asing yang banyak berdatangan, terutama dari China.

“Pusat perbelanjaan cenderung juga bertambah, terutama di daerah-daerah yang tadinya belum ada pusat perbelanjaan sekarang ada pusat perbelanjaan begitu,” kata Alphonzus.

Saat ini, kata dia, banyak pengusaha ritel yang membuka toko-toko baru di luar Jakarta.

Namun, ekspansi itu ternyata tidak diikuti dengan peningkatan daya beli masyarakat.

“Karena tekanan daya beli, karena berbagai macam tekanan akibat global segala macam, itulah yang membuat peningkatannya tidak signifikan,” ucapnya.

Tag:  #tren #berubah #masyarakat #tetap #tetapi #beralih #produk #lebih #terjangkau

KOMENTAR