Di Antara Lumpur yang Mengering, Warga Tamiang Mencari Kesembuhan
Puluhan warga tersampak banjir bandang tengah mengantre untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar BPH Migas dan Kementerian ESDM di area Huntara Danantara, Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (14/2/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni’am)
06:32
15 Februari 2026

Di Antara Lumpur yang Mengering, Warga Tamiang Mencari Kesembuhan

- Muhammad Abianda Saka (1,5) menggeliat di gendongan Irawati (40). Ia menunggu antrean obat di Pos Kesehatan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas).

BPH Migas bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menggelar bakti sosial pemeriksaan kesehatan gratis di halaman Masjid Darussalam, Kampung Simpang Empat, Karang Baru, Aceh Tamiang, Sabtu (14/2/2026).

Wajah Saka pucat. Matanya sayu. Tubuhnya lemas dan gelisah.

“Sakitnya muntah, mencret,” kata Irawati.

Baca juga: Sepekan Jelang Puasa, Korban Banjir Aceh Tamiang Tagih Janji: Tak Ada Bantuan Pemerintah

Irawati merupakan korban banjir bandang akhir November 2025. Rumahnya hilang. Ia kini tinggal di Hunian Sementara yang dibangun Badan Pengelola Investasi Danantara melalui PT Hutama Karya.

Ratusan warga datang sejak pagi. Mereka menunggu di bawah tenda. Udara terasa pengap saat matahari meninggi. Balita dan lansia mendominasi antrean. Banyak yang duduk lemas menunggu dipanggil.Kepala BPH Migas Wahyudi Anas ikut memeriksa stok obat di pos kesehatan di kawasan Huntara Danantara, Aceh Tamiang, dalam acara bakti sosial yang digelar BPH Migas dan Kementerian WSDM, Sabtu (14/2/2026).KOMPAS.com/Syakirun Ni’am Kepala BPH Migas Wahyudi Anas ikut memeriksa stok obat di pos kesehatan di kawasan Huntara Danantara, Aceh Tamiang, dalam acara bakti sosial yang digelar BPH Migas dan Kementerian WSDM, Sabtu (14/2/2026).

Salamah (64) bersandar di kursi plastik. Ia menunggu obatnya selesai diracik.

“(Rumah) bukan hancur, hanyut. Sama sekali enggak ada, habis,” kata Salamah.

Ia juga tinggal di Huntara. Dokter menyebut ia menderita darah tinggi.

“Kolesterol, eh ini darah tinggi,” kata Salamah.

Belasan tenaga kesehatan dari Kementerian ESDM dan Dinas Kesehatan Aceh Tamiang bekerja di tenda darurat. Sebagian memanggil pasien. Sebagian memeriksa dan meracik obat.

“Sudah berapa hari mencretnya?” tanya petugas sambil menyiapkan oralit.

Baca juga: Penyintas Banjir Aceh Tamiang Tagih Janji Bantuan Sebelum Ramadhan

Aceh Tamiang belum sepenuhnya pulih. Pos kesehatan menjadi akses layanan dasar bagi warga terdampak.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan kegiatan ini menargetkan 5.000 warga.

“Kegiatan bakti sosial ini target BPH Migas nanti 5.000 masyarakat baik itu anak-anak sampai orang dewasa dan orang tua,” ujar Wahyudi.Korban banjir bandang Aceh, Muhammad Abianda Saka terkulai di gendongan ibunya, Irawati saat menunggu panggilan antrean obat di Pos Kesehatan yang dibuka BPH Migas dan Kementerian ESDM di kawasan Huntara Dannatara, Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (14/2/2026).KOMPAS.com/Syakirun Ni’am Korban banjir bandang Aceh, Muhammad Abianda Saka terkulai di gendongan ibunya, Irawati saat menunggu panggilan antrean obat di Pos Kesehatan yang dibuka BPH Migas dan Kementerian ESDM di kawasan Huntara Dannatara, Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (14/2/2026).

Layanan menjangkau radius lebih dari 5 kilometer. Pemeriksaan juga digelar di Polindes Seuneubok Cantek pada 15 Februari dan Balai Musyawarah Tanjung Mancang pada 16 Februari.

Petugas menyediakan antibiotik, obat asam lambung, kolesterol, alergi, batuk pilek, penambah darah, vitamin, dan obat lain yang banyak dibutuhkan korban banjir.

“Tadi kita lihat juga obat-obatan sangat cukup ya, sangat cukup untuk diberikan masyarakat dengan durasi antara 1 minggu, 2 minggu dan ada yang 1 bulan,” tutur Wahyudi.

“Semoga ini benar-benar bisa membantu kepada masyarakat yang dapat disembuhkan dari penyakit-penyakit yang saat ini dikeluhkan,” tambahnya.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh Tamiang, dokter Mustakim, menyebut Infeksi Saluran Pernapasan Atas atau Ispa menjadi penyakit terbanyak.

“Baik pelayanan yang berada di titik pengungsian maupun pelayanan yang berada di sini itu adalah yang sangat paling tinggi itu adalah dengan kondisi Ispa. Jadi Infeksi Saluran Pernapasan Atas,” ungkap Mustakim.

Debu sisa lumpur banjir beterbangan saat angin berembus. Kondisi itu memicu gangguan pernapasan.

Mustakim mengimbau warga memakai masker dan mencuci tangan.

“Sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh di dalam pada masa bencana banjir ini,” ujarnya.

Sebanyak 12 dari 15 puskesmas di Aceh Tamiang terdampak banjir. Seluruhnya kembali beroperasi dengan layanan terbatas.

“Alat kesehatan itu kita sudah tidak ada lagi karena sudah terdampak banjir,” tutur Mustakim.

Ia menilai layanan bakti sosial membantu warga yang kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.

“Mudahan-mudahan ini menjadi salah satu bentuk inovasi kepada masyarakat yang dapat memberikan pelayanan di akses-akses yang merupakan diperlukan di prioritas dalam memberikan pelayanan kesehatan,” kata Mustakim.

Tag:  #antara #lumpur #yang #mengering #warga #tamiang #mencari #kesembuhan

KOMENTAR