Rupiah Diprediksi Tertahan di Atas Rp 17.000 per Dollar AS, Imbas AS-Iran Batal Damai
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.(shutterstock)
06:44
13 April 2026

Rupiah Diprediksi Tertahan di Atas Rp 17.000 per Dollar AS, Imbas AS-Iran Batal Damai

- Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) selama sepekan ke depan, setelah kegagalan perundingan antara AS dan Iran.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai mata uang Garuda masih sulit beranjak dari level di atas Rp 17.000 per dollar AS dalam sepekan ke depan. Selain tensi geopolitik di Timur Tengah, pelemahan rupiah juga didorong oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

“Rupiah kemungkinan masih akan melemah. Pelemahan mata uang rupiah itu kemungkinan besar, cukup lebar juga. Dan kemungkinan masih akan bertahan di atas level Rp 17.000,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu (12/4/2026).

Baca juga: Rupiah Kembali Tertekan, Sentuh Rp 17.104 per Dollar AS

Senada dengan pergerakan rupiah, indeks dollar AS diperkirakan melebar dalam sepekan ke depan dengan level support di 97.000 dollar AS dan resistance di area 100,900 dollar AS.

“Dalam perdagangan satu pekan ke depan, ya kemungkinan besar dollar AS akan melebar. Karena saya melihat support-nya itu di 97,00, kemudian resistance-nya di 100.900. Artinya apa? Ada kemungkinan besar range-nya itu melebar di 97.000 dan 101,00. Itu kalau kita bulatkan ya, dari 100,900,” paparnya.

Menurutnya, penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi biang kerok pelemahan nilai tukar rupiah. Pasalnya pengetatan jalur pelayaran sempit itu langsung mengganggu distribusi minyak mentah global, karena jalur ini merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia.

Kenaikan harga minyak kemudian mendorong inflasi global lantaran biaya energi menjadi lebih mahal. Dalam kondisi ini, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menahan inflasi.

Di saat yang sama, ketidakpastian geopolitik membuat investor global beralih ke aset aman seperti dollar AS. Permintaan dollar yang meningkat menyebabkan indeks menguat dan pelemahan pada rupiah.

Baca juga: IHSG Bisa Terkoreksi Imbas Gagalnya Perundingan AS-Iran, Ritel Disarankan Cermati Saham-saham Ini

Ibrahim memandang, harga minyak bergantung pada hasil negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Jika gencatan senjata yang tengah diupayakan dapat berjalan efektif dan diperpanjang, maka distribusi energi berpotensi kembali normal, sehingga harga minyak cenderung mengalami penurunan.

Namun, negosiasi gagal dan konflik kembali memanas, risiko gangguan pasokan akan meningkat.

“Nah tetapi dalam jeda nanti dua minggu baik Amerika, Israel, Iran, mereka melakukan konsolidasi apabila gencatan senjata gagal atau tidak diperpanjang, sehingga akan terjadi perang terbuka kembali,” beber Ibrahim.

Lebih jauh, ia memperkirakan harga minyak mentah dan emas global pada pekan depan bakal bergerak volatil dengan rentang yang cukup lebar. Di mana secara teknikal level support harga minyak dunia berada di 78.7 dollar AS per barrel, sementara resistance di area 107.9 dollar AS per barrel.

“Untuk oil sendiri, kemungkinan besar ditransaksikan dalam minggu depan itu di 78.7 dollar per barrel, itu support-nya.

Kemudian resistance itu di 107.9 dollar AS per barrel,” ucapnya.

Di sisi lain, harga emas dunia juga diperkirakan bergerak fluktuatif. Jika terjadi koreksi, harga emas berpotensi turun ke level support awal di 4.638 dollar AS per troy ounce, dengan harga logam mulia sekitar Rp 2.840.000 per gram.

Dalam skenario penurunan lanjutan selama sepekan, emas dapat melemah hingga 4.358 dollar AS per troy ounce, dengan logam mulia berpotensi turun ke kisaran Rp 2.780.000 per gram.

Sebaliknya, jika harga menguat, emas berpeluang naik ke level resistance di 4.897 dollar AS per troy ounce, dengan harga logam mulia meningkat ke sekitar Rp 2.880.000 per gram.

Ibrahim menjelaskan, emas akan sangat dipengaruhi oleh arah suku bunga global serta eskalasi konflik geopolitik. Jika tekanan inflasi mereda dan bank sentral, khususnya The Fed, mulai menurunkan suku bunga, maka harga emas cenderung menguat.

Sebaliknya, jika konflik meningkat menjadi perang terbuka, maka harga emas juga berpotensi naik tajam sebagai aset lindung nilai, bersamaan dengan kenaikan harga minyak dan penguatan dollar AS.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual emas dan rupiah. Seluruh Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #rupiah #diprediksi #tertahan #atas #17000 #dollar #imbas #iran #batal #damai

KOMENTAR