Survei Deloitte: Hampir 30 Persen Gen Z Punya Pekerjaan Sampingan
Pekerjaan sampingan atau side job kini bukan lagi sekadar aktivitas tambahan bagi generasi milenial dan Gen Z.
Di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat, pekerjaan sampingan menjadi strategi untuk menjaga stabilitas finansial, membangun keterampilan baru, sekaligus membuka peluang karier di masa depan.
Laporan 2026 Gen Z and Millennial Survey yang dirilis Deloitte menunjukkan, hampir 30 persen Gen Z dan sekitar seperempat milenial memiliki pekerjaan sampingan, baik paruh waktu maupun penuh waktu, di luar pekerjaan utama mereka.
Baca juga: 4 Pekerjaan Sampingan yang Bisa Dilakukan dari Rumah
Ilustrasi pekerjaan sampingan, side job.
Fenomena ini muncul seiring tekanan ekonomi yang semakin kuat terhadap dua generasi tersebut.
Deloitte mencatat, biaya hidup menjadi kekhawatiran utama Gen Z dan milenial selama lima tahun berturut-turut.
Sebanyak 38 persen Gen Z dan 42 persen milenial menempatkan biaya hidup sebagai isu paling mengkhawatirkan dibanding isu lain seperti pengangguran, perubahan iklim, maupun situasi geopolitik.
Selain itu, lebih dari separuh responden mengaku menunda keputusan besar dalam hidup karena kondisi finansial mereka.
Baca juga: Simak 7 Jenis Pekerjaan Sampingan Paling Diminati
Sebanyak 55 persen Gen Z dan 52 persen milenial mengatakan mereka menunda keputusan seperti menikah, membangun keluarga, membuka usaha, atau melanjutkan pendidikan akibat tekanan keuangan.
Side job demi tambah penghasilan
Ilustrasi pekerjaan sampingan.
Dalam laporan tersebut, Deloitte menyebut alasan paling umum generasi muda mengambil pekerjaan sampingan adalah kebutuhan finansial.
Sebanyak 44 persen Gen Z dan 48 persen milenial yang memiliki side job mengaku melakukannya karena alasan ekonomi.
Tekanan finansial itu terlihat dari kondisi sehari-hari responden survei. Deloitte mencatat, 47 persen Gen Z dan milenial masih hidup dari gaji ke gaji atau paycheck to paycheck.
Baca juga: Kerap Jadi Pekerjaan Sampingan, Apa Saja Tugas Agen Asuransi?
Selain itu, 34 persen responden dari kedua generasi mengaku kesulitan membayar kebutuhan hidup bulanan mereka.
Masalah kepemilikan rumah juga menjadi tantangan besar. Sebanyak 51 persen Gen Z dan 40 persen milenial mengatakan mereka tidak mampu membeli rumah.
Salah satu responden survei bernama Rukaya mengungkapkan, dirinya dan pasangan sebenarnya memiliki pendapatan tinggi, tetapi daya beli mereka terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
“Suami saya dan saya sama-sama berpenghasilan lebih dari enam digit, tetapi daya beli kami sekarang dibandingkan beberapa tahun lalu sama sekali tidak sama. Pendapatan kami memang meningkat, tetapi gagasan untuk bisa membeli rumah sama sekali tidak mungkin dengan suku bunga dan hal-hal semacam itu,” kata Rukaya dalam laporan Deloitte.
Baca juga: Kejar Cuan, AI Bisa Buat Pekerjaan Sampingan Lebih Efektif
Responden lain bernama Mel juga mengatakan kenaikan harga rumah dan kebutuhan sehari-hari membuat banyak pekerja muda sulit menabung.
“Kekhawatiran utama saya adalah biaya hidup. Harga rumah telah meningkat begitu pesat, terutama untuk mendapatkan rumah di lingkungan yang bagus dan aman… hampir tidak terjangkau,” ujar Mel.
Bukan sekadar cari uang
Meski alasan finansial menjadi faktor utama, pekerjaan sampingan ternyata juga dimanfaatkan generasi muda untuk mengembangkan diri.
Deloitte mencatat, lebih dari sepertiga Gen Z dan milenial mengatakan side job membantu mereka membangun keterampilan penting serta memperluas relasi.
Ilustrasi pekerjaan sampingan, side job.
Baca juga: Coba Pekerjaan Sampingan Ini untuk Dapat Penghasilan Tambahan
Sekitar 30 persen responden bahkan menyebut pekerjaan sampingan sebagai hobi, sementara sekitar seperempat lainnya mengaku pekerjaan tambahan memberi kesempatan untuk berkontribusi positif bagi komunitas mereka.
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap karier.
Mereka tidak lagi melihat kesuksesan hanya dari promosi jabatan atau kenaikan posisi secara cepat, melainkan juga dari fleksibilitas, keseimbangan hidup, dan kesempatan mengembangkan kemampuan baru.
Dalam survei Deloitte, sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial mengaku lebih memilih perkembangan karier yang stabil dibanding pertumbuhan cepat melalui promosi atau perubahan jabatan.
Baca juga: 10 Pekerjaan Sampingan Bergaji Tinggi, Anda Minat?
Hanya 25 persen Gen Z dan 21 persen milenial yang menginginkan pertumbuhan karier cepat.
Selain itu, sekitar 20 persen responden mengaku bersedia berpindah secara lateral atau bahkan menerima posisi lebih rendah demi mendapatkan pengalaman yang dianggap penting untuk kesuksesan jangka panjang.
Megan Korns Russell, integrated marketing and communications executive sekaligus adjunct professor untuk Texas Christian University dan University of Dallas, mengatakan milenial dan Gen Z kini tidak lagi menempatkan karier sebagai satu-satunya pusat kehidupan.
