Unjuk Rasa Pekerja Samsung Ancam Ekonomi Korsel dan Pasokan Chip Global
Ilustrasi logo Samsung. (WIKIMEDIA COMMONS/DENNISM2)
19:16
18 Mei 2026

Unjuk Rasa Pekerja Samsung Ancam Ekonomi Korsel dan Pasokan Chip Global

Pemerintah Korea Selatan (Korsel) terus mendorong tercapainya kesepakatan antara manajemen Samsung Electronics dan serikat pekerja di tengah ancaman mogok kerja besar-besaran yang direncanakan berlangsung selama 18 hari mulai 21 Mei 2026.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Senin (18/5/2026) meminta hak pekerja dan hak manajemen sama-sama dihormati di tengah memanasnya perselisihan hubungan industrial di perusahaan teknologi terbesar negara tersebut.

Lee, melalui unggahan di platform X dalam bahasa Korea, mengatakan “buruh harus dihormati sebagaimana bisnis dihormati, dan hak manajemen perusahaan harus dihormati sebagaimana hak buruh,” dikutip dari CNBC, Senin (18/5/2026).

Baca juga: Saham Samsung Melonjak, Kapitalisasi Pasar Tembus 1 Triliun Dollar AS

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung saat mengambil sumpah jabatan di Gedung Majelis Nasional, Seoul, 4 Juni 2025.AFP/POOL/ANTHONY WALLACE Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung saat mengambil sumpah jabatan di Gedung Majelis Nasional, Seoul, 4 Juni 2025.

“Berlebihan tidak membawa manfaat; ekstrem justru berujung pada kemunduran,” kata Lee, menurut terjemahan CNBC.

Pernyataan Lee menjadi bagian dari rangkaian seruan pejabat pemerintah Korea Selatan yang meminta Samsung dan serikat pekerjanya segera mencapai kesepakatan sebelum aksi mogok dimulai.

Putaran terakhir perundingan antara serikat pekerja dan manajemen Samsung dijadwalkan berlangsung pada Senin.

Namun, pembicaraan tersebut belum menghasilkan kesepakatan final dan akan dilanjutkan kembali pada Selasa, menurut Reuters.

Baca juga: Harga Samsung Galaxy A57 5G Mulai Rp 7 Jutaan, Intip Spesifikasi dan Fitur Unggulannya

Dikutip dari Reuters, perwakilan serikat pekerja Samsung mengatakan pihaknya tetap melakukan negosiasi dengan itikad baik.

Ketua National Labor Relations Commission Korea Selatan, Park Su-keun, juga mengatakan pembicaraan akan dilanjutkan karena kedua pihak masih memiliki perbedaan yang cukup jauh.

Ilustrasi Samsung.GizmoChina Ilustrasi Samsung.

Tuntutan bonus jadi pokok perselisihan

Perselisihan utama antara pekerja dan manajemen Samsung berpusat pada sistem bonus berbasis kinerja perusahaan.

Serikat pekerja menuntut bonus kinerja setara 15 persen dari laba operasional Samsung, penghapusan batas maksimal pembayaran bonus, serta formalisasi struktur bonus ke dalam kontrak kerja.

Baca juga: Samsung Galaxy A57 dan A37 Resmi Meluncur di Indonesia, Intip Harganya

Menurut warta Reuters, serikat juga meminta Samsung menghapus batas bonus sebesar 50 persen dari gaji tahunan pekerja.

Sementara itu, manajemen Samsung menawarkan alokasi bonus sebesar 9 persen hingga 10 persen dari laba operasional tahunan perusahaan apabila pendapatan tahun ini melampaui 200 triliun won atau setara sekitar Rp 2.362 triliun (asumsi kurs Rp 11,81 per won). 

Namun, perusahaan tetap mempertahankan batas bonus maksimal sebesar 50 persen dari gaji tahunan pekerja.

CNBC juga melaporkan Samsung menawarkan paket kompensasi khusus satu kali kepada pekerja.

Baca juga: Samsung Akhirnya Punya Momentum AI, Saham Tembus Rekor Tertinggi

Ancaman mogok kerja ini berpotensi menjadi aksi industrial terbesar dalam sejarah Samsung Electronics. Lebih dari 45.000 hingga 47.000 pekerja disebut siap ikut dalam aksi tersebut.

