Harga Elektronik Berisiko Naik akibat Gangguan Pasokan Resin
Gangguan produksi resin di Arab Saudi mulai menekan rantai pasok elektronik global.
Resin merupakan bahan penting dalam pembuatan papan sirkuit tercetak atau printed circuit board, PCB.
Komponen ini digunakan pada ponsel pintar, komputer, peralatan rumah tangga, mobil, server kecerdasan buatan atau artificial intelligence, AI, dan pusat data.
Secara alami, resin dikenal sebagai zat lengket yang keluar dari batang pohon, seperti cemara. Manusia kemudian membuat resin sintetis dari campuran petrokimia.
Versi sintetis tersebut dapat mengeras menjadi material yang tahan panas dan tahan lama. Bahan ini digunakan untuk perekat, pelapis, plastik, elektronik, hingga PCB.
Baca juga: Tekan Limbah Plastik, Dow Inc Gandeng Sadikun Kembangkan Resin Daur Ulang
Diberitakan CNBC, Minggu (7/6/2026), masalah muncul setelah kompleks petrokimia dan industri Jubail di Arab Saudi terkena rudal Iran pada 6 dan 7 April.
Serangan tersebut memperparah tekanan terhadap pasokan resin dunia.
Sebelumnya, pabrik di kawasan itu sudah ditutup pada akhir Maret karena pengiriman melalui Selat Hormuz tidak memungkinkan selama konflik. Hingga kini, pabrik tersebut belum kembali beroperasi.
Informasi publik mengenai kondisi kompleks Jubail masih terbatas.
Namun, Chief Executive Officer atau CEO Dow Jim Fitterling memberi gambaran soal lamanya pemulihan.
Dow memiliki usaha patungan dengan Saudi Aramco di Jubail.
Pada konferensi kinerja perusahaan 23 April, Fitterling mengatakan proses pembukaan kembali Selat Hormuz dan pemulihan rantai pasok diperkirakan memakan waktu "lebih dari 275 hari".
Komentar Fitterling menunjukkan masalah logistik menjadi hambatan utama, bukan hanya kerusakan fisik di fasilitas produksi.
“Saya pikir banyak hal akan dapat diperbaiki dalam jangka waktu tersebut. ... hanya dengan berbicara dengan mitra kami, saya pikir mereka secara aktif mengerjakan perbaikan, dan saya tidak mendengar apa pun dari mereka yang membuat saya percaya bahwa hal itu akan berlangsung lebih lama dari durasi kendala logistik ini,” kata Fittering.
Baca juga: Bahan Baku Plastik, Resin Polietilena InnoPlus Raih Sertifikat SNI
Harga elektronik berisiko naik
Para ahli memperkirakan dampak ke konsumen mulai terasa jika penghentian produksi resin berlanjut hingga musim gugur.
Tekanan awal sudah terlihat pada data harga produsen April.
Resin dan material plastik menjadi salah satu faktor yang mendorong harga barang olahan naik 9,4 persen secara tahunan.
Kenaikan tersebut menjadi yang paling tajam dalam lebih dari tiga tahun.
CNBC baru-baru ini mendapat akses langka ke fasilitas TTM, perusahaan pembuat PCB di Amerika Serikat atau AS. Kunjungan itu menunjukkan rapuhnya rantai pasok komponen komputer.
Pada 2000, sekitar 30 persen PCB dunia diproduksi di AS. Saat ini, porsinya turun menjadi 4 persen.
China menjadi produsen terbesar dunia. Namun, baik PCB diproduksi di AS maupun China, resin yang digunakan tetap berasal dari sumber yang sama.
Victory Giant, pemasok Nvidia di China dan salah satu pembuat PCB terbesar di dunia, memperingatkan konflik Timur Tengah dapat mendorong kenaikan harga bahan baku utama, terutama tembaga dan resin.
Harga PCB naik hingga 40 persen dari Maret sampai April, menurut catatan Goldman Sachs yang dikutip Reuters.
