Rupiah Melemah, Bank Dihadapkan Risiko Tekanan Kinerja dan Kualitas Aset
Ilustrasi rupiah. (SHUTTERSTOCK/TALULLA)
20:04
6 Mei 2026

Rupiah Melemah, Bank Dihadapkan Risiko Tekanan Kinerja dan Kualitas Aset

Mata uang Garuda yang makin kehilangan taring tampaknya mesti mulai menjadi perhatian perbankan.

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot pada perdagangan Rabu (6/5/2026) ditutup di posisi Rp 17.387 per dollar Amerika Serikat (AS). Posisi tersebut mencerminkan pelemahan 3,96 persen sejak awal tahun.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut, pelemahan rupiah bakal memberikan dampak terhadap industri perbankan melalui setidaknya tiga jalur.

Baca juga: Kurs Rupiah Naik Tipis ke Rp 17.387, Dipicu Harapan Redanya Konflik Timur Tengah

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran.

Pertama, dari eksposur valuta asing (valas) langsung di neraca bank. Namun, Yusuf bilang risiko dari jalur ini relatif terbatas dampaknya lantaran posisi devisa neto perbankan masih rendah dan di bawah batas regulasi.

Kedua, datang dari debitur. Begitu rupiah melemah makin dalam, nasabah korporasi yang memiliki utang dollar AS tetapi pendapatannya rupiah bakal langsung merasakan tekanan di arus kasnya.

“Sektor yang bergantung pada impor paling rentan. Di titik ini, risiko mulai bergeser dari neraca bank ke kualitas kredit,” jelas Yusuf kepada Kontan, Rabu (6/5/2026).

Ketiga, likuiditas dan struktur pendanaan. Yusuf bilang transmisi dampak pelemahan rupiah ke likuiditas dan pendanaan bank memang relatif lambat.

Baca juga: Skenario Terburuk Rupiah Rp 18.300, Ekonom Soroti Peran Minyak dan Arus Modal

Namun kalau tekanan kurs berlanjut, suku bunga bisa naik, biaya dana ikut naik, dan margin bank otomatis tertekan.

Dampak-dampak tersebut dipastikan bakal muncul bertahap jika rupiah memasuki skenario ekstrem.

Ilustrasi Rupiah. Anggota Komisi XI DPR RI Bertu Merlas mengingatkan pemerintah agar mewaspadai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi saat ini.PIXABAY/DARNO BEGE Ilustrasi Rupiah. Anggota Komisi XI DPR RI Bertu Merlas mengingatkan pemerintah agar mewaspadai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi saat ini.

“Misalnya kalau rupiah benar-benar mendekati Rp 20.000 per dollar AS,” katanya.

Yusuf juga menyoroti tekanan tambahan dari sisi pencadangan. Yang mana, standar akuntansi sekarang memaksa bank mengantisipasi risiko ke depan.

Baca juga: Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Rupiah Malah Loyo ke Rp 17.400

Dus begitu outlook memburuk, bank harus menambah pencadangan lebih awal, yang pada gilirannya bakal langsung menekan laba.

Industri pun tampaknya sudah mulai bersiap dengan skenario terburuk. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) misalnya, sudah melakukan stress test dengan skenario terburuk, yakni nilai tukar rupiah melemah ke atas Rp 20.000 per dollar AS, harga minyak mencapai 150 dollar AS per barrel, dan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun tembus 9 persen.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menyebut, dalam skenario itu, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) BNI diprediksi meningkat sekitar 1,6 persen, biaya kredit (cost of credit/CoC) naik kisaran 1,1 persen, dan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tertekan ke level rendah 3 persen.

Untuk diketahui, hingga kuartal I-2026, posisi NPL BNI ada di 1,9 persen, CoC di 1,1 persen, dan NIM di 3,6 persen.

Baca juga: Rupiah Melemah dan Gas Mahal, Industri Keramik: Ibarat Sudah Jatuh Tertimpa Tangga...

Menghadapi ketidakpastian di depan, BNI melakukan tiga strategi utama.

Pertama, menjaga buffer likuiditas dengan rasio utang terhadap pendanaan (loan to deposit ratio/LDR) dijaga di bawah 90 persen.

Kedua, bank juga bakal lebih selektif dan prudent dalam menyalurkan kredit. Ini dilakukan untuk mengurangi risiko konsentrasi kredit pada sektor tertentu.

Ketiga, memperkuat pencadangan untuk mengantisipasi potensi kenaikan CoC dan melakukan hedging terhadap portofolio aset yang dinilai rentan terhadap gejolak pasar.

Ilustrasi rupiah. Shutterstock/Travis182 Ilustrasi rupiah.

Baca juga: Rupiah Pagi Menguat ke Rp 17.383 Per Dollar AS

“Yang penting, permodalan kami diproyeksikan tetap berada di atas ketentuan minimum regulator dan likuiditas masih cukup untuk menjalankan operasional bank,” imbuh Putrama.

Di sisi lain, sebagai bank yang fokus di nasabah ritel, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga mencermati risiko pelemahan daya beli masyarakat akibat tekanan di sektor usaha tertentu.

Direktur Pengelolaan Risiko BTN Setiyo Wibowo menyebut, pihaknya secara berkala melakukan stress test dan hasilnya bank masih memiliki ketahanan yang memadai.

Itu didukung oleh pengelolaan aset dan liabilitas yang prudent, struktur permodalan yang terjaga, serta kualitas portofolio yang terus dimonitor secara ketat.

Baca juga: Rupiah Undervalue, Ini 7 Jurus Bank Indonesia Perkuat Rupiah

Namun, bank tetap mengambil berbagai langkah antisipatif. Di antaranya dengan memperkuat pengelolaan likuiditas, seleksi portofolio kredit secara lebih disiplin, peningkatan monitoring terhadap sektor-sektor yang sensitif terhadap kurs.

“Kami juga menerapkan early warning system untuk mendeteksi potensi pemburukan kualitas kredit lebih dini,” katanya. (Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli)

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Rupiah Melemah, Bank Dihadapkan Risiko Tekanan Kinerja dan Kualitas Aset

Tag:  #rupiah #melemah #bank #dihadapkan #risiko #tekanan #kinerja #kualitas #aset

KOMENTAR