IHSG Anjlok 2 Persen Imbas Sentimen Global dan Rupiah, Saham Ini Masih Menarik Dicermati
Ilustrasi investor saham. (canva.com)
09:04
1 Mei 2026

IHSG Anjlok 2 Persen Imbas Sentimen Global dan Rupiah, Saham Ini Masih Menarik Dicermati

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam ke level 6.956 atau melemah 2,03 persen saat penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026). Pelemahan tidak dipicu satu faktor tunggal, melainkan kombinasi antara sentimen global dan domestik yang datang secara bersamaan.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mencatat sentimen utama berasal dari memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak dunia melonjak hingga menembus 100 dollar AS per barrel. Lonjakan ini meningkatkan kekhawatiran inflasi global sekaligus mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter.

“Sentimen utama memang berasal dari memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran yang mendorong lonjakan harga minyak hingga menembus 100 dollar AS per barrel, sehingga meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan mempersempit ruang pelonggaran moneter,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com, Kamis malam.

Baca juga: IHSG Bergejolak, Sejumlah Emiten Ini Justru Tebar Dividen dan Buyback Saham

Menurutnya, kondisi tersebut memicu sikap risk-off di kalangan investor global. Hal ini tercermin dari arus dana asing keluar (net sell) sebesar Rp 1,65 triliun, serta penguatan dollar AS yang menekan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp 17.380 per dollar AS.

Di sisi lain, keputusan bank sentral AS, The Fed, yang menahan suku bunga namun menunjukkan perbedaan pandangan internal turut memperburuk sentimen pasar. Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga, ditambah kenaikan imbal hasil obligasi global, membuat aset berisiko seperti saham menjadi kurang menarik.

“Keputusan The Fed yang menahan suku bunga namun menunjukkan perpecahan arah kebijakan turut memperkeruh sentimen karena pasar melihat ketidakpastian arah suku bunga ke depan, ditambah lonjakan yield obligasi global yang membuat aset saham menjadi kurang menarik,” paparnya.

Dari dalam negeri, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi tekanan tambahan karena berpotensi menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan biaya produksi. Dampaknya, sektor industri menjadi salah satu yang paling tertekan.

Untuk perdagangan pekan depan, Hendra menilai IHSG masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Namun, peluang technical rebound tetap terbuka. Selama konflik geopolitik belum mereda dan harga minyak masih tinggi, pasar cenderung defensif dan investor asing belum memiliki katalis kuat untuk kembali masuk secara agresif.

Secara teknikal, setelah mengalami penurunan dan mendekati area psikologis 6.900, peluang terjadinya relief rally dalam jangka pendek cukup terbuka, terutama jika tidak ada eskalasi lanjutan dari konflik global. Hendra memperkirakan arah pergerakan pasar bergantung pada dinamika eksternal.

Saham apa yang masih potensi cuan? 

Secara year-to-date, koreksi IHSG yang telah mencapai sekitar 19,55 persen mulai membuka peluang bagi investor jangka menengah hingga panjang. Valuasi pasar menjadi lebih menarik, dengan sejumlah saham unggulan yang telah berada di area undervalued.

Oleh karena itu, ia menilai strategi akumulasi bertahap (gradual buying) lebih tepat dibandingkan keluar sepenuhnya dari pasar.

Meski demikian, dalam jangka pendek, volatilitas masih tinggi sehingga sebagian dana dapat dialokasikan ke instrumen yang lebih defensif sambil menunggu stabilisasi pasar.

Baca juga: Bumi Resources (BUMI) Catat Laba Bersih Naik 36,6 Persen per Kuartal I-2026

Dari sisi sektoral, rotasi mulai terlihat. Sektor berbasis komoditas dan energi cenderung lebih resilien di tengah tekanan pasar. Saham batu bara seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mendapat sentimen positif dari kinerja keuangan dan kenaikan harga energi global.

Selain itu, sektor agribisnis seperti PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) diuntungkan oleh kenaikan harga CPO dan pelemahan rupiah.

Sektor poultry melalui PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) mulai menunjukkan potensi pemulihan margin, sementara saham jasa energi seperti PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) berpeluang terdorong oleh meningkatnya aktivitas sektor migas.

Sejalan dengan kondisi tersebut, sejumlah saham dinilai menarik untuk dicermati secara taktis, antara lain LSIP dengan target Rp 1.810, BUMI dengan target Rp 268, JPFA dengan target Rp 2.730, serta HUMI dengan target Rp 226.

Meski demikian, strategi ini bersifat jangka pendek dan tetap memerlukan disiplin manajemen risiko yang ketat, mengingat arah IHSG masih sangat dipengaruhi dinamika global.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #ihsg #anjlok #persen #imbas #sentimen #global #rupiah #saham #masih #menarik #dicermati

KOMENTAR