TTM, yang harga sahamnya naik lebih dari 400 persen dalam setahun terakhir, mengatakan kepada CNBC jika perusahaan menaikkan harga antara 5 persen dan 25 persen.
Konsumen mungkin merasakan dampaknya dalam bentuk harga perangkat yang lebih tinggi, waktu perbaikan lebih lama, stok produk baru lebih ketat, dan diskon yang lebih sedikit.
“Kemungkinan besar, konsumen mungkin tidak akan mendengar ‘kekurangan resin PPE’ di Apple Store, tetapi mereka mungkin merasakannya dalam harga yang lebih tinggi, waktu perbaikan yang lebih lama, persediaan peluncuran yang lebih ketat, dan diskon yang lebih sedikit,” kata CEO dan analis utama SmartTech Research Mark Vena.
Menurut Vena, PCB adalah sistem saraf bagi hampir semua perangkat modern.
Saat biaya PCB melonjak, dampaknya cepat menyebar ke ponsel, laptop, perangkat wearable, konsol gim, router, dan server AI.
“Saya memperkirakan tekanan kenaikan harga di seluruh elektronik premium, tetapi belum tentu ada ‘biaya tambahan resin’ yang jelas pada iPhone berikutnya,” kata Vena.
Apple lebih terlindungi, tetapi tidak kebal
Apple dinilai lebih kuat menghadapi tekanan rantai pasok dibandingkan banyak produsen lain.
Perusahaan tersebut memiliki daya beli besar, kontrak jangka panjang dengan pemasok, sistem proyeksi yang maju, dan kemampuan mendesain ulang produk lebih cepat saat muncul kendala bahan baku.
“Tetapi terlindungi bukan berarti kebal, karena setiap iPhone masih bergantung pada papan sirkuit yang sangat andal dan jaringan material global yang sama yang digunakan semua orang,” kata Vena. “Apple dapat mengalihkan kerugian, tetapi tidak dapat menghilangkan hambatan petrokimia yang terkonsentrasi,” tambahnya.
Produsen besar mungkin menyerap sebagian kenaikan biaya.
Apple, misalnya, dapat menekan promosi, menaikkan biaya penyimpanan, atau mendorong konsumen memilih konfigurasi produk yang lebih mahal.
Cara itu dapat mengurangi kebutuhan menaikkan harga dasar secara mencolok.
Namun, ruang gerak tersebut tidak dimiliki semua perusahaan.
Banyak produsen perangkat elektronik memiliki margin lebih tipis.
“Tekanan jangka pendek yang lebih besar mungkin akan terlihat pertama kali pada perangkat dengan margin keuntungan rendah seperti PC, aksesori, perangkat keras game, router, dan ponsel Android kelas menengah, di mana produsen memiliki ruang gerak yang lebih kecil untuk menanggung guncangan PCB sebesar 40 persen,” kata Vena.
Kenaikan biaya juga dapat terasa lebih besar pada ponsel lipat. Segmen ini memakai desain lebih kompleks dan komponen bernilai tinggi.
Apple dilaporkan berpotensi masuk ke pasar ponsel lipat pada akhir tahun ini. Namun, laporan lain menyebut peluncuran yang diperkirakan pada September 2026 berisiko tertunda.
Pendiri dan CEO Goji Mobile Thad Hwang menilai harga ponsel pintar belum akan naik dalam beberapa bulan ke depan, terutama untuk model unggulan seperti iPhone 17 dan seri Samsung Galaxy S26.
“Harga eceran ponsel-ponsel ini sudah diketahui dengan baik dan persediaan biasanya mencukupi,” katanya.
Namun, Hwang menambahkan dampak jangka panjang dari gangguan manufaktur semikonduktor dan ketidakstabilan rantai pasok dapat terasa pada musim gugur.