“Generasi Milenial dan Gen Z sangat menginginkan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang utuh, yang bukan hanya tentang meniti karier di perusahaan. Mereka menghargai kesejahteraan,” ujar Russell.
Baca juga: Pekerjaan Sampingan Bisa Lebih Menjanjikan dari Pekerjaan Utama
Burnout jadi ketakutan utama
Perubahan cara pandang terhadap karier juga terlihat dari minimnya minat generasi muda mengejar posisi kepemimpinan dalam waktu dekat.
Ilustrasi burnout. Psikolog mengungkap tiga kebiasaan sederhana yang bisa membantu mencegah burnout sejak dini, mulai dari memberi jeda hingga meluangkan waktu untuk pemulihan.
Laporan Deloitte menunjukkan, hanya 6 persen Gen Z dan milenial yang menjadikan posisi pemimpin sebagai tujuan utama karier mereka.
Alasan terbesar mereka menghindari posisi kepemimpinan adalah stres dan burnout. Sebanyak 50 persen Gen Z dan 49 persen milenial menyebut burnout sebagai alasan utama tidak mengejar posisi pemimpin.
Selain itu, 50 persen Gen Z dan 48 persen milenial menilai posisi pemimpin membawa terlalu banyak tanggung jawab.
Baca juga: Inilah Pekerjaan Sampingan yang Banyak Dilakoni Orang Indonesia
Kekhawatiran soal keseimbangan hidup dan pekerjaan juga menjadi pertimbangan besar. Sebanyak 41 persen Gen Z dan 46 persen milenial mengatakan mereka enggan mengejar posisi pemimpin karena khawatir kehilangan work-life balance.
Meski demikian, Deloitte menilai kondisi ini bukan berarti generasi muda kehilangan ambisi. Sebanyak 76 persen Gen Z dan 67 persen milenial tetap tertarik mengejar posisi senior leadership di masa depan, tetapi mereka ingin melakukannya dengan cara yang lebih berkelanjutan.
Mike Canning, Global Chief Strategy Officer Deloitte Global, mengatakan generasi muda tetap tertarik pada posisi kepemimpinan, tetapi dengan syarat tertentu.
“Peran kepemimpinan masih menarik, tetapi perlu menawarkan fleksibilitas,” ujar Canning.
Baca juga: Cara Anak Muda Bertahan Bayar KPR Floating: Tambah Side Job hingga Pindah Bank Lain
Adaptif dan terus belajar
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan dunia kerja yang cepat, Gen Z dan milenial juga semakin fokus meningkatkan kemampuan mereka.
Deloitte menyebut adaptabilitas kini menjadi kemampuan inti bagi generasi muda untuk tetap relevan di dunia kerja.
Ilustrasi Gen Z menggunakan internet.
Keterampilan yang paling banyak dimiliki responden antara lain etos kerja, kemampuan kolaborasi, empati, adaptabilitas, serta kemampuan berpikir kritis. Sementara kemampuan yang paling ingin dikembangkan adalah public speaking, kepemimpinan, literasi AI, komunikasi, dan kreativitas.
Banyak responden mengaku terus belajar demi mempertahankan daya saing mereka di pasar kerja.
Baca juga: Survei Deloitte: AI Jadi “Teman Kerja” Baru Milenial dan Gen Z
Di sisi lain, penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga semakin umum di kalangan pekerja muda. Sebanyak 74 persen Gen Z dan milenial kini menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari mereka.
AI digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari analisis data, pembuatan konten, hingga mencari peluang pengembangan diri dan nasihat karier.
Sebanyak 79 persen responden menggunakan AI untuk mengidentifikasi peluang belajar dan pengembangan, sementara lebih dari 70 persen memanfaatkannya untuk mencari saran karier.
Deloitte menilai, kombinasi tekanan ekonomi, perubahan teknologi, dan kekhawatiran terhadap burnout membuat generasi muda kini lebih berhati-hati menentukan arah karier mereka.
Baca juga: Deloitte: Gen Z dan Milenial Menunda Masa Depan karena Tekanan Keuangan
Dalam situasi tersebut, pekerjaan sampingan menjadi salah satu cara untuk menjaga stabilitas sekaligus membuka lebih banyak pilihan di masa depan.
Survei 2026 Gen Z and Millennial Survey dilakukan Deloitte terhadap lebih dari 22.500 responden dari generasi Gen Z dan milenial di 44 negara.
Gen Z dalam survei ini didefinisikan sebagai mereka yang lahir pada 1995 hingga 2007, sedangkan milenial merupakan responden yang lahir pada 1983 hingga 1994.
Selain mengumpulkan data kuantitatif dari responden lintas negara, Deloitte juga melengkapi riset ini dengan wawancara kualitatif bersama para pemimpin bisnis di berbagai pasar.
Baca juga: Survei: Karier Tak Lagi Soal Jabatan, Gen Z dan Milenial Kini Cari Hidup Seimbang
Pendekatan tersebut dilakukan untuk menangkap pandangan generasi muda mengenai pekerjaan, kehidupan pribadi, kepemimpinan, kondisi finansial, hingga perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Laporan ini merupakan edisi ke-15 dari survei tahunan Deloitte mengenai Gen Z dan milenial.
Deloitte menyebut survei ini awalnya diluncurkan dengan nama The Voice of Millennials ketika generasi milenial mulai memasuki dunia kerja dalam jumlah besar dan mengubah berbagai asumsi mengenai hubungan pekerja dan perusahaan.
Ketika Gen Z mulai masuk ke dunia kerja lima tahun kemudian, cakupan survei diperluas untuk memasukkan perspektif generasi tersebut.
Tag: #survei #deloitte #hampir #persen #punya #pekerjaan #sampingan