Laku Spiritual Pak Harto: Pergi ke Gunung, Kosongkan Kegiatan Jumat
Bea Cukai kembali jadi sorotan setelah Purbaya mengultimatum reformasi. Sebelumnya, lembaga ini pernah dibekukan Soeharto akibat maraknya praktik penyimpangan.(((ARSIP FOTO) KOMPAS / JB SURATNO))
19:06
8 Juni 2026

Laku Spiritual Pak Harto: Pergi ke Gunung, Kosongkan Kegiatan Jumat

- Laku spiritual Presiden ke-2 Soeharto ditelisik oleh wartawan senior. Seperti apa laku spritual Pak Harto?

Ia dikenang sebagai Presiden ke-2 RI yang memimpin negeri ini selama 32 tahun, mengawasi berbagai perubahan besar dari pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, hingga transformasi sosial yang membentuk wajah Indonesia hari ini.

Bagi sebagian orang, Soeharto adalah simbol stabilitas dan pembangunan. Bagi yang lain, namanya lekat dengan berbagai catatan kritis tentang demokrasi, kebebasan sipil, dan praktik kekuasaan pada era Orde Baru.

Namun di balik berbagai narasi tersebut, terdapat sisi lain yang jarang menjadi perhatian publik, yakni dimensi spiritual yang diyakini turut membentuk cara pandangnya dalam menjalani kehidupan maupun memimpin negara.

Dimensi tersebut terangkum dalam buku "Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen" karya jurnalis senior Istana era Soeharto, Bambang Wiwoho, yang diluncurkan pada Senin (8/6/2026).

Baca juga: Hari Lahir Soeharto 8 Juni, Ini Falsafah Jawa yang Membentuk Karakternya

Peluncuran buku tersebut bertepatan dengan peringatan 105 tahun kelahiran Soeharto ke dunia.

Penulis buku, Bambang Wiwoho mengungkapkan, cerita Soeharto dalam buku tersebut merupakan hasil dari pengamatannya sebagai wartawan yang fokus meliput di Istana Kepresidenan pada tahun 1972.

Pengamatannya kemudian berlanjut meski ia tidak lagi menjadi wartawan Kepala Negara.

"Saya menjadi wartawan istana tahun '72, tapi sesudah itu masih berkecimpung di dekat Istana juga, tapi tugas-tugas lain. Kemudian di waktu-waktu senggang, saya mencoba napak tilas tempat-tempat yang biasa dikunjungi oleh Pak Harto," katanya dalam peluncuran buku di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (UI), Salemba Raya ini.

Baca juga: Saat Soeharto Berpesan “Ojo Dipateni” Usai Penangkapan Xanana Gusmao

Ia menuturkan, buku ini tidak ubahnya seperti reportase investigasi yang dilakoni Bambang.

Isi buku, kata dia, agak berbeda dengan pandangan umum masyarakat mengenai Soeharto, baik dari sisi spiritual maupun citra dirinya.

Hal-hal tersebut turut memengaruhi sikap hidup, cara pandang, dan perilaku Soeharto dalam kehidupan sehari-hari hingga mampu memiliki sikap tenang dan penuh pertimbangan selama 32 tahun menjabat.

"Termasuk di antaranya yang mempengaruhi bagaimana Pak Harto merekrut para pembantunya (menteri hingga kepala badan), itu saya gambarkan singkat di sini," jelas Bambang.

Peluncuran buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (UI), Salemba Raya, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026). KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA Peluncuran buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (UI), Salemba Raya, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026).

Soeharto menyepi ke Gunung Srandil hingga Lawu

Bagi wartawan Istana pada era tersebut, hari Jumat memiliki pola yang berbeda dibanding hari-hari lainnya.

Bambang Wiwoho yang saat itu bertugas meliput kegiatan Presiden Soeharto mengingat—dan menyinggung di dalam buku, hampir tidak ada agenda yang bisa diliput pada hari itu, kecuali yang penting-penting saja.

Agenda penting itu, meliputi upacara kenegaraan, kunjungan kerja ke berbagai daerah, atau agenda yang dianggap sangat penting.

Di luar kegiatan resmi itu, Soeharto biasanya memilih beristirahat pada Jumat siang.

Kemudian pada Jumat malam, di kediamannya di Jl Cendana, Jakarta, ia kerap menggelar pertemuan tertutup bersama Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) Yoga Sugama dan sejumlah pejabat untuk mengevaluasi berbagai perkembangan politik, keamanan, dan pemerintahan.

Baca juga: 28 Tahun Lalu Soeharto Nyatakan Mundur Setelah Aksi Demonstrasi Bertahan 10 Hari

Menurut Bambang, kebiasaan tersebut berkaitan dengan laku spiritual yang dijalani Soeharto pada malam sebelumnya.

"Menurut teman-teman anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), pada Kamis malam Jumat, Pak Harto bertafakur hampir semalaman, dan kadang-kadang dengan beruzlah, menyepi, mengasingkan diri ke tempat sunyi," tulis Bambang dalam bukunya.

Salah satu lokasi yang disebut sering dikunjungi Soeharto adalah Gunung Srandil di pesisir selatan Cilacap, Jawa Tengah.

Tempat tersebut dikenal masyarakat sebagai kawasan yang memiliki nilai spiritual dan kerap didatangi para peziarah.