Tidak ada pengganti cepat
Pakar rantai pasok sekaligus profesor Wichita State University Usha Haley mengatakan, kompleks Jubail memasok sekitar 70 persen resin polifenilen eter atau polyphenylene ether, PPE, dengan kemurnian tinggi di dunia.
“Produksi kini terhenti dan tidak ada pemasok alternatif yang dapat mengisi kekosongan tersebut. Harga PCB telah naik 40 persen dalam sebulan, dan waktu tunggu untuk input resin epoksi telah meningkat dari tiga minggu menjadi lima belas minggu,” kata Haley.
Industri belum memiliki pengganti resin PPE yang siap pakai untuk produk teknologi kelas atas.
Resin PPE dengan kemurnian tinggi dipakai karena mampu memenuhi kebutuhan listrik, termal, dan keandalan pada PCB canggih.
Material ini penting untuk perangkat yang membutuhkan integritas sinyal tinggi.
Bahan pengganti masih mungkin digunakan pada elektronik kelas bawah.
Namun, untuk ponsel premium, komponen frekuensi radio, server AI, dan elektronik otomotif, pergantian material membutuhkan kualifikasi ulang, desain ulang, pengujian, dan waktu.
“Ini bukan seperti mengganti satu sekrup dengan sekrup lain,” kata Vena.
Insinyur masih dapat beralih ke laminasi berbasis PTFE atau epoksi untuk aplikasi frekuensi rendah.
Namun, kekurangan resin, kenaikan harga memori, dan tarif berisiko mendorong harga elektronik ke level tertinggi dalam satu dekade pada musim gugur, menurut para ahli rantai pasok.
Dorongan produksi dalam negeri
Gangguan pasokan resin mendorong kembali perdebatan soal relokasi produksi plastik ke dalam negeri AS.
Asosiasi Industri Plastik, kelompok dagang utama sektor tersebut, mengatakan terus memantau situasi.
“Apa yang terjadi saat ini menggarisbawahi pentingnya membangun jaringan pasokan yang tangguh yang mendukung produsen, bisnis, dan konsumen Amerika yang bergantung pada produk plastik setiap hari,” kata Presiden dan CEO Asosiasi Industri Plastik Matt Seaholm.
Seaholm mengatakan rantai pasok resin saat ini masih bergerak.
“Gangguan pasokan global memengaruhi setiap industri, dan plastik tidak terkecuali. AS memiliki basis manufaktur dan material domestik yang kuat yang membantu menjaga rantai pasokan resin tetap bergerak selama periode ketidakpastian,” kata Seaholm.
Namun, profesor manajemen operasi Carnegie Mellon University Sridhar Tayur menilai AS tidak memiliki kapasitas manufaktur untuk mengganti pasokan resin yang hilang.
Menurut Tayur, keahlian produksi sudah berpindah ke negara lain.
Pemimpin industri dan pembuat kebijakan sering terlambat memperhatikan risiko tersebut, sampai krisis terjadi.
Perusahaan besar memiliki posisi lebih baik.
Namun, Tayur mengatakan mereka tetap akan merasakan kekurangan resin jika gangguan pasokan tidak segera teratasi.
“Tiba-tiba, orang-orang akan mengurangi persediaan yang mereka miliki,” kata Tayur.
Jika pabrik di Arab Saudi tidak beroperasi selama beberapa bulan lagi, masalah akan mulai muncul lebih jelas.
“Situasi ini akan memengaruhi pusat data, router, dan ponsel 5G kelas atas — di sinilah jenis resin yang digunakan sangat penting,” kata Tayur.
Dampaknya berpotensi mengejutkan konsumen.
Pembeli ponsel kelas atas dapat menunda pembelian karena harga naik atau ketersediaan produk terbatas.
Bagi Apple dan produsen elektronik lain, “tidak banyak yang dapat mereka lakukan tentang kekurangan, jika memang tidak ada,” kata Tayur.
Tag: #harga #elektronik #berisiko #naik #akibat #gangguan #pasokan #resin