Slovenia jadi Negara Uni Eropa Pertama yang Batasi Pembelian BBM, Imbas Perang Iran
- Slovenia menjadi negara anggota Uni Eropa pertama yang menerapkan penjatahan bahan bakar (BBM).
Hal ini dilakukan untuk mengatasi gangguan yang disebabkan oleh serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran dan pembalasan Iran terhadap sekutunya di Teluk yang sebagian besar pemain utama di pasar energi dunia.
Banyak negara mengalami kenaikan harga bahan bakar yang tajam akibat konflik geopolitik tersebut.
Di Slovenia, hal ini telah mengakibatkan munculnya fenomena yang disebut wisata bahan bakar. Pasalnya pengemudi dari negara-negara tetangga, khususnya Austria, memanfaatkan harga yang lebih rendah dan diatur di sini.
Baca juga: Pertamina Tambah Stok BBM di Kalbar hingga 140 Persen, Warga Tak Perlu Beli Berlebihan
Berdasarkan peraturan baru, pengendara pribadi di Slovenia akan dibatasi maksimal pembelian 50 liter bahan bakar per hari.
Sementara itu, pelaku usaha dan petani mendapatkan jatah yang lebih besar, yaitu 200 liter.
Beberapa pengecer bahan bakar telah menerapkan langkah-langkah mereka sendiri. MOL Hungaria, yang mengoperasikan stasiun bensin di seluruh wilayah tersebut, telah memberlakukan batasan 30 liter.
"Izinkan saya meyakinkan Anda bahwa ada cukup bahan bakar di Slovenia, gudang-gudang penuh dan tidak akan ada kekurangan bahan bakar," kata Perdana Menteri Robert Golob dikutip dari BBC, Selasa (24/3/2026).
Berdasarkan langkah-langkah baru pemerintahannya, pembatasan nasional akan diawasi oleh SPBU itu sendiri.
Karyawan SPBU diwajibkan memastikan pelanggan tidak menimbun bahan bakar melebihi jumlah yang diizinkan.
Pemerintah juga mendorong pengecer bahan bakar untuk memberlakukan batasan yang lebih ketat bagi pengemudi asing.
Harga satu liter bensin Euro-super 95 di Austria mendekati 1,80 euro setara Rp 35.314 denga kurs 19.620 per euro sedangkan harga solar mendekati 2,00 euro setara Rp 39.238
Di Slovenia, saat ini harga maksimumnya adalah 1,47 euro atau Rp 28.840 dan 1,53 euro setara Rp 30.017, meskipun diperkirakan akan naik pada hari Selasa.
Seorang pengemudi truk di Sentilj, dekat perbatasan utara Slovenia dengan Austria, bertanya-tanya apakah negaranya sedang berperang ketika mendapati sebuah SPBU yang kehabisan bahan bakar sepenuhnya.
"Saya belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya," tambah pria itu.
Kisah-kisah yang muncul dari wilayah tersebut menunjukkan bahwa dia tidak sendirian dalam kebingungannya.
Bagi sebagian pengemudi Austria, perbedaan harga tersebut cukup untuk membenarkan perjalanan lintas negara.
Politisi sayap kanan Austria, Herbert Kickl, pemimpin Partai Kebebasan, telah menggunakan perjalanan pengisian bahan bakarnya sebagai propaganda politik, dengan memposting foto antrean kendaraan berpelat Austria yang menunggu untuk mengisi bahan bakar di sebuah SPBU di Slovenia.
"Bukankah ini menyedihkan, bahwa kita hidup di negara di mana banyak orang terpaksa pergi ke luar negeri agar biaya hidup lebih murah?" unggah Kickl.
Sebagian warga Slovenia memandang para pengunjung sebagai pengganggu, yang menyebabkan antrean dan kekurangan barang bagi penduduk setempat.
Namun, sebagian lainnya lebih ramah dan mencatat sebagian besar wisatawan bahan bakar menghabiskan waktu seharian di sana, makan di restoran lokal dan berbelanja di toko-toko.
Memanfaatkan situasi sebaik mungkin mungkin adalah pilihan terbaik. Pasalnya selama perbedaan harga terus berlanjut, wisatawan bahan bakar akan terus mengalir melintasi perbatasan.
Tag: #slovenia #jadi #negara #eropa #pertama #yang #batasi #pembelian #imbas #perang #iran