Rupiah Melemah Lagi, Defisit Transaksi Berjalan Sentuh Titik Terendah dalam 6 Tahun
Pelemahan nilai tukar rupiah terjadi akibat defisit transaksi berjalan Indonesia yang membengkak hingga mencapai 4 miliar dolar AS pada triwulan pertama. [Antara]
16:35
22 Mei 2026

Rupiah Melemah Lagi, Defisit Transaksi Berjalan Sentuh Titik Terendah dalam 6 Tahun

Nilai tukar rupiah anjlok lagi pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026). Analis mengatakan pemicu melemahnya rupiah adalah defisit transaksi berjalan yang lebih rendah dari perkiraan, bahkan yang terendah dalam 6 tahun terakhir.

Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup ke level Rp 17.716 per dolar AS, melemah 49 poin atau 0,29 persen dibandingkan penutupan Kamis kemarin yang berada di level Rp 17.667. Penurunan ini terjadi bahkan setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada pekan ini.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dikarenakan sentimen dalam negeri. Salah satunya defisit transaksi berjalan yang makin melebar.

"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS setelah data menujukkan defisit neraca transaksi berjalan yang lebih besar dari perkiraan dan jauh lebih besar dari defisit di kuartal yang sama tahun lalu," katanya saat dihubungi Suara.com di Jakarta.

Sementara menurut data Indo Premier Sekuritas, defisit transaksi berjalan Indonesia melebar ke level terdalam dalam lebih dari enam tahun dan memperkuat kekhawatiran investor terhadap keseimbangan eksternal Indonesia.

Lukman menambahkan sentimen risk off yang masih terjadi di pasar ekuitas domestik juga ikut menekan rupiah. Ia memperkirakan pekan depan mata uang Garuda masih akan melemah hingga berpeluang mencapai Rp17.800 per dolar AS.

"Untuk Senin, rupiah akan dipengaruhi oleh perkembangan seputar Timur Tengah, di mana Iran diharapkan memberikan respon terhadap proposal AS dalam waktu dekat ini," jelasnya.

Defisit transaksi berjalan tembus Rp70 triliun

Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I 2026 masih terjaga, namun defisit transaksi berjalan justru makin melebar hingga mencapai 4 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp70 triliun (kurs Rp17.500 per dolar AS).

Angka tersebut melonjak dibandingkan triwulan IV 2025 yang tercatat defisit 2,5 miliar dolar AS. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru di tengah pelemahan ekonomi global dan terganggunya rantai pasok perdagangan internasional.

Direktur Eksekutif Komunikasi BI Ramdan Denny mengatakan surplus neraca perdagangan nonmigas masih terjadi, namun nilainya lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya. Penyebab utamanya adalah perlambatan ekonomi dunia yang mulai memukul aktivitas perdagangan Indonesia.

“Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus meskipun lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya,” ujar Ramdan dalam keterangan resmi, Kamis (22/5/2026).

Di sisi lain, defisit neraca pendapatan primer ikut membengkak akibat kenaikan pembayaran kupon dan bunga utang. Meski begitu, neraca jasa tercatat membaik karena impor jasa freight mengalami penurunan.

Tak hanya transaksi berjalan, tekanan juga terlihat pada transaksi modal dan finansial. Pada triwulan I 2026, pos ini mencatat defisit 4,9 miliar dolar AS setelah sebelumnya surplus 9 miliar dolar AS pada akhir 2025.

Secara keseluruhan, NPI Indonesia tercatat defisit 9,1 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp159 triliun. Meski demikian, BI memastikan posisi cadangan devisa masih aman di level 148,2 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Di tengah gejolak pasar keuangan global, investasi langsung ke Indonesia masih mencatat surplus. Hal ini disebut menjadi sinyal bahwa investor asing masih percaya terhadap prospek ekonomi nasional dan iklim investasi domestik.

Namun, BI mengakui ketidakpastian global tetap menjadi ancaman besar terhadap ketahanan eksternal Indonesia ke depan. Karena itu, bank sentral bersama pemerintah akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

BI memperkirakan defisit transaksi berjalan sepanjang 2026 masih berada dalam level aman, yakni di kisaran 0,5 persen hingga 1,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Editor: Liberty Jemadu

Tag:  #rupiah #melemah #lagi #defisit #transaksi #berjalan #sentuh #titik #terendah #dalam #tahun

KOMENTAR