Hadapi Pelemahan Rupiah, Pengusaha Mulai Tahan Ekspansi dan Pangkas Biaya
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani, saat ditemui di Kementerian Ketenagakerjaan (Ketenagakerjaan), Selasa (17/3/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni'am)
09:32
15 Mei 2026

Hadapi Pelemahan Rupiah, Pengusaha Mulai Tahan Ekspansi dan Pangkas Biaya

- Kalangan pengusaha menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini masih berada di atas Rp 17.500 per dollar Amerika Serikat (AS). Salah satunya dengan menahan ekspansi dan penghematan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, pelemahan rupiah yang terus menciptakan level all-time low baru menjadi perhatian serius dunia usaha karena memberikan tekanan terhadap struktur biaya dan arus kas perusahaan.

"Dalam konteks ini juga perlu dilihat bahwa tekanan yang terjadi bukan bersifat sementara, tetapi berpotensi berlanjut selama faktor global masih belum mereda," ujar Shinta kepada Kompas.com, Rabu (13/5/2026).

Oleh karenanya, para pengusaha kini mulai mengubah strategi bisnis menjadi lebih berhati-hati dengan mempertimbangkan risiko untuk menghadapi ketidakpastian global yang masih tinggi.

Baca juga: Rupiah Kian Melemah, Bos Sompo Indonesia Waspadai Lonjakan Biaya Klaim

Shinta mengungkapkan, pengusaha mulai menerapkan kebijakan selektif growth, yaitu tetap melakukan ekspansi namun lebih selektif. Keputusan investasi atau ekspansi bisnis dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar, efisiensi biaya, dan potensi keuntungan.

"Sementara investasi yang bersifat lebih spekulatif atau sangat bergantung pada kondisi eksternal cenderung ditunda," tambahnya.

Selain menahan ekspansi, pengusaha juga mulai memperkuat strategi manajemen risiko, termasuk meningkatkan penggunaan instrumen lindung nilai (hedging) untuk mengatasi fluktuasi kurs.

Pelaku usaha juga melakukan penataan ulang struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing (valas).

Di sisi operasional, efisiensi dilakukan melalui rasionalisasi belanja modal (capital expenditure), optimalisasi modal kerja, hingga peningkatan produktivitas perusahaan.

Selain itu, Pengusaha mulai mencari pemasok alternatif dan mencoba memakai bahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan impor. Namun, kemampuan industri dalam negeri untuk menggantikan bahan baku impor dinilai masih terbatas.

"Dengan kata lain, ruang adaptasi tetap ada, namun tidak sepenuhnya mampu mengimbangi besarnya tekanan eksternal yang terjadi saat ini," kata SHinta.

Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Kadin Indonesia Sarman Simanjorang. DOK. Kadin Indonesia Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Kadin Indonesia Sarman Simanjorang.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang mengatakan, pelemahan rupiah mulai memengaruhi psikologi pelaku usaha karena berpotensi meningkatkan biaya bahan baku impor dan logistik sehingga biaya operasional dan produksi dapat bertambah.

"Pelemahan ini sangat menekan psikologi pelaku usaha dan menjadi alarm yang perlu diwaspadai," ujar Sarman kepada Kompas.com, Rabu.

Menurutnya, untuk saat ini pelaku usaha masih mengupayakan agar kenaikan biaya tersebut tidak langsung dibebankan kepada konsumen.

Upaya tersebut dilakukan melalui inovasi penghematan biaya produksi, mencari alternatif bahan baku dalam negeri, hingga mengurangi ukuran produk tanpa menaikkan harga jual.

Namun, Sarman mengingatkan, apabila pelemahan rupiah berlangsung berkepanjangan, daya tahan pelaku usaha akan semakin terbatas dan berpotensi mempengaruhi ekspansi bisnis maupun penyerapan tenaga kerja.

Selain itu, dikhawatirkan kenaikan biaya operasinal an produksi akan dibebankan ke konsumen sehingga harga-harga menjadi naik. Penyesuaian harga ini tentu akan mempengaruhi daya beli masyarakat dan inflasi.

"Jika pelemahan nilai tukar ini berkepanjangan dikhawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja," kata Sarman.

Tag:  #hadapi #pelemahan #rupiah #pengusaha #mulai #tahan #ekspansi #pangkas #biaya

KOMENTAR