Awali Pekan, Rupiah Kembali Melemah, Sentuh Level 17.661 Per Dollar AS
- Nilai tukar rupiah di pasar spot anjlok pada awal perdagangan, Senin (18/5/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi 0,18 persen ke level Rp 17.628 per dollar Amerika Serikat (AS).
Tekanan terhadap kurs rupiah terus berlanjut pagi ini, hingga pukul 09.21 WIB, nilainya tertekan menjadi Rp 17.661 per dollar AS.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah bergerak melemah di kisaran Rp 17.590 hingga Rp 17.660 per dollar AS.
“Untuk rupiah mungkin diperdagangkan besok, hari Senin, kemungkinan melemah di Rp 17.590 sampai Rp 17.660. Ada kemungkinan besar 50 poin mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim saat dihubungi Kompas.com, Minggu malam (17/5/2026).
Baca juga: Rupiah Melemah Bikin Warga Kota Serba Waswas, Pilih Healing Murah, Dana Darurat Jadi Prioritas
Menurutnya, faktor eksternal masih menjadi penyebab utama tekanan terhadap kurs rupiah. Yang paling disorot adalah meningkatnya ketegangan geopolitik d Timur Tengah, terutama terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Ia menyinggung insiden penyitaan kapal China oleh Iran yang terjadi saat pelaksanaan KTT AS dan China. Peristiwa tersebut dinilai menambah ketidakpastian global dan memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas jalur energi dunia.
“Masalah Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Apalagi pada saat KTT di Tiongkok kemarin, Iran menyita kapal Tiongkok. Artinya ini membuat ketegangan tersendiri,” kata dia.
Di sisi lain, konflik militer Israel juga dinilai semakin memperburuk situasi geopolitik. Sebaliknya, Israel disebut masih terus melakukan serangan ke wilayah Lebanon Selatan dan operasi terhadap Hamas untuk menyasar pimpinan kelompok tersebut.
Kondisi itu mendorong penguatan dollar AS sebagai aset safe haven global. Bersamaan dengan itu, harga minyak mentah dunia juga diperkirakan terus meningkat sehingga menambah tekanan terhadap ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.
Harga minyak dunia mencatat kenaikan tajam sepanjang pekan kemarin. Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 7,84 persen secara mingguan dan ditutup di level 109,26 dollar AS per barrel pada perdagangan Jumat (15/5/2026) waktu setempat.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melonjak 10,48 persen dalam sepekan ke posisi 105,42 dollar AS per barrel.
Pada perdagangan harian, Brent menguat 3,35 persen atau naik 3,54 dollar AS per barrel di Jumat, sedangkan WTI naik 4,2 persen atau bertambah 4,25 dollar AS per barrel.
Kenaikan harga minyak akan berdampak langsung terhadap kebutuhan impor Indonesia. Pasalnya, impor minyak Indonesia mencapai sekitar 1,5 juta barrel membutuhkan pasokan dollar AS dalam jumlah besar.
“Harga minyak mentah pun juga akan terus mengalami kenaikan, sehingga berdampak terhadap ekonomi di dalam negeri, terutama adalah tentang masalah impor, selalu saya katakan adalah impor minyak yang begitu besar 1,5 juta per barrel,” paparnya.
Selain kebutuhan impor energi, tekanan terhadap rupiah juga datang dari pembagian dividen perusahaan dan jatuh tempo utang luar negeri yang membutuhkan valuta asing. Di saat yang sama, sebagian masyarakat dinilai mulai mengalihkan simpanan dari rupiah ke mata uang asing.
Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa posisi utang pemerintah hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp 9.920,42 triliun, naik dibandingkan dengan akhir 2025 yang sebesar Rp 9.637,9 triliun.
Rasio utang terhadap PDB turut meningkat menjadi 40,75 persen dari 39,86 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Tak hanya rupiah, Ibrahim juga memperkirakan pasar saham domestik masih akan bergerak melemah. Investor disebut masih menunggu pengumuman dari lembaga provider global, FTSE Russell, yang bakal mendepak saham asal Indonesia yang masuk daftar saham konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dalam tinjauan indeks Juni 2026.
Sentimen rebalancing FTSE Russell, termasuk Morgan Stanley Capital International (MSCI), tetap menekan pasar domestik.
Lalu, pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal pelemahan rupiah tidak berdampak terhadap ekonomi desa karena masyarakat desa tidak mengenal dollar AS. Ibrahim menilai pernyataan tersebut justru memicu reaksi negatif dari pelaku pasar alis investor.
Ibrahim memandang bahwa setiap pernyataan Presiden akan selalu diperhatikan dan direspons oleh pasar keuangan. Karena itu, pemerintah diminta lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan terkait kondisi ekonomi saat ini.
Meski demikian, ia mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2026 cukup menopang pasar.
Tag: #awali #pekan #rupiah #kembali #melemah #sentuh #level #17661 #dollar