Kenapa Piala Dunia 2026 Jadi Paling Kontroversial Sepanjang Sejarah?
Ilustrasi Piala Dunia 2026 [Suara.com/AI]
15:24
3 Juni 2026

Kenapa Piala Dunia 2026 Jadi Paling Kontroversial Sepanjang Sejarah?

Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko diprediksi menjadi salah satu turnamen paling kontroversial dalam sejarah.

Alih-alih disambut euforia, turnamen ini justru dibayangi isu harga mahal, cuaca ekstrem, hingga tensi politik global.

Sebagai ajang olahraga terbesar di dunia, Piala Dunia biasanya identik dengan antusiasme tinggi.

Namun kali ini, atmosfer menjelang turnamen terasa berbeda dan tidak sepenuhnya mencerminkan kemeriahan yang diharapkan.

Turnamen edisi 2026 akan menjadi yang pertama dengan 48 peserta dan digelar di 16 kota.

Format baru ini memang menjanjikan skala yang lebih besar, tetapi juga menghadirkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Salah satu sorotan utama adalah biaya yang sangat tinggi bagi penonton.

Ilustrasi Tiket Piala Dunia 2026 [Instagram]Ilustrasi Tiket Piala Dunia 2026 [Instagram]

Di New York, misalnya, dua malam menginap di hotel dan satu tiket pertandingan bisa mencapai sekitar 2.000 dolar AS, belum termasuk biaya transportasi.

Ironisnya, pertandingan tidak digelar di pusat kota New York, melainkan di New Jersey.

Harga tiket transportasi pun melonjak drastis hingga 98 dolar AS, lebih dari tujuh kali lipat harga normal.

Kondisi ini memicu penyelidikan dari otoritas New York dan New Jersey terhadap FIFA.

Jaksa New York menilai harga tiket yang ditetapkan terlalu tinggi dan berpotensi merugikan penggemar.

“FIFA telah mengubah pembelian tiket menjadi proses yang membingungkan dengan kelangkaan semu dan harga yang sangat tinggi,” ujar Jaksa Agung New Jersey, Jennifer Davenport.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, membela kebijakan tersebut dengan menyebut harga tiket mencerminkan permintaan pasar.

Infantino mengklaim ada sekitar 500 juta permintaan tiket untuk turnamen ini.

Selain harga, faktor cuaca juga menjadi perhatian serius.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa 14 dari 16 stadion berpotensi mengalami suhu berbahaya, terutama di wilayah selatan AS dan Meksiko yang bisa melebihi 30 derajat Celsius.

FIFA telah menetapkan jeda pendinginan selama tiga menit di setiap babak.

Namun, para ahli menilai durasi tersebut belum cukup dan seharusnya diperpanjang demi keselamatan pemain.

Jurnalis The Athletic, Adam Crafton, mengungkapkan bahwa suhu di lapangan bisa lebih tinggi dibandingkan di luar stadion.

“Selalu beberapa derajat lebih panas di level lapangan, jadi kondisinya bisa sangat berat bagi pemain,” katanya.

Ia juga menilai jeda pendinginan akan mengubah ritme pertandingan.

“Pertandingan bisa terasa seperti dibagi menjadi empat bagian, bukan dua babak,” ujar Crafton.

Di sisi lain, aspek politik juga tak terelakkan. Amerika Serikat sebagai tuan rumah tengah berada dalam konflik dengan Iran, salah satu peserta turnamen.

Tim Iran hanya diizinkan bermarkas di Meksiko, sementara pendukungnya dilarang hadir di stadion di AS. Situasi ini menambah kompleksitas penyelenggaraan turnamen.

Isu imigrasi, pemeriksaan perbatasan, hingga visa juga menjadi kekhawatiran bagi banyak pihak. Hal ini membuat Piala Dunia 2026 tak sekadar ajang olahraga, tetapi juga sarat muatan politik.

Meski demikian, sejarah menunjukkan kontroversi sering mereda saat turnamen dimulai.

Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, isu hak asasi manusia sempat mendominasi, namun perlahan tergeser oleh jalannya pertandingan.

“Ketika sepak bola dimulai, banyak isu besar perlahan mereda,” kata Crafton. “Fokus publik kembali ke pertandingan di lapangan.”

Kini, pertanyaannya adalah apakah hal serupa akan terjadi di Piala Dunia 2026. Atau justru berbagai masalah yang ada terlalu besar untuk diabaikan.

Editor: Galih Prasetyo

Tag:  #kenapa #piala #dunia #2026 #jadi #paling #kontroversial #sepanjang #sejarah

KOMENTAR