Harga Plastik Melonjak, Industri Air Minum Dalam Kemasan Tertekan
Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Amdatara) menyoroti tekanan yang semakin besar terhadap industri air minum dalam kemasan (AMDK) akibat lonjakan harga bahan baku kemasan di tengah gejolak global.
Ketua Umum Amdatara Karyanto Wibowo mengatakan, kenaikan harga tersebut terutama terjadi pada harga plastik berbasis minyak bumi, yang menjadi komponen utama dalam kemasan produk AMDK.
“Kami menyampaikan keprihatinan serius atas tekanan yang semakin berat terhadap industri air minum dalam kemasan (AMDK) akibat lonjakan harga bahan baku kemasan, terutama plastik yang berbasis minyak bumi,” ujar Karyanto dalam keterangan tertulis, Senin (6/4/2026).
Baca juga: Harga Plastik Naik 50 Persen, Keuntungan Pedagang Pasar Menipis
Ilustrasi air minum dalam kemasan (AMDK).
Ia menjelaskan, gejolak global yang dipicu konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran sejak 28 Februari 2026 telah mendorong kenaikan signifikan pada harga energi dunia.
Harga minyak mentah melonjak dari sekitar 67 dollar AS per barrel menjadi 98 dollar AS per barrel pada pertengahan Maret 2026.
Di sisi lain, harga gas alam acuan di kawasan Asia dan Eropa juga meningkat lebih dari 60 persen dalam periode yang sama.
“Karena lebih dari 99 persen plastik global diproduksi dari bahan bakar fosil (minyak bumi dan gas alam), kenaikan harga energi ini langsung berdampak pada biaya produksi dan bahan baku plastik,” kata dia.
Baca juga: Bahan Baku Plastik Sulit, Produsen Campur Material Daur Ulang-Bahan Murni
Amdatara memperkirakan lonjakan harga bahan baku tersebut dapat mencapai hingga 100 persen.
Dampaknya, harga kemasan jadi berpotensi naik sekitar 25 hingga 50 persen, tergantung jenis material, volume produksi, dan skala usaha masing-masing perusahaan.
Kondisi ini dinilai berisiko mendorong kenaikan harga jual produk AMDK di pasar, terutama bagi produsen skala kecil dan menengah yang memiliki keterbatasan stok dan likuiditas.
ilustrasi air minum dalam kemasan, air mineral dalam kemasan
“Hal ini tidak hanya mengancam kelangsungan ribuan usaha dan puluhan ribu lapangan kerja, tetapi juga berpotensi mengganggu akses masyarakat terhadap air minum aman yang selama ini menjadi kontribusi penting industri AMDK bagi kesehatan publik,” tegas Karyanto.
Baca juga: Plastik Mahal, Produsen Terapkan “Survival Mode”
Berdasarkan laporan anggota asosiasi di berbagai daerah, kenaikan harga bahan baku kemasan pada sejumlah jenis material bahkan telah mencapai hingga dua kali lipat dalam waktu relatif singkat.
Ia menegaskan, lonjakan harga tersebut tidak lagi dapat dikategorikan sebagai fluktuasi biasa, melainkan tekanan struktural yang memengaruhi daya tahan industri.
“Ini merupakan tekanan struktural yang secara langsung memukul daya tahan industri, terutama di saat pelaku usaha tetap berupaya menjaga keterjangkauan harga produk bagi masyarakat,” ucapnya.
Sebagai salah satu pilar penting sektor manufaktur nasional, industri AMDK saat ini memiliki 707 pabrik dengan kapasitas produksi terpasang mencapai 47 miliar liter per tahun.
Baca juga: Harga Plastik Naik, Apa Penyebabnya?
Industri ini juga menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung.
Selain itu, sektor ini turut mendukung jutaan tenaga kerja di sepanjang rantai pasok distribusi dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional sebagai bagian dari subsektor makanan dan minuman.
Peran industri AMDK juga dinilai strategis dalam aspek kesehatan masyarakat, karena menyediakan akses air minum yang aman, higienis, dan berkualitas, sehingga membantu mengurangi risiko penyakit akibat air tidak bersih.
Dalam menghadapi tekanan tersebut, Amdatara berharap pemerintah dapat berperan sebagai penyangga bagi industri melalui sejumlah kebijakan.
Baca juga: Pasokan Terganggu Perang, Industri Plastik Berburu Bahan Baku ke Afrika dan AS
Usulan yang disampaikan antara lain relaksasi kebijakan sebesar 20 hingga 30 persen pada komponen biaya terkait bahan baku dan energi.
Langkah tersebut mencakup penurunan sementara tarif pajak pertambahan nilai (PPN) kemasan dari 11 persen menjadi 8 persen, relaksasi Bea Masuk Anti Dumping (BMAD), serta pemberian stimulus pajak penghasilan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor AMDK.
“Insentif yang kami minta ini bukanlah privilese, melainkan penopang agar industri tetap dapat berjalan, tenaga kerja terlindungi, pasokan produk ke masyarakat tetap terjaga, dan stabilitas ekonomi nasional tidak terganggu,” kata Karyanto.
Tag: #harga #plastik #melonjak #industri #minum #dalam #kemasan #tertekan