GOTO dan NCKL Keluar dari Indeks FTSE, Dana Rp 1 Triliun Berpotensi Kabur
Ilustrasi saham, IHSG. (canva.com)
16:24
2 Juni 2026

GOTO dan NCKL Keluar dari Indeks FTSE, Dana Rp 1 Triliun Berpotensi Kabur

 Keputusan FTSE Russell mengeluarkan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dari konstituen indeksnya berpotensi memicu arus keluar dana sekitar Rp 1 triliun.

Meski demikian, dampak terhadap harga saham kedua emiten diperkirakan berbeda. Perbedaan itu dipengaruhi karakteristik likuiditas dan level harga masing-masing saham.

Penyedia indeks saham global, FTSE Russell, mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari konstituen indeksnya dalam hasil tinjauan periode Juni 2026.

Baca juga: GOTO dan NCKL Keluar dari Indeks FTSE, Investor Disarankan Wait and See

Sebanyak empat saham Indonesia keluar dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Mid Cap Index dan Micro Cap Index.

Perubahan tersebut efektif berlaku mulai 22 Juni 2026 setelah penutupan perdagangan pada 19 Juni 2026.

FTSE Russell menyebut keputusan tersebut berkaitan dengan status pencatatan emiten di Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Segmen pasar tersebut dinilai tidak memenuhi persyaratan untuk masuk ke FTSE GEIS.

“Efektif mulai 22 Juni 2026 karena sekuritas tersebut terdaftar di Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia, yang merupakan segmen pasar yang tidak memenuhi syarat untuk GEIS, dan sesuai dengan Perlakuan Indeks Indonesia untuk Tinjauan Indeks Juni 2026,” tulis FTSE Russell dalam pengumumannya, Selasa (2/6/2026).

Baca juga: Apa Itu FTSE Russell? Lembaga Global yang Depak Sejumlah Saham RI

Hasil tinjauan tersebut membuat saham GOTO dan NCKL keluar dari FTSE GEIS Mid Cap Index.

Kedua saham tersebut dikeluarkan dengan keterangan moved to ineligible board atau berpindah ke papan yang tidak memenuhi syarat dalam metodologi indeks FTSE.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan dampak keluarnya saham GOTO dan NCKL dari indeks FTSE Russell perlu dilihat dari bobot masing-masing saham.

Menurut Faris, GOTO memiliki bobot sekitar 2 persen dari total dana kelolaan FTSE Indonesia. Sementara bobot NCKL relatif kecil, yakni sekitar 0,05 persen.

Komposisi tersebut membuat total dana yang berpotensi keluar dari kedua saham akibat penyesuaian portofolio investor pasif mencapai sekitar Rp 1 triliun.

“Untuk bobot GOTO berada di range 2 persen dari total kelolaan FTSE Indonesia, sedangkan NCKL hanya 0,05 persen. Akumulasi keduanya berkisar Rp 1 triliun,” ujar Faris kepada Kompas.com, Selasa sore ini.

Meski demikian, Faris menilai risiko utama GOTO bukan lagi berasal dari potensi penurunan harga saham.

Saham GOTO saat ini telah diperdagangkan pada level Rp 50 per saham. Level tersebut merupakan batas harga terendah di papan utama BEI.

Kondisi itu membuat ruang penurunan harga menjadi sangat terbatas.

Dampak yang lebih mungkin dirasakan GOTO berada pada sisi likuiditas perdagangan.

“Untuk GOTO karena sudah mencapai Rp 50 sebagai harga paling rendah di papan utama, maka resikonya lebih mengenai likuiditas,” paparnya.

Saham NCKL diperkirakan menghadapi dampak yang tidak terlalu signifikan terhadap pergerakan harga.

Nilai dana yang berpotensi keluar dari NCKL hanya berkisar Rp 25 miliar hingga Rp 27 miliar.

Nilai tersebut masih dapat diserap pasar jika dibandingkan dengan transaksi harian saham NCKL yang saat ini mencapai sekitar Rp 35 miliar.

Karena itu, keluarnya NCKL dari indeks FTSE tidak serta-merta memicu pelemahan harga yang tajam.

“NCKL total size-nya hanya sekitar Rp 25- Rp 27 miliar dan jika dilihat dari transaksi harian, tidak akan terlalu membuat saham melemah signifikan karena likuiditas pasar di hari ini berkisar Rp 35 miliar,” pungkas dia.

Menurut Faris, total dana yang berpotensi keluar dari GOTO dan NCKL akibat penyesuaian portofolio investor yang mengikuti indeks FTSE diperkirakan mencapai sekitar Rp 1 triliun.

“Akumulasi dana keluar, mencapai Rp 1 triliun untuk kedua saham tersebut, namun untuk kasus GOTO institusi tersebut tidak akan bisa keluar dengan leluasa karena hingga saat ini GOTO masih diperdagangkan di harga Rp 50,” lanjut Faris.

Masuk atau keluarnya GOTO dan NCKL dari indeks FTSE Russell diyakini tidak memberi dampak material terhadap operasional maupun fundamental bisnis kedua perusahaan.

Faris mencatat penentuan konstituen indeks FTSE lebih banyak didasarkan pada faktor teknis pasar.

Faktor tersebut mencakup free float market capitalization (FFMC) dan average daily traded value (ADTV), bukan semata-mata kinerja operasional atau prospek bisnis emiten.

Investor institusi yang memakai FTSE sebagai acuan investasi pada dasarnya mencari saham dengan tingkat likuiditas tinggi dan mudah diperdagangkan dalam jumlah besar.

Karena itu, perubahan status suatu saham dalam indeks lebih berkaitan dengan aspek likuiditas dan keterjangkauan transaksi dibandingkan kualitas fundamental perusahaan.

“Yang dicari investor institusi ini adalah eksposur likuiditas, bukan berdasarkan performa perusahaan,” katanya.

Faris menilai keluarnya GOTO dan NCKL dari indeks FTSE tidak serta-merta mengubah kemampuan kedua emiten dalam menghasilkan pendapatan, menjalankan strategi bisnis, maupun mencatat pertumbuhan kinerja keuangan.

Karena itu, investor tidak perlu langsung mengaitkan keputusan FTSE tersebut dengan memburuknya kondisi fundamental perusahaan.

Meski demikian, Faris menyarankan investor mengambil sikap wait and see sebelum mengambil keputusan investasi pada kedua saham tersebut.

Sejumlah faktor eksternal masih perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi sentimen dan prospek bisnis masing-masing emiten.

Investor GOTO perlu mencermati perkembangan kebijakan terkait pemotongan komisi atau tarif layanan ojek online (ojol).

Kebijakan tersebut dapat berdampak pada model bisnis dan profitabilitas perusahaan.

Investor NCKL perlu mencermati implementasi kebijakan ekspor yang lebih tersentralisasi dan potensi pengaruhnya terhadap industri nikel serta kinerja perseroan.

“Untuk kedua saham tersebut kami anjurkan untuk wait and see terlebih dahulu, sambil melihat efek kebijakan potongan ojol dan kebijakan ekspor tersentralisasi,” ungkap Faris.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #goto #nckl #keluar #dari #indeks #ftse #dana #triliun #berpotensi #kabur

KOMENTAR