Geliat Ramadhan dan Lebaran Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat ditemui di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).(KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY)
15:48
21 Maret 2026

Geliat Ramadhan dan Lebaran Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen

Pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2026 bisa tercapai di tengah potensi peningkatan inflasi yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto optimistis, target pertumbuhan ekonomi yang dipatok di level 5,5 persen dapat dicapai.

Airlangga mengatakan, geliat ekonomi sepanjang Ramadhan dan Lebaran 2026 ini diperkirakan mampu memberikan kontribusi ke pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Ada Ramadhan, Purbaya Optimistis Ekonomi Q1 Tumbuh hingga 5,7 Persen

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. SHUTTERSTOCK/NUMBER1411 Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Kelihatannya target 5,5 persen bisa dicapai dari geliat selama Ramadhan kemarin," kata Airlangga ketika ditemui usai shalat Idul Fitri di Masjid Salahuddin, Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

Meskipun demikian, Airlangga memproyeksikan tingkat inflasi bisa lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Hal ini lantaran tahun ini tidak ada kebijakan diskon tarif listrik yang tak diberlakukan.

"Nanti kita lihat, inflasi kan perhitungannya lebih cepat. Jadi kita lihat saja sampai akhir dari Lebaran. Tetapi, base-nya tahun kemarin rendah," imbuh dia.

Baca juga: Pemerintah: Mudik Idul Fitri Instrumen Penguatan Ekonomi yang Konsisten

"Jadi, dan tahun kemarin kan sampai bulan Februari itu ada (diskon) listrik ya. Jadi, itu yang membuat inflasi tahun kemarin kan untuk dari segi listriknya deflasi," terang Airlangga.

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,7 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Angka itu dinilai cukup baik di tengah gejolak global saat ini.

"Pertumbuhan ekonomi bisa 5,6-5,7 persen, kalau perkiraan kasar ya. Itu sudah lumayan bagus lah, di tengah gejolak global sekarang," ujar dia pada kesempatan yang sama.

Baca juga: Senator AS Tuntut Penjelasan Trump soal Dampak Ekonomi Perang Iran: Rugikan Kelas Menengah dan Bawah

Purbaya mengungkapkan, gejolak global yang salah satunya ditimbulkan oleh konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, terus diupayakan pemerintah agar dampaknya tidak langsung dirasakan masyarakat.

Purbaya bilang, dampak dari konflik Timur Tengah itu diserap pemerintah dengan memastikan pemberian subsidi energi tetap berjalan.

Ia bilang, pemerintah akan terus menjaga agar masyarakat dapat beraktivitas secara normal.

"Dampak global saat ini masih belum terasa karena di-absorb (diserap) oleh pemerintah. Jadi kita menjaga betul supaya masyarakat bisa beraktivitas dengan normal, semaksimal mungkin ke depan akan dijaga seperti itu," ucap dia.

Baca juga: Lebaranomics: Transformasi Mudik Jadi Stimulus Ekonomi Daerah

Setelah periode Lebaran, Purbaya bilang, pemerintah akan berfokus menjaga permintaan domestik sebagai motor pertumbuhan ekonomi.

Hal itu mencakup penguatan sektor swasta serta daya beli masyarakat.

Pemerintah juga berkomitmen menjaga harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya yang bersubsidi, agar tetap stabil di tengah fluktuasi harga minyak dunia.

Selain itu, belanja pemerintah akan digenjot agar terealisasi tepat waktu sesuai kebutuhan.

Baca juga: Mudik Gratis, dari Kebijakan Ekonomi hingga Jalan Pulang Penuh Makna

"Kita akan pastikan belanja-belanja pemerintah yang emang harus dibelanjakan, dibelanjakan tepat waktu," tutup Purbaya.

Tag:  #geliat #ramadhan #lebaran #dorong #pertumbuhan #ekonomi #persen

KOMENTAR