''Dividend Hunting'' BBRI Jelang Cum Date, Bagaimana Prospeknya?
Kantor BRI Pusat Cabang Maumere. Bank Rakyat Indonesia (BRI) melakukan penyesuaian jam operasional layanan perbankan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.(KOMPAS.com/SERAPHINUS SANDI)
19:28
15 April 2026

''Dividend Hunting'' BBRI Jelang Cum Date, Bagaimana Prospeknya?

Fenomena investor ritel membeli saham menjelang cum date, khususnya pada saham perbankan berkapitalisasi besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), masih rasional atau hanya euforia semata?

Apalagi, daya tarik dividen yang tinggi mendorong banyak investor berburu saham sebelum batas akhir hak dividen.

Kendati strategi itu menimbulkan pertanyaan, apakah masih rasional atau sekadar euforia pasar saja?

Baca juga: Dividen Bank BRI (BBRI) Cair, Berapa Uang yang Masuk ke Rekening Investor Ritel?

Ilustrasi saham.SHUTTERSTOCK/FEYLITE Ilustrasi saham.

Untuk diketahui, cum date merupakan tanggal terakhir investor membeli saham agar masih berhak mendapatkan dividen.

Artinya, jika investor ritel ingin menerima dividen dari suatu saham, misalnya BBRI, maka mereka harus membeli atau sudah memiliki saham tersebut paling lambat pada tanggal cum date.

Secara mekanisme, pada cum date hak atas dividen masih melekat pada saham.

Setelah melewati tanggal itu atau masuk ke ex date, hak dividen tidak lagi diberikan kepada pembeli baru.

Baca juga: IHSG Melonjak 2,34 Persen, Asing Borong Saham BBCA, BBRI, dan EMAS

Menjelang cum date, investor ritel umumnya masuk ke saham dengan harapan memperoleh dividen tunai.

Praktik itu disebut dividend hunting. Taktik tersebut tampak menguntungkan karena investor dapat memperoleh dividen dalam waktu relatif singkat.

BBRI sendiri menetapkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp 52,10 triliun atau Rp 346 per saham.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) akan membagikan dividen tunai sebesar Rp 52,1 triliun atau setara Rp 346 per saham untuk tahun buku 2025. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) akan membagikan dividen tunai sebesar Rp 52,1 triliun atau setara Rp 346 per saham untuk tahun buku 2025.

Keputusan pembagian dividen BRI merupakan hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan yang digelar pada 10 April 2026.

Baca juga: BRI (BBRI) Bagi Dividen Rp 52,1 T, Investor Terima Rp 346 per Saham

Total dividen yang dibagikan BBRI terdiri dari dividen interim dan final.

Dividen interim lebih dulu dibayarkan pada 15 Januari 2026 sebesar Rp 20,63 triliun atau Rp 137 per saham.

Sementara itu, dividen final mencapai Rp 31,47 triliun atau Rp 209 per saham yang akan disetor ke investor pada 8 Mei 2026.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pola dividend hunting lebih banyak didorong oleh sentimen jangka pendek dibandingkan strategi investasi yang terukur.

Baca juga: BRI (BBRI) Bagikan Dividen Rp 346 per Saham, Cek Jadwal

“Strategi dividend hunting untuk BBRI memang ini penting. Kalau euforia sih pasti ritel membeli BBRI tepat di jelang cum date. Hanya beberapa hari sebelumnya lagi. Itu lebih cenderung euforia daripada strategi investasi cara lebih matang,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, investor perlu memahami mekanisme pasar setelah cum date. Secara umum, harga saham akan mengalami penyesuaian pada saat ex date, biasanya turun mendekati nilai dividen yang dibagikan.

Dengan demikian, potensi keuntungan dari dividen dapat terkompensasi oleh penurunan harga saham.

Dalam kondisi tertentu, risiko dividend trap juga mengintai, yaitu ketika investor tergiur oleh yield tinggi tetapi justru mengalami kerugian akibat koreksi harga yang lebih dalam.

Baca juga: IHSG All Time High, Dana Triliunan Rupiah Mengalir ke BUMI, BBRI, BMRI

Nah maka dari itu nanti, kalau pada saat ex date tentunya harga sahamnya akan terkoreksi sebesar nilai dividen per saham yang dibagikan. Karena takutnya bisa jadi kejadian seperti itu. Belum lagi juga terdapat risiko dividend trap,” paparnya.

Meski demikian, dari sisi fundamental, BBRI dinilai sebagai saham dengan kinerja yang solid.

Ilustrasi dividen saham. SHUTTERSTOCK/SHUTTERSTOCKPROFESSIONAL Ilustrasi dividen saham.

Secara historis, saham ini memiliki kecenderungan untuk pulih setelah koreksi pasca-dividen, meskipun waktu pemulihannya sangat bergantung pada kondisi pasar.

Menurut Nafan, dalam fase pasar bullish, proses pemulihan harga biasanya berlangsung lebih cepat karena didukung oleh permintaan yang kuat.

Baca juga: 11 Emiten Bagi Dividen Januari 2026: BBRI, BMRI, ADRO, hingga CDIA

Sebaliknya, dalam kondisi bearish, recovery cenderung membutuhkan waktu lebih lama akibat tekanan jual yang masih dominan.

Ia juga menekankan pentingnya bagi investor ritel untuk tidak mengabaikan analisis fundamental dan teknikal.

