Luhut Sebut Dana Asing Berpotensi Masuk Rp 1.179 Triliun, Usul Rombak OJK dan BEI
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memaparkan kondisi dan arah reformasi pasar modal Indonesia. Pernyataan itu disampaikan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok dalam beberapa pekan terakhir.
Ia menyinggung proyeksi arus modal asing, kritik tata kelola regulator, hingga usulan perombakan struktur pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
Luhut menyebut arus dana asing berpotensi masuk ke Indonesia sebesar 40 miliar dollar AS hingga 70 miliar dollar AS. Dengan asumsi kurs Rp 16.845 per dollar AS, nilainya setara Rp 673,8 triliun hingga Rp 1.179 triliun.
Baca juga: Luhut Sebut Prabowo dan Trump Teken Tarif Dagang Pekan Depan, Angka Bisa Turun di Bawah 19 Persen?
Proyeksi itu merujuk pada perhitungan Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam diskusi arah reformasi pasar modal nasional. Jika transformasi berjalan maksimal, dana asing yang sempat keluar berpotensi kembali dalam jumlah lebih besar.
“Dan saya yakin seperti MSCI bilang, sembilan kali modal yang outflow akan kembali kira-kira 40-70 billion dollar,” ujar Luhut saat ditemui di kantor DEN, Jakarta Pusat, Jumat (13/2/2026).
Ia menilai kunci realisasi proyeksi tersebut terletak pada reformasi struktural yang konsisten. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat. Pasar modal masih memiliki ruang untuk pulih dan tumbuh lebih sehat.
Luhut mengingatkan praktik manipulatif seperti “saham gorengan” tidak boleh terulang. Praktik itu merusak kredibilitas pasar dan mengganggu kepercayaan investor global.
Sorotan juga diarahkan ke tata kelola OJK. Luhut menilai pola kerja masih terpisah atau “silo-silo”. Model seperti itu dinilai menghambat efektivitas pengawasan dan penegakan aturan di sektor jasa keuangan, termasuk pasar modal.
Ia mengusulkan penguatan kewenangan Ketua OJK, terutama dalam fungsi investigasi. Ketua OJK dinilai perlu menjadi single investigator yang memiliki otoritas melakukan penyelidikan. Ketua juga perlu memiliki kewenangan membatalkan atau membantah keputusan anggota komisioner lain jika tidak sejalan dengan kepentingan pengawasan yang lebih luas.
Pengawasan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut disorot. Luhut mengaku telah mengirim tim berdiskusi dengan otoritas pasar modal terkait kesiapan sistem AI. Otoritas menyatakan telah memiliki teknologi tersebut. Luhut menilai implementasinya belum maksimal.
Baca juga: Luhut: Ekonomi 5 Persen Bukan Prestasi, RI Harus Tembus 8 Persen
Ia mencontohkan pengalaman India. Negara itu dinilai berhasil membalikkan kondisi pasar saham melalui reformasi struktural dan penguatan independensi regulator. India sempat menghadapi praktik serupa. Setelah pembenahan, investasi masuk tercatat 60 miliar dollar AS hingga 70 miliar dollar AS.
“Nah pertanyaannya, kalau India bisa, masa kita nggak bisa? Apa bedanya India dengan kita?” papar Luhut.
Luhut optimistis prospek pasar modal Indonesia tetap cerah, selama praktik manipulatif harga saham tidak terulang. Fundamental makroekonomi dinilai tetap kuat dan mendukung pertumbuhan pasar.
“Jadi market kita saya kira akan bagus ke depan. Tapi tidak bisa lagi digoreng-goreng (saham) seperti yang kemarin,” katanya.
DEN telah melakukan serangkaian pembahasan untuk menyusun rekomendasi yang akan disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto. Pembenahan tata kelola dan penguatan independensi BEI serta OJK dinilai menjadi kunci memulihkan kepercayaan investor.
Pada Jumat (13/2/2026), Luhut dijadwalkan bertemu Presiden Prabowo membahas isu pasar modal, termasuk rencana pergantian Komisioner OJK dan Direksi BEI.
Ia mengisyaratkan pendekatan berbeda dalam menentukan figur. Ruang lebih besar dinilai perlu diberikan kepada anak muda dengan rekam jejak profesional, pengalaman teknis, dan integritas teruji.
“Nah kita sekarang sedang menyiapkan dan finalisasi usulan kita kepada Presiden. Termasuk nanti ya usulan pejabat. Saya juga malah berpikir usulan saya mungkin nanti saya akan lapor Bapak Presiden. Nah cari aja anak muda,” ucap Luhut.
Figur yang dipilih dinilai harus memiliki kredibilitas kuat dan tidak mudah diintervensi kepentingan mana pun.
“Kenapa mesti orang-orang terkenal? Cari anak muda yang punya pengalaman, yang punya kredibilitas, untuk menjadi misalnya di OJK, di pasar modal (BEI), yang tidak bisa diintervensi siapa-siapa,” lanjutnya.
Seluruh kandidat tetap harus mendapat persetujuan Presiden dan berada dalam garis koordinasi yang jelas. Kredibilitas pasar modal dinilai krusial, terutama terkait penilaian lembaga indeks global seperti MSCI.
“Tapi tentu harus punya blessing (persetujuan) dari Presiden, yang bisa laporan ke Presiden setiap waktu. Sehingga betul, karena kredibilitas di pasar modal kita MSCI ini, itu sangat-sangat penting. Dan itu akan membangun saya kira confidence yang besar,” beber Luhut.
Tag: #luhut #sebut #dana #asing #berpotensi #masuk #1179 #triliun #usul #rombak