IHSG Dibuka Anjlok 2,80 Persen, Tekanan Asing dan MSCI Bayangi Pasar
Pekerja berjalan di samping layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (30/4/2026).( ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
09:36
18 Mei 2026

IHSG Dibuka Anjlok 2,80 Persen, Tekanan Asing dan MSCI Bayangi Pasar

– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026) di tengah tekanan pasar global dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi global.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan preopening IHSG turun 94,344 poin atau 1,40 persen ke level 6.628,976.

Pada sesi pembukaan perdagangan, IHSG kembali bergerak di zona merah. Indeks tercatat berada di level 6.535,27 atau turun 188,05 poin setara 2,80 persen.

Baca juga: IHSG Mei 2026 Diguncang Rebalancing MSCI dan Pelemahan Rupiah, Investor Diminta Lebih Defensif

IHSG dibuka di level 6.628,98 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.631,28. Sementara level terendah indeks berada di posisi 6.532,83.

Mayoritas indeks saham ikut melemah

Aktivitas perdagangan saham terpantau cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 6,284 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 3,896 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 560.900 kali transaksi.

Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 111 saham menguat, 564 saham melemah, dan 284 saham lainnya stagnan.

Sejalan dengan pelemahan IHSG, sejumlah indeks saham utama juga bergerak di zona merah. Indeks LQ45 turun 17,29 poin atau 2,63 persen ke level 640,59.

Kemudian, indeks Jakarta Islamic Index (JII) melemah 14,98 poin atau 3,42 persen ke posisi 422,91. Indeks KOMPAS100 juga turun 28,84 poin atau 3,23 persen ke level 864,41.

Baca juga: IHSG Anjlok 3,53 Persen dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Jadi Rp 11.825 Triliun

Sementara itu, indeks ISSI tercatat turun 6,71 poin atau 2,76 persen ke posisi 236,29. Pelemahan juga terjadi pada indeks IDX30 yang turun 8,03 poin atau 2,16 persen ke level 363,25.

Adapun indeks JII70 terkoreksi 5,02 poin atau 2,94 persen ke posisi 165,64.

IHSG masih dibayangi tekanan eksternal

Analis memperkirakan IHSG pada perdagangan hari ini masih berada di bawah tekanan. Analis teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pergerakan pasar saham pada awal pekan masih dipengaruhi kondisi global maupun domestik.

Investor disebut masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global.

Baca juga: Sikap Tegas FTSE Russell, Saham RI Free Float Minim Didepak dari Indeks Global

Pasar juga masih dibayangi tekanan jual dan potensi capital outflow imbas rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dirilis pada Rabu (13/5/2026).

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS turut menjadi perhatian utama pelaku pasar. Pelemahan rupiah dinilai dapat meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap arus modal asing dan stabilitas pasar keuangan domestik.

Karena itu, Herditya memprediksi level support IHSG berada di 6.682. Sedangkan resistensi di posisi 6.789.

“Untuk Senin kami perkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya dengan support 6.682 dan resist 6.789. Untuk sentimen sendiri kami perkirakan investor masih mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, tekanan jual dan outflow dari IHSG terkait rebalancing MSCI, serta nilai tukar rupiah terhadap dollar AS,” ujar Herditya saat dihubungi Kompas.com, Minggu malam (17/5/2026).

Baca juga: Elon Musk Pastikan Tak Lepas Saham SpaceX Jelang IPO Terbesar Dunia

Peluang technical rebound masih terbuka

Sementara itu, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai IHSG berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan sideways bearish menjelang libur panjang Mei 2026.

Menurut Hendra, pasar masih berada dalam fase penyesuaian pasca tekanan besar pada saham-saham berkapitalisasi jumbo akibat rebalancing MSCI Mei 2026.

Secara teknikal, level psikologis 6.900 dinilai menjadi area penting yang sedang diuji pasar. Jika tekanan jual asing masih berlanjut dan IHSG gagal kembali bertahan di atas level tersebut, maka peluang pelemahan lanjutan menuju area 6.600–6.700 masih terbuka.

Namun, koreksi yang cukup dalam juga mulai membuka peluang terjadinya technical rebound, terutama apabila tekanan global mulai mereda dan nilai tukar rupiah kembali stabil.

Hendra mengatakan, faktor utama yang mempengaruhi IHSG saat ini berasal dari arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, kekhawatiran perlambatan ekonomi global, hingga tingginya ketidakpastian geopolitik dunia.

Selain itu, pasar juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, di tengah inflasi AS yang belum sepenuhnya mereda.

Tag:  #ihsg #dibuka #anjlok #persen #tekanan #asing #msci #bayangi #pasar

KOMENTAR