Keputusan investasi yang hanya didasarkan pada momentum dividen berisiko tinggi, terutama jika dipicu oleh fenomena fear of missing out (FOMO).

“Kalau dalam market bullish yang bisa jadi cepat. Tapi kalau di market yang bearish misalnya ya butuhkan waktu. Ini harus dipelajari oleh investor retail, jangan sampai mengabaikan fundamental dan hanya mengejar yield jangka pendek dan juga cermati technical-nya,” tukas Nafan.

Baca juga: Net Buy Asing Capai Rp 3,2 Triliun, Analis Rekomendasikan JPFA, BBRI, dan AADI

Sebagai alternatif, investor disarankan menerapkan strategi yang lebih disiplin, seperti melakukan akumulasi bertahap pada saham dengan fundamental kuat.

Selain itu, manajemen risiko menjadi kunci agar investor tidak terjebak dalam volatilitas jangka pendek.

Di sisi lain, sektor perbankan, termasuk BBRI, dinilai masih berada pada valuasi yang relatif menarik.

Hal ini membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk masuk dengan pendekatan yang lebih terukur, bukan sekadar mengejar dividen.

Baca juga: BRI (BBRI) Angkat Viviana Dyah Ayu Sebagai Wadirut

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI masuk dalam daftar Top 1000 World Banks 2025 yang dirilis oleh The Banker. Dok. BRI PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI masuk dalam daftar Top 1000 World Banks 2025 yang dirilis oleh The Banker.

Jadwal cum, ex, dan pembayaran dividen BBRI

BBRI menetapkan sejumlah tanggal penting terkait pembagian dividen.

Tanggal terakhir perdagangan saham dengan hak dividen (cum dividend) di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 20 April 2026, sedangkan di pasar tunai pada 22 April 2026.

Selanjutnya, tanggal ex dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 21 April 2026, dan di pasar tunai pada 23 April 2026.

Adapun tanggal pencatatan pemegang saham (recording date) yang berhak atas dividen adalah 22 April 2026.

Baca juga: Simak, Jadwal Pembagian Dividen Tunai BRI (BBRI) 2025

Payment Date May 8, 2026,” tulis perseroan dalam dokumen jadwal dan tata cara pembagian dividen.

Pembagian dividen BBRI didasarkan pada kinerja keuangan perseroan sepanjang tahun buku 2025.

Dalam laporan yang disampaikan, manajemen mencatat laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 56,65 triliun.

“Laba Bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk Rp 56.652.383.686.675,1,” lanjut perseroan.

Baca juga: BRI (BBRI) Masih Punya Rp 2,5 Triliun untuk Buyback Saham

Selain itu, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya tercatat sebesar Rp 219,64 triliun, dengan total ekuitas mencapai Rp 330,94 triliun.

Data tersebut menjadi dasar dalam penetapan besaran dividen yang dibagikan kepada pemegang saham.

Mekanisme pembayaran dividen BBRI

Dividen akan dibagikan kepada pemegang saham yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham, serta pemilik saham dalam subrekening efek di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada tanggal pencatatan.

Ilustrasi dividen. Daftar empat emiten yang akan membagikan dividen interim pada tanggal 30 dan 31 Oktober 2025ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nz/aa Ilustrasi dividen. Daftar empat emiten yang akan membagikan dividen interim pada tanggal 30 dan 31 Oktober 2025

Untuk pemegang saham yang sahamnya berada dalam penitipan kolektif KSEI, pembayaran dividen akan dilakukan melalui KSEI dan disalurkan ke RDN di perusahaan sekuritas atau bank kustodian.

Baca juga: BRI (BBRI) Raup Laba Bersih Rp 40,77 Triliun, Kredit Tembus Rp 1.438,11 Triliun

“Pembayaran dividen tunai akan dilakukan melalui KSEI dan didistribusikan ke Rekening Dana Nasabah (RDN) di Perusahaan Sekuritas dan/atau Bank Kustodian pada tanggal 8 Mei 2026,” tulis perseroan.

Sementara itu, bagi pemegang saham yang tidak menyimpan sahamnya dalam penitipan kolektif, dividen akan ditransfer langsung ke rekening bank masing-masing.

Ketentuan perpajakan dividen dalam keterbukaan informasi kepada BEI tersebut, BRI juga menjelaskan perlakuan pajak atas dividen yang diterima pemegang saham.

Dividen yang diterima wajib pajak badan dalam negeri tidak dikenakan pajak penghasilan (PPh). Sementara itu, untuk wajib pajak orang pribadi dalam negeri, dividen dapat dikecualikan dari obyek pajak sepanjang diinvestasikan kembali di dalam negeri.

Baca juga: Analis Sebut Harga Saham BBRI Masih Menarik untuk Investor, Mengapa?

“Dividen tunai akan dikecualikan dari penghasilan kena pajak jika diterima oleh pemegang saham dari wajib pajak korporasi domestik,” tulis perseroan.

Namun, jika tidak memenuhi ketentuan reinvestasi, maka dividen tersebut tetap dikenakan pajak sesuai peraturan yang berlaku.

Untuk pemegang saham luar negeri, pemotongan pajak dilakukan berdasarkan ketentuan perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B), dengan tarif umum sebesar 20 persen apabila persyaratan dokumen tidak dipenuhi.

Tag:  #dividend #hunting #bbri #jelang #date #bagaimana #prospeknya

KOMENTAR