Ketegangan AS dan Iran hingga Sentimen MSCI, Bagaimana Gerak IHSG Sepekan Ini?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 0,03 persen ke level 8.271,767 pada perdagangan Jumat (20/2/2026). Namun naik 0,71 persen selama sepekan atau periode 16-20 Februari 2026.
Investor asing membukukan pembelian bersih (inflow) sebesar Rp 221 miliar di pasar reguler di tengah penguatan tersebut.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menilai penguatan IHSG belum sepenuhnya solid karena pasar masih dibayangi sentimen global, terutama ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kekhawatiran muncul setelah AS dikabarkan bersiap melancarkan serangan terhadap Iran. Di sisi lain, Iran dilaporkan berencana menggelar latihan angkatan laut bersama Rusia, beberapa hari setelah sempat menutup Selat Hormuz selama beberapa jam untuk kepentingan latihan militer.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan global, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati perairan tersebut. Setiap eskalasi di kawasan itu berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
Baca juga: IHSG Naik 0,72 Persen dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Jadi Rp 14.941 Triliun
Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen turut menjadi perhatian pelaku pasar. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI menegaskan fokus kebijakan saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar global.
Penahanan suku bunga dinilai diperlukan untuk mencapai target inflasi 2026, sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Untuk periode perdagangan 23-27 Februari 2026, David memproyeksikan IHSG bergerak dalam rentang support 8.200 dan resistance 8.400. Indeks dinilai akan dipengaruhi perkembangan finalisasi pembahasan proposal antara PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Langkah reformasi pasar modal yang dipaparkan BEI dan OJK kepada MSCI, mulai dari pengelompokan data 28 kategori investor hingga target kenaikan free float minimum 15 persen pada Maret 2026, dinilai menjadi sinyal positif.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat memulihkan kredibilitas dan meningkatkan daya tarik investasi (investability) pasar saham Indonesia di mata global.
“Jika transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen berhasil diimplementasikan dengan tegas, kepercayaan investor asing diprediksi akan kembali pulih,” ujar David lewat keterangan pers, Minggu (22/2/2026).
Baca juga: Harga Emas Dunia Kembali Naik, Dipicu Ketegangan AS dengan Iran
Untuk menghadapi pasar pekan depan, investor dan trader disarankan mengambil pendekatan yang lebih selektif dan defensif. Artinya, fokus diarahkan pada saham-saham dengan fundamental kuat, kinerja keuangan solid, serta likuiditas tinggi.
“Untuk menghadapi pasar minggu depan, baik investor maupun trader sebaiknya bersikap “selective and defensive” dengan fokus pada emiten berfundamental kuat dan likuiditas tinggi di tengah rekor IHSG dan volatilitas global,” paparnya.
“Sementara trader perlu disiplin menerapkan stop loss serta sigap memanfaatkan rotasi sektor ke saham energi, jika tensi geopolitik AS-Iran terus mengerek harga minyak,” saran David.
Sejumlah rekomendasi saham yang disoroti IPOT sebagai berikut:
Saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR). Saham ini direkomendasikan beli di harga Rp 3.070 dengan target harga Rp 3.300 dan stop loss di Rp 2.990. Secara teknikal, SMGR dinilai keluar dari area konsolidasi. Selain itu, volume penjualan semen tercatat tumbuh 11 persen pada Januari 2026.
Harga saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) saat ini Rp 1.810, target Rp 2.000 dan stop loss Rp 1.710. Kenaikan harga emas yang kembali ke level Rp 5.100, serta pergerakan jangka pendek di atas MA5 menjadi katalis positif bagi saham ini.
PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) direkomendasikan buy on breakout di area Rp 1.570, dengan target Rp 1.695 dan stop loss Rp 1.510. Rencana buyback saham hingga 100 miliar, serta kenaikan harga disertai volume tinggi pada perdagangan sebelumnya menjadi faktor pendukung.
Selain saham, IPOT juga merekomendasikan reksa dana saham Premier ETF Pefindo i-Grade (XIPI). Keputusan BI mempertahankan suku bunga di 4,75 persen dinilai sejalan dengan ekspektasi pasar dan konsensus ekonom. Kebijakan ini diambil di tengah tekanan nilai tukar rupiah serta volatilitas arus modal akibat sentimen eksternal, termasuk isu MSCI dan revisi outlook lembaga pemeringkat.
Meski inflasi awal tahun mengalami sedikit kenaikan, BI memilih pendekatan konservatif guna menjaga stabilitas makroekonomi dan daya tarik aset domestik. Secara teknikal, Premier ETF Pefindo i-Grade berpotensi melanjutkan tren penguatannya seiring stabilitas kebijakan moneter dan sentimen reformasi pasar modal.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #ketegangan #iran #hingga #sentimen #msci #bagaimana #gerak #ihsg #sepekan