Wall Street Menguat Tipis, Investor “Wait and See” Jelang Keputusan The Fed
- Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup bervariasi dengan kecenderungan menguat tipis pada perdagangan Senin (27/4/2926) waktu setempat.
Pelaku pasar mencermati sejumlah sentimen utama, mulai dari laporan kinerja emiten, rilis data ekonomi, keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), hingga perkembangan ketegangan di Timur Tengah.
Mengutip Reuters pada Selasa (28/4/2026), indeks Dow Jones turun 0,13 persen ke level 49.168,04. Sementara S&P 500 naik 0,12 persen ke 7.173,93 dan Nasdaq menguat 0,20 persen ke 24.887,10.
Pergerakan pasar sepanjang hari terlihat fluktuatif tanpa arah yang jelas, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar setelah reli signifikan pada pekan sebelumnya. Sejak memasuki fase bull market pada Oktober 2022, S&P 500 bahkan telah melonjak lebih dari 100 persen.
Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth, Connecticut menilai pasar saat ini tengah berada dalam fase konsolidasi untuk mencerna level tertinggi baru yang telah dicapai. Investor juga mulai mempertanyakan apakah valuasi saat ini masih mencerminkan kondisi fundamental yang wajar.
“Pasar saat ini sedang mencerna reli yang terjadi dan mencoba mengevaluasi apakah level tertinggi sepanjang masa yang baru dicapai ini memang wajar,” ujar Robert Pavlik.
Baca juga: Wall Street Ditutup Tertekan Setelah Reli, Investor Tunggu Katalis Baru
Fokus utama pasar pekan ini tertuju pada musim laporan keuangan kuartal I-2926 yang memasuki puncaknya. Sejumlah raksasa teknologi dijadwalkan merilis kinerja, termasuk Amazon, Alphabet, Meta, Apple, dan Microsoft. Laporan ini dinilai penting untuk mengukur dampak investasi besar di sektor kecerdasan buatan (AI) terhadap kinerja perusahaan.
Hingga akhir pekan lalu, sebanyak 139 perusahaan dalam indeks S&P 500 telah merilis laporan keuangan, dengan sekitar 81 persen di antaranya melampaui ekspektasi. Analis kini memperkirakan pertumbuhan laba agregat S&P 500 mencapai 16,1 persen secara tahunan, meningkat dari proyeksi 14,4 persen pada awal April.
Perusahaan yang akan melaporkan kinerja pekan ini mewakili sekitar 44 persen kapitalisasi pasar S&P 500.
“Panduan kinerja cukup positif. Pertumbuhan laba sekitar 15 persen mencerminkan kondisi yang baik, meski jalannya menjadi lebih bergejolak akibat ketegangan geopolitik,” kata Pavlik.
Di sisi lain, sentimen geopolitik masih menjadi perhatian. Ketegangan di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, masih berlanjut dan berpotensi memengaruhi pasokan energi global serta inflasi.
Pasar juga menantikan hasil rapat kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) yang dimulai Selasa waktu setempat. Bank sentral AS diperkirakan akan menahan suku bunga, namun pernyataan resmi dan konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell menjadi kunci arah pasar selanjutnya.
Secara sektoral, saham layanan komunikasi mencatat kinerja terbaik, sedangkan sektor barang kebutuhan pokok mengalami tekanan terbesar.
Dari sisi emiten, saham Verizon menguat 1,5 persen setelah menaikkan proyeksi tahunan, didorong pertumbuhan pelanggan yang lebih baik dari perkiraan. Sebaliknya, Domino’s Pizza terkoreksi 8,8 persen akibat kinerja penjualan kuartal I yang mengecewakan.
Saham Nvidia melonjak 4 persen, melanjutkan penguatan pada sesi sebelumnya, sekaligus kembali mencatatkan valuasi pasar di atas 5 triliun dollar AS.
Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham yang menguat lebih banyak dibandingkan yang melemah dengan rasio 1,1 banding 1. Tercatat 336 saham mencetak level tertinggi baru dan 47 saham menyentuh level terendah.
Sementara di Nasdaq, sebanyak 2.189 saham naik dan 2.499 saham turun, menunjukkan tekanan jual masih sedikit lebih dominan.
Tag: #wall #street #menguat #tipis #investor #wait #jelang #keputusan