Serikat pekerja menyatakan aksi unjuk rasa sebelumnya pada 23 April yang diikuti sekitar 40.000 pekerja menyebabkan produksi foundry Samsung turun 58 persen dan produksi memori turun 18 persen pada hari yang sama.

Serikat pekerja memperkirakan mogok kerja selama 18 hari dapat menyebabkan kerugian sekitar 30 triliun won atau sekitar Rp 354,3 triliun bagi Samsung.

Pemerintah Korsel khawatirkan dampak ekonomi

Ilustrasi bendera Korea Selatan.SHUTTERSTOCK/CHINTUNG LEE Ilustrasi bendera Korea Selatan.

Pemerintah Korea Selatan semakin intens menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari potensi mogok kerja tersebut.

Baca juga: 5 Tip Finansial Supaya Cinta Makin Awet dan Bisa Dapat Samsung A55

Perdana Menteri Korea Selatan Kim Min-seok pada Minggu (17/5/2026) mengatakan pemerintah akan mengeksplorasi semua langkah respons yang memungkinkan, termasuk “penyesuaian darurat” apabila aksi mogok dinilai berisiko menimbulkan “kerusakan signifikan".

Berdasarkan hukum Korea Selatan, menteri tenaga kerja dapat memberlakukan “emergency adjustment” atau penyesuaian darurat untuk menghentikan aksi industrial selama 30 hari apabila perselisihan dinilai dapat membahayakan ekonomi atau kehidupan masyarakat.

Kim menyebut negosiasi pada Senin menjadi kesempatan terakhir untuk mencegah mogok kerja.

“Kerugian ekonomi yang akan kita hadapi tidak akan terbayangkan,” ujar Kim.

Baca juga: Preorder Samsung Galaxy Z Fold 7 dan Z Flip 7 di Blibli, Bisa Dapat Cashback Rp 3 Juta

Ia memperkirakan kerugian langsung akibat aksi mogok dapat mencapai 1 triliun won atau sekitar Rp 11,81 triliun.

Bahkan, kerugian ekonomi disebut dapat melonjak hingga 100 triliun won apabila gangguan produksi chip memaksa Samsung membuang produk semikonduktor yang sedang diproses.

Namun, serikat pekerja membantah besarnya dampak yang diperkirakan pemerintah tersebut.

Dalam pernyataannya, serikat menyebut penghentian produksi sebelumnya juga pernah terjadi untuk keperluan inspeksi peralatan, pemeliharaan, dan penyesuaian proses produksi.

Baca juga: Samsung Akuisisi Perusahaan Pendingin Jerman untuk Dukung Pusat Data AI

Serikat juga menilai pemerintah tidak cukup meninjau materi bantahan dari pihak pekerja dan hanya berfokus pada klaim manajemen perusahaan.

Samsung dinilai terlalu dominan bagi ekonomi Korsel

Ilustrasi Samsung, deretan produk smartphone Samsung. SHUTTERSTOCK/N.Z. PHOTOGRAPHY Ilustrasi Samsung, deretan produk smartphone Samsung.

Kekhawatiran pemerintah terhadap aksi mogok tidak lepas dari besarnya kontribusi Samsung terhadap ekonomi Korea Selatan.

Kim menyebut Samsung Electronics menyumbang 22,8 persen dari total ekspor Korea Selatan dan sekitar 26 persen dari total kapitalisasi pasar negara tersebut.

Kantor kepresidenan Korea Selatan juga menyatakan pendapatan Samsung Electronics setara dengan 12,5 persen produk domestik bruto (PDB) Korea Selatan.

Baca juga: Elektronik hingga HP Merek Samsung Buatan Mana?

Analis sebelumnya juga telah menyoroti tingginya risiko konsentrasi di pasar saham Korea Selatan karena ketergantungan besar terhadap sejumlah kecil perusahaan raksasa, termasuk Samsung.

Ketergantungan tersebut dinilai meningkatkan risiko volatilitas pasar dan kerentanan terhadap guncangan geopolitik, termasuk perlambatan belanja pusat data global.

