Harga Minyak Mentah Kembali Melambung, Ancaman Perang AS-Iran Bikin Pasar Panik!
Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan kenaikan pada perdagangan hari Senin (18/5/2026). Lonjakan ini dipicu oleh kebuntuan dalam pembicaraan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS), yang memperkuat kekhawatiran pasar akan terjadinya krisis pasokan energi yang berkepanjangan.
Di saat yang sama, para pakar komoditas menyoroti kondisi cadangan minyak global yang kini berada di level terendah.
Berdasarkan data perdagangan terbaru:
- Minyak Mentah Brent: Kontrak berjangka Brent untuk bulan Juli naik 1,73% ke level US$110,93 per barel.
- Minyak Mentah WTI: Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk bulan Juni terangkat 1,52% menjadi US$107,24 per barel.
Ketegangan semakin meruncing setelah Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras kepada pihak Teheran melalui media sosial pada akhir pekan.
Sinyal tersebut mengindikasikan bahwa jalan buntu terkait kesepakatan damai dan pembukaan kembali Selat Hormuz dapat memicu kembalinya konflik bersenjata antara kedua negara.
"Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya bergerak cepat, CEPAT, atau tidak akan ada lagi yang tersisa dari mereka. WAKTU ADALAH HAL YANG SANGAT KRUSIAL!" tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social, Minggu (17/5/2026).
Meskipun gencatan senjata yang rapuh sempat tercapai pada April lalu, perselisihan antara Iran dan AS belum sepenuhnya mereda.
Pihak Teheran sejauh ini masih menutup sebagian besar jalur pelayaran di Selat Hormuz, sementara pemerintahan Trump terus melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran.
Sebagai catatan, sebelum konflik terjadi, hampir seperlima dari total pasokan minyak dan gas bumi dunia didistribusikan melalui Selat Hormuz.
Krisis Cadangan Minyak Global Berlanjut
Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanan terbarunya memperingatkan bahwa persediaan minyak global menyusut dalam kecepatan yang mengkhawatirkan selama Selat Hormuz masih diblokade.
"Menyusutnya cadangan penyangga secara cepat di tengah gangguan yang terus berlanjut berpotensi memicu lonjakan harga yang lebih tinggi di masa mendatang," tulis pernyataan resmi IEA.
Senada dengan hal tersebut, laporan dari bank investasi asal Swiss, UBS, memproyeksikan bahwa persediaan minyak global akan mendekati rekor terendah sepanjang masa di angka 7,6 miliar barel pada akhir Mei ini, apabila volume permintaan pasar menetap pada level yang sama dengan bulan sebelumnya.
Suku Bunga Tinggi Tekan Pergerakan Harga Emas
Kontras dengan pergerakan sektor energi, harga emas dunia (XAU/USD) justru terpantau mengalami penurunan ke kisaran US$4.535 per troy ons pada awal jam perdagangan sesi Asia hari Senin.
Komoditas logam mulia ini bergerak defensif seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat konflik Timur Tengah, yang justru memperkuat ekspektasi pasar terhadap bertahannya kebijakan suku bunga tinggi.
Selain memberikan tekanan psikologis kepada Iran, kunjungan luar negeri Presiden Donald Trump ke Tiongkok baru-baru ini juga dilaporkan tidak membuahkan terobosan besar di sektor perdagangan ataupun bantuan nyata untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
“Tiongkok tidak memberikan banyak bantuan dalam menyelesaikan konflik ini, dan kita melihat minyak mentah terus bergerak naik. Hal tersebut memperkuat narasi inflasi, yang memberikan dampak sangat buruk (bearish) bagi pergerakan logam mulia,” kata Edward Meir, analis dari Marex, dikutip dari FX.
Menurut laporan CNBC, Washington menuntut agar Iran sepenuhnya menghentikan program nuklirnya dan membuka kembali akses Selat Hormuz.
Sebaliknya, kantor berita Iran, Mehr, menyatakan bahwa AS sama sekali tidak menawarkan konsesi yang nyata dan dinilai hanya mencoba mencari keuntungan yang gagal mereka dapatkan selama perang, sehingga perundingan berakhir buntu.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, para pelaku pasar saat ini telah menghapus proyeksi pemotongan suku bunga acuan AS untuk tahun ini, sementara peluang bagi kenaikan suku bunga justru meningkat.
Meskipun emas secara tradisional berfungsi sebagai aset pelindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik, instrumen ini tidak memberikan imbal hasil bunga (non-yielding). Kondisi tersebut secara otomatis mengurangi daya tariknya di mata investor ketika instrumen dengan suku bunga tinggi lebih mendominasi pasar.
Tag: #harga #minyak #mentah #kembali #melambung #ancaman #perang #iran #bikin #pasar #panik