Selain Gunung Srandil, berbagai sumber juga menyebut sejumlah lokasi, mulai dari kawasan Gunung Selok di Cilacap hingga sejumlah titik di lereng Gunung Lawu.

Bagi Bambang, berbagai praktik tersebut menunjukkan bahwa di balik citranya sebagai pemimpin yang dikenal tenang, hemat bicara, dan penuh perhitungan, terdapat dimensi spiritual yang turut membentuk cara Soeharto memandang kehidupan dan menjalankan kepemimpinan.

Membaca Indonesia ala Kejawen

Pembahasan mengenai spiritualitas itu tidak berhenti pada sosok Soeharto semata.

Melalui buku ini, Bambang berupaya menunjukkan bahwa tradisi kebatinan Jawa tidak hanya hadir dalam kehidupan pribadi seseorang, tetapi juga dapat menjadi salah satu lensa untuk membaca karakter, kepemimpinan, hingga cara seseorang menghadapi berbagai persoalan hidup.

Karena itu, buku "Laku Spiritual Pak Harto" tidak hanya berisi penelusuran mengenai perjalanan batin Soeharto.

Baca juga: Eks Menko Ekuin soal Mundurnya Soeharto: Kita Nggak Bisa Lawan Arus Sejarah

Bambang mengembangkan “pembacaan ala Kejawen” untuk memahami kondisi Indonesia kontemporer, termasuk menelaah karakter dan gaya kepemimpinan sejumlah presiden Indonesia dari masa ke masa.

Dalam buku, ia menggunakan pendekatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) yang dipadukan dengan pandangan kejawen.

Melalui pendekatan itu, Bambang mencoba mengidentifikasi potensi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dimiliki seseorang maupun suatu bangsa.

“Jadi analisis tentang kekuatan dan kelebihan seseorang, potensi kelebihan dan kekuatannya, potensi kelemahan dirinya, potensi peluang hidupnya, potensi ancaman hidupnya. Jadi orang yang di dalam Primbon disebut punya kelemahan, misalkan mudah lupa, mudah ingkar janji,” ujar Bambang.

Menurut dia, berbagai karakter yang disebut dalam tradisi Jawa tersebut bukanlah takdir yang pasti terjadi.

Sebaliknya, hal itu lebih tepat dipahami sebagai potensi yang masih dapat diantisipasi maupun diperbaiki.

“Itu saya menggambarkannya bukan dia langsung menjadi orang yang mudah ingkar janji, tapi orang itu punya potensi, potensi ingkar janji. Dan potensi itu bisa diatasi,” beber Bambang.

Pascakolonialisme Jawa

Sementara itu, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas dan Kompas.id, Paulus Tri Agung Kristanto, mengungkapkan tema yang diangkat Bambang Wiwoho terkait sisi batin Soeharto menarik untuk dijabarkan.

Sebab selama ini, Soeharto lebih sering dibaca melalui angka-angka pertumbuhan ekonomi, kebijakan politik, atau dinamika kekuasaan yang mengiringi kepemimpinannya.

"Saya yakin teman-teman di sini juga pasti pengin tahu, dari dulu pengin tahu Pak Harto itu Kejawen atau enggak? Dan bahkan juga para pimpinan-pimpinan negeri ini, sebelum Pak Harto, Bung Karno, Ir Sukarno, yang berikut-berikutnya itu, mereka ini Kejawen atau enggak. Karena itu saya dorong dan saya minta Pak Wi (Bambnag Wiwoho) untuk menuliskan," tutur Paulus.

Baca juga: 10 Hari Jelang Lengsernya Soeharto, Kronologi Kerusuhan Mei 1998

Menurutnya dari buku tersebut, pembaca dapat memahami bahwa Soeharto juga memiliki keyakinan yang berangkat dari akar budaya, bukan kemudian menduakan Tuhan.

Keyakinan itu dibawa dalam kebiasaannya, salah satunya ketika Soeharto kerap beristirahat di hari Jumat usai bertafakur semalaman.

Laku itu dijalani Soeharto karena masih kuatnya falsafah kepemimpinan Jawa yang selama berabad-abad membentuk tradisi politik Nusantara.

"Kita punya namanya kearifan lokal. Dan kearifan lokal itu yang dipelihara oleh para pemimpin-pemimpin negara. Pak SBY misalnya, selalu bermain dengan angka-angka ganjil. Pak Jokowi punya hari-hari tertentu (Rabu Pon)," jelas dia.

Ia juga memberikan kata pengantar dalam buku tersebut berjudul Mistik Kejawen dalam Negara "Pascakolonialisme" Jawa.

Tulisan tersebut memberikan konteks akademik dan kultural mengenai posisi tradisi kejawen dalam perjalanan negara modern Indonesia.

"Kenapa disebut pascakolonialisme Jawa? Karena Indonesia yang lahir pasca-kolonialisme, itu sangat kuat dengan aura Jawanya. Para ahli tentang Indonesia sejak awal pun sudah melihat sebagai negara pasca kolonialisme Jawa. Sampai kapan? Pasti akan terjadi perubahan pada satu titik, tapi sampai kapan saya tidak tahu," jelas dia.

Tag:  #laku #spiritual #harto #pergi #gunung #kosongkan #kegiatan #jumat

KOMENTAR