Menteri Keuangan Korea Selatan Koo Yun Cheol pekan lalu juga memperingatkan bahwa aksi mogok “tidak boleh terjadi dalam kondisi apa pun.”

“Samsung Electronics adalah perusahaan penting yang diperhatikan dunia,” tulis Koo di platform X.

Baca juga: Samsung Waswas, Tarif Impor AS Ancam Ekspor dari Vietnam

“Dengan mempertimbangkan kondisi manajemen saat ini dan dampaknya terhadap ekonomi nasional, baik pihak buruh maupun manajemen harus terus berupaya mencapai negosiasi yang berprinsip,” lanjutnya.

Ancaman terhadap pasokan chip dunia

Reuters melaporkan ancaman mogok kerja di Samsung muncul ketika dunia masih menghadapi kekurangan pasokan chip memori yang digunakan pada pusat data kecerdasan buatan (AI), smartphone, dan laptop.

Lonjakan permintaan chip AI dalam beberapa bulan terakhir telah mendorong kenaikan keuntungan Samsung dan perusahaan semikonduktor lainnya.

Ilustrasi Samsung Userreuters.com Ilustrasi Samsung User

Reuters juga melaporkan gangguan produksi Samsung dikhawatirkan dapat memukul rantai pasok global semikonduktor.

Baca juga: Kemenperin Dorong Samsung Naikkan TKDN Jadi 40 Persen

Sejumlah eksekutif divisi chip Samsung dilaporkan telah meminta serikat pekerja membatalkan rencana mogok dengan alasan kekhawatiran dari pelanggan semikonduktor seperti Nvidia.

Menurut laporan media Korea Selatan yang dikutip Reuters, beberapa pelanggan disebut mempertimbangkan menghentikan sementara penerimaan pengiriman produk selama mogok berlangsung karena tidak dapat menjamin kualitas produk.

Samsung menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut, menurut Reuters.

Pengadilan batasi aksi serikat pekerja

Reuters melaporkan pengadilan Korea Selatan mengabulkan sebagian permintaan Samsung untuk mencegah tindakan industrial yang dianggap ilegal selama mogok kerja.

Baca juga: Smartphone Samsung Made in Cikarang Diekspor ke Filipina

Putusan tersebut berarti ribuan pekerja kemungkinan tetap diwajibkan masuk kerja apabila aksi mogok terjadi guna mencegah kerusakan fasilitas dan material produksi.

Juru bicara pengadilan mengatakan dua serikat pekerja utama dapat dikenai denda 100 juta won atau sekitar Rp 1,181 miliar per hari apabila gagal mematuhi putusan tersebut.

Sementara itu, para pemimpin serikat dapat dikenai denda 10 juta won per hari atau sekitar Rp 118,1 juta.

Meski demikian, serikat pekerja menyatakan putusan pengadilan tidak akan menghentikan rencana aksi mogok apabila negosiasi gagal mencapai kesepakatan.

Baca juga: Efek Trump, Saham Samsung Electronics Anjlok ke Level Terendah 4 Tahun

Serikat menegaskan pihaknya tetap akan serius mengikuti proses perundingan, menurut Reuters.

Samsung Electronics sendiri menolak memberikan komentar terkait perkembangan negosiasi maupun putusan pengadilan.

Saham Samsung menguat

Di tengah meningkatnya ketegangan hubungan industrial tersebut, saham Samsung Electronics justru menguat pada perdagangan Senin.

Saham Samsung sempat melonjak sekitar 6,7 persen setelah keluarnya putusan pengadilan, sebelum akhirnya ditutup naik sekitar 3,88 persen.

Baca juga: Laba Samsung Diprediksi Melonjak 900 Persen, Ini Pendorongnya

Kenaikan tersebut lebih tinggi dibandingkan penguatan indeks acuan KOSPI yang naik sekitar 0,31 persen, menurut Reuters.

Ketua Samsung Electronics Lee Jae-yong pada Sabtu (16/5/2026) juga menyampaikan permintaan maaf publik yang jarang dilakukan kepada pelanggan global karena telah menimbulkan “kekhawatiran dan kecemasan."

Tag:  #unjuk #rasa #pekerja #samsung #ancam #ekonomi #korsel #pasokan #chip #global

KOMENTAR