Menjaga Harga Energi Tetap Stabil di Tengah Krisis Global
Ilustrasi BBM.(SHUTTERSTOCK)
09:48
8 April 2026

Menjaga Harga Energi Tetap Stabil di Tengah Krisis Global

ASUMSI harga BBM di APBN 2026 adalah 70 dolar AS per barrel.

Sementara karena krisis global yang dipicu oleh perang AS -Israel melawan Iran dengan penutupan selat Hormus yang merupakan jalur distribusi BBM dunia telah menyebabkan harga minyak (BBM) dunia melonjak tinggi.

Terakhir ketika tulisan ini dibuat harga minyak dunia sudah mencapai 115 dolar AS per barrel.

Simulasi di APBN 2026 setiap kenaikan 1 dolar AS per barrel harga BBM di atas asumsi APBN memang akan bertambah di sisi penerimaan negara sebesar Rp 3,5 triliun karena Indonesia masih mengeskpor minyak.

Namun di sisi pengeluaran, APBN bertambah pengeluaran untuk subsidi BBM sebesar Rp 10,3 triliun.

Jadi terjadi defisit di BBM ini sebesar Rp 6,8 triliun setiap terjadi kenaikan 1 dolar AS per barrel di atas asumsi APBN.

Baca juga: Demi Perdamaian Dunia: Konflik Israel-AS Vs Iran Berharap Berakhir

Banyak negara melakukan kebijakan dengan menaikkan harga BBM di dalam negeri mereka untuk mengurangi beban subsidi APBN mereka.

Namun patut diapresiasi langkah pemerintah untuk tetap tidak menaikkan harga BBM, listrik, maupun LPG 3 Kg.

Pemerintah menyadari, kenaikan harga BBM, listrik, dan LPG 3 Kg akan menyengsarakan rakyat yang daya belinya relatif stagnan.

Bahkan menurut beberapa data dan studi cenderung melemah.

Di samping itu, menaikkan harga BBM akan berakibat pada naiknya inflasi.

Kenaikan harga BBM akan menyebabkan kenaikan harga berbagai barang dan jasa yang pada akhirnya bisa membuat target inflasi yang dipatok pemerintah-BI 2,5 persen plus minus 1 persen pada tahun 2026 ini tidak tercapai sehingga bisa menganggu kredibilitas pemerintah dan BI.

Guna mempertahankan harga BBM tersebut pemerintah berusaha untuk menambah penerimaan misalnya dengan melakukan intensifikasi penerimaan pajak (perbaikan sistem perpajakan dengan CoreTax maupun mengejar wajib pajak yang masih membandel) dan melakukan efisiensi pengeluaran di sektor-sektor lain.

Lalu, melakukan realokasi anggaran supaya bisa digunakan untuk subsidi BBM, listrik, dan LPG 3 Kg, dan yang terbaru adalah ketentuan bekerja di rumah (Work From Home).

Semoga semua usaha itu bisa untuk tetap mempertahankan subsidi BBM, listrik, dan LPG 3 Kg.

Namun yang tak kalah penting perlu tetap dijaga agar “panic buying” masyarakat terhadap BBM dan LPG 3 Kg tidak terjadi.

Sempat terjadi kepanikan masyarakat untuk BBM dan LPG 3 Kg yang untungnya tidak sampai meluas.

Baca juga: Teungku Nyak Sandang dan Utang Moral Republik

Seringkali kepanikan itu juga terjadi karena ulah spekulan yang menimbun khususnya untuk kasus LPG 3 Kg sehingga LPG 3 Kg langka di pasar yang membuat harga naik dan masyarakat panik.

Untuk itu langkah tegas pihak keamanan perlu dilakukan untuk menindak para spekulan.

Kebijakan lain yang lebih strategis dalam jangka menengah panjang adalah mendorong percepatan kendaraan dan mobil listrik, mempercepat pembangunan jaringan gas rumah tangga, mengembangkan engeri alternatif seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, dan lain-lain.

Tag:  #menjaga #harga #energi #tetap #stabil #tengah #krisis #global

KOMENTAR