Setahun Tarif Trump, Rantai Pasok Global Berubah dan Biaya Industri Melonjak
Setahun setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif besar-besaran, dampaknya masih terasa di berbagai sektor industri.
Kebijakan yang berlaku sejak 2 April 2025 itu memicu gangguan rantai pasok global dan memaksa perusahaan mengubah strategi bisnis.
Trump menetapkan tarif spesifik per negara serta bea masuk dasar 10 persen untuk negara yang tidak tercantum.
Kebijakan ini berubah dalam beberapa bulan berikutnya, mengikuti dinamika negosiasi dan pencabutan sebagian tarif.
Venky Ramesh, pakar rantai pasok dari AlixPartners, menilai perusahaan di Amerika Serikat menghadapi dilema dalam menentukan sumber pasokan.
“Kepemimpinan di perusahaan-perusahaan AS benar-benar harus memikirkan dari mana kita membeli dibandingkan apakah kita dapat mengimpor atau tidak,” kata Ramesh, dilansir CNBC, Sabtu (4/4/2026).
“Sekitar 80% hingga 85% dari biaya diserap di dalam negeri, artinya perusahaan-perusahaan AS harus menanggung kerugian tersebut, atau mereka meneruskannya kepada pelanggan, atau kombinasi keduanya,” sambungnya.
Baca juga: Siapa yang Menanggung Tarif Impor Trump? Warga AS Sendiri
Perubahan tidak terjadi dalam waktu singkat. Perusahaan mulai mendiversifikasi pemasok untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara, meski proses ini memerlukan waktu dan biaya besar.
“Memindahkan basis pemasok tidak dapat terjadi dalam semalam,” kata Ramesh. “Saya pikir apa yang dilakukan perusahaan adalah mereka melakukannya secara bertahap, jadi mereka ingin memastikan bahwa mereka terdiversifikasi dengan baik.”
Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat pada 20 Februari 2026 sempat membatalkan tarif berbasis Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional atau International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) 1977.
Trump kemudian merespons dengan menetapkan tarif global baru 10 persen berdasarkan Undang-Undang Perdagangan 1974, lalu menaikkannya menjadi 15 persen.
Meski kebijakan tarif diperketat, total impor Amerika Serikat pada 2025 tetap meningkat. Kenaikan ini dipicu langkah perusahaan yang mempercepat pembelian barang untuk mengantisipasi tarif.
Ramesh menilai perubahan paling signifikan terjadi pada cara perusahaan memandang rantai pasok.
“Hal-hal yang akan tetap bertahan adalah rantai pasokan sebagai komponen yang sangat, sangat penting bagi perusahaan mana pun. Saya pikir itu benar-benar telah berubah selama setahun terakhir,” ujarnya.
Baca juga: AS Pangkas Tarif Impor Bangladesh Jadi 19 Persen, Tekstil Dapat Skema Khusus
Industri ritel menjadi salah satu sektor yang paling terdampak. Perusahaan besar seperti Walmart mampu bertahan karena memiliki skala dan daya tawar kuat. Peritel kecil menghadapi tekanan biaya yang lebih berat.
Sejumlah peritel memilih menaikkan harga untuk menutup beban tarif. Walmart, Best Buy, dan Macy’s termasuk yang melakukan penyesuaian.
Max Kahn dari Coresight Research menyebut perusahaan kini memperkuat fleksibilitas rantai pasok.
“Salah satu hal yang benar-benar dimulai sejak pandemi adalah para peritel menjadi jauh lebih baik dalam membangun fleksibilitas dalam rantai pasokan mereka, dan hal itu semakin dipercepat tahun lalu dengan adanya tarif,” kata Max.
Ketidakpastian tetap tinggi. Perusahaan memiliki pendekatan berbeda dalam memasukkan asumsi tarif ke proyeksi bisnis.
Sektor otomotif menanggung beban besar. Toyota memperkirakan dampak tarif mencapai 1,4 triliun yen atau sekitar 9,5 miliar dollar AS, setara Rp 161,46 triliun.
Produsen mobil Detroit seperti General Motors, Ford, dan Stellantis mencatat kerugian sekitar 6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 101,97 triliun.
General Motors menyebut dampak tarif mencapai 3,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 52,69 triliun pada 2025.
“Kita seharusnya berada pada posisi di mana tarif bersih kita sebenarnya lebih rendah pada tahun 2026 daripada tahun 2025,” kata CFO General Motors Paul Jacobson.
Sejumlah produsen mobil mulai meningkatkan produksi domestik di Amerika Serikat untuk menekan dampak tarif.
Perusahaan barang konsumsi menghadapi tekanan dari kenaikan harga bahan baku impor. Procter & Gamble memperkirakan dampak tarif mencapai 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 16,99 triliun per tahun.
“Dengan tarif ini, tarif saja merupakan hambatan 5 poin terhadap pertumbuhan EPS inti pada tahun fiskal 2026,” kata CFO Procter & Gamble Andre Schulten.
Perusahaan tersebut menaikkan harga sekitar 25 persen produknya.
Tidak semua perusahaan mengambil langkah serupa. J.M. Smucker membatalkan rencana kenaikan harga kopi dan memilih menanggung beban sekitar 75 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,27 triliun.
Industri farmasi relatif stabil. Stabilitas ini ditopang kesepakatan antara pemerintah dan produsen obat.
Lebih dari 13 perusahaan farmasi menyepakati penurunan harga obat sebagai imbalan pembebasan tarif selama tiga tahun.
Kebijakan “negara paling disukai” mengaitkan harga obat di Amerika Serikat dengan harga lebih rendah di negara lain.
Ancaman tarif juga mendorong investasi besar di sektor manufaktur domestik. AbbVie menyiapkan investasi lebih dari 10 miliar dollar AS atau sekitar Rp 169,96 triliun. Johnson & Johnson menyiapkan lebih dari 55 miliar dollar AS atau sekitar Rp 934,78 triliun untuk fasilitas produksi baru.
Tag: #setahun #tarif #trump #rantai #pasok #global #berubah #biaya #industri